Penjualan Melemah, Produsen Mobil Pangkas Jumlah Pekerja

Produsen mobil di China, Amerika Serikat, Jerman, Kanada, dan Inggris telah mengumumkan sedikitnya 38.000 PHK dalam enam bulan terakhir.
Nirmala Aninda | 23 Mei 2019 17:30 WIB
Kendaraan pengangkut mobil Chrysler dari FCA Jefferson North Assembly Plant di Detroit, Michigan, 25 Mei 2018. - REUTERS

Bisnis.com, JAKARTA - Di tengah penurunan penjualan mobil global setelah mencatatkan pertumbuhan selama satu dekade terakhir, sejumlah produsen mobil bersiap untuk memangkas lebih banyak jumlah pekerja untuk menyeimbangkan beban perusahan.

Produsen mobil di China, Amerika Serikat, Jerman, Kanada, dan Inggris telah mengumumkan sedikitnya 38.000 PHK dalam enam bulan terakhir.

"Ini mungkin hanya permulaan," ujar CEO Daimler AG, Dieter Zetsche, seperti dikutip melalui Bloomberg, Kamis (23/5/2019).

Zetsche memperingatkan akan ada pengurangan biaya besar-besaran beberapa waktu ke depan untuk mempersiapkan pergolakan industri yang belum pernah terjadi sebelumnya.

"Industri saat ini tengah menghadapi sebuah penurunan signifikan. Apa yang terjadi di China, pelemahan permintaan, adalah kejutan yang tidak diduga," kata analis Bank of America Merrill Lynch John Murphy di sebuah forum di Detroit.

Beberapa perusahaan bahkan telah melakukan upaya lain seperti mengurangi shift kerja dan menutup sejumlah pabrik yang beroperasi di negara lain. Namun langkah mereka untuk menekan kerugian akan melebihi upaya tersebut.

Gaji pekerja menjadi target pemangkasan beban selanjutnya akibat penjualan yang lesu di dua pasar mobil terbesar dunia, China dan Amerika Serikat, serta perkembangan inovasi kendaraan listrik dan mobil tanpa awak.

Ford Motor Co., mengatakan perusahaan akan mengurangi 7.000 pekerjaan, atau 10 persen dari tenaga kerja kerah putih yang bekerja untuk Ford di seluruh dunia.

Penurunan ini dapat diperburuk oleh tarif yang lebih tinggi atas ancaman AS.

Kelompok perdagangan otomotif yang mewakili selusin produsen mobil terbesar domestik dan asing memperingatkan bahwa kenaikan tarif menempatkan 700.000 pekerjaan Amerika dalam bahaya.

Sementara itu, Toyota Motor Corp. dan industri mobil Jepang mengutuk kemungkinan pengenaan tarif impor mobil dalam sebuah pernyataan yang sangat keras dalam beberapa hari terakhir.

"Perusahaan mobil secara global sedang mempertimbangkan strategi bisnis di mana produksi global memiliki risiko penurunan yang lebih besar," tulis analis Morgan Stanley Adam Jonas dalam sebuah laporan.

Dia mengatakan merumahkan pekerjanya mungkin bukan langkah terakhir dari Ford, dengan perkiraan penurunan pendapatan pada kisaran 5 persen, kemungkinan akan ada pengurangan 23.000 pekerjaan tambahan, dengan asumsi tidak ada biaya lain yang harus dikurangi.

Penjualan global untuk kendaraan (light vehicle) turun 0,5 persen pada 2018 menjadi 94,8 juta, yang menurut LMC Automotive menandai penurunan tahunan pertama dalam penjualan global sejak 2009.

Morgan Stanley memproyeksikan pada Januari penurunan 0,3 persen untuk tahun ini, tetapi perlambatan yang lebih cepat dari perkiraan di pasar China mungkin memiliki dampak yang lebih negatif terhadap penjualan.

"Semuanya dalam pengawasan," kata CEO Daimler, Zetsche, dalam sebuah pesan perpisahan pada pertemuan tahunan di Berlin.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
otomotif, mobil, toyota, ford

Editor : Tegar Arief
KOMENTAR


0 Komentar
Urut berdasarkan

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top