Tren Efisiensi Otomotif Global Belum Menjalar ke Indonesia

Kenaikan upah minimum kabupaten/kota di sejumlah pusat manufaktur otomotif Tanah Air tidak berdampak signifikan terhadap pabrikan.
Ilman A. Sudarwan
Ilman A. Sudarwan - Bisnis.com 05 Desember 2019  |  17:08 WIB
Tren Efisiensi Otomotif Global Belum Menjalar ke Indonesia
Pengunjung memadati arena Gaikindo Indonesia International Auto Show (GIIAS) 2019, di Tangerang, Banten, Kamis (18/7/2019). - Bisnis/Dedi Gunawan

Bisnis.com, JAKARTA - Kementerian Perindustrian meyakini gejolak industri otomotif global tidak akan memengaruhi kinerja dalam negeri. Efisiensi yang dilakukan sejumlah pabrikan sejauh ini diklaim tak merambat ke Indonesia.

Direktur Industri Maritim, Alat Transportasi, dan Alat Pertahanan Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Putu Juli Ardika mengatakan bahwa di tengah efisiensi di tingkat global, Indonesia justru memiliki daya tarik besar bagi para principal otomotif.

“Pertumbuhan ekonomi nantinya di dunia itu akan pindah menjadi di Asia Pasifik, terutama di Asean salah satunya, di sana akan terjadi pertumbuhan yang luar biasa. Sehingga dengan pertumbuhan ini, industri akan berkembang di Indonesia, di China, India, Thailand, sehingga banyak yang berinvestasi di negara-negara ini,” katanya, Rabu (5/12/2019).

Dia mengatakan bahwa kenaikan upah minimum kabupaten/kota di sejumlah pusat manufaktur otomotif Tanah Air tidak berdampak signifikan terhadap pabrikan. Menurutnya, hal itu lebih banyak memengaruhi kondisi para pelaku industri komponen.

Pihaknya belum menerima laporan dari pabrikan yang akan melakukan efisiensi tenaga kerja. Langkah yang diambil principal di ranah global, katanya, tidak serta-merta diberlakukan di Indonesia.

Salah satu pabrikan yang telah menyatakan akan melakukan efisiensi secara global adalah Nissan Motor Company. Pabrikan terbesar kedua di Jepang itu belum lama ini dikabarkan akan merumahkan sekitar 10.000 karyawanannya secara berkala hingga 2023.

Kendati demikian, Putu mengklaim bahwa hingga saat ini Nissan belum pernah menyampaikan rencana pengurangan tenaga kerjanya di Indonesia. Dia justru meyakini bahwa Nissan memiliki komitmen investasi untuk mengembangkan manufakturnya di Indonesia, termasuk untuk mobil listrik.

“Nissan tidak terlalu menjadi isu, di Indonesia tidak menjadi isu,” ujarnya.

Putu menjelaskan bahwa Nissan menghentikan produksi Datsun Go dan Datsun Go+ di Indonesia. Dua produk ini termasuk ke dalam kendaraan bermotor hemat energi dan harga terjangkau (KBH2). Namun, menurutnya hal keputusan ini tak berarti Nissan akan pergi dari Indonesia.

“Bedakan antara produknya dengan perusahaannya, yang di Nissan itu yang berhenti itu produknya, untuk Datsun Go dan Go+. Tapi Nissan sendiri masih di Indonesia, mereka akan memperdalam manufakturnya di sini untuk produksi mesin di sini dan kendaraannya, bekerja sama dengan Mitsubishi,” ujarnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
industri otomotif

Editor : Galih Kurniawan
KOMENTAR


-->
KOMENTAR


0 Komentar
Urut berdasarkan

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top