Industri Otomotif Bakal Serap Lebih Banyak Aluminium

Penambahan kapasitas produksi alumina refinery dinilai perlu dilakukan lantaran proyeksi pertumbuhan serapan aluminium oleh sektor otomotif di era kendaraan ramah lingkungan.
Annisa Sulistyo Rini
Annisa Sulistyo Rini - Bisnis.com 26 Agustus 2019  |  10:26 WIB
Industri Otomotif Bakal Serap Lebih Banyak Aluminium
Pekerja merakit mobil. - Bisnis.com

Bisnis.com, JAKARTA – Penambahan kapasitas produksi alumina refinery dinilai perlu dilakukan lantaran proyeksi pertumbuhan serapan aluminium oleh sektor otomotif di era kendaraan ramah lingkungan.

Direktur Administrasi, Korporasi, dan Hubungan Eksternal PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) Bob Azzam menuturkan serapan aluminium di sektor otomotif bakal meningkat seiring dengan peningkatan volume penjualan, baik roda dua maupun roda empat. Beberapa komponen otomotif juga mulai beralih dari menggunakan ferro ke aluminium.

"Perpindahan ini dalam rangka mengurangi bobot kendaraan sehingga lebih hemat bahan bakar," katanya.

Adapun, perseroan menyerap aluminium foundry alloy dari PT Inalum untuk produksi velg kendaraan roda empat bermerek Toyota yang diproduksi oleh TMMIN. Pasokan bahan baku komponen otomotif itu akan digunakan untuk produksi velg Kijang Innova, Fortuner, dan Sienta. Penggunaannya akan terus ditambah secara bertahap.

Adapun pabrik alumina refinery di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Galang Batang ditargetkan beroperasi pada 2020, menyusul pembangunan struktur dasar dan gas plant yang tengah dilakukan saat ini. PT Bintan Alumina Indonesia mengincar total investasi Rp17 triliun.

Di sisi lain, PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum) sebelumnya menyatakan akan meningkatkan kapasitas terpasang hingga 500.000 ton pada tahun depan. Adapun, kapasitas produksi perseroan pada saat ini baru sekitar 265.000 ton. Dengan kata lain, produksi alumina nasional pada tahun depan dapat mencapai 1,5 juta ton per tahun.

Asosiasi Produsen Aluminium Ekstrusi serta Aluminium Plate, Sheet & Foil (APRALEX, Sh&F) mencatat konsumsi alumina maupun aluminium sekitar 800.000 ton per tahun. Adapun, konsumsi pada tahun depan diproyeksikan berada pada kisaran 1 juta ton—1,2 juta ton per tahun.

Ketua APRALEX, Sh&F Abubakar Subiantoro mengatakan penambahan kapasitas produksi alumina tersebut masih sejalan dengan pertumbuhan konsumsi domestik. Menurutnya, jika rencana penambahan kapasitas produksi tersebut direalisasikan, volume impor alumina dapat ditekan secara signifikan.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
industri otomotif

Editor : Galih Kurniawan
KOMENTAR


0 Komentar
Urut berdasarkan

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top