OICA : Mobil Listrik Penting Gantikan Mesin BBM, Tapi Bukan Satu-satunya

Kendaraan listrik menawarkan alternatif penting atas mesin pembakaran dalam (bensin/diesel), namun itu bukan satu-satunya solusi dalam skala global.
Fatkhul Maskur | 22 Oktober 2018 02:00 WIB
Matthias Wissmann, President of the German Association of the Automotive Industry (VDA). - IAI

Bisnis.com, PARIS - Saat General Assembly di Indonesia, Presiden OICA Matthias Wissman telah menggaris-bawahi partisipasi asosiasi kendaraan nasional bahwa kendaraan listrik menawarkan alternatif penting atas mesin pembakaran dalam (bensin/diesel), namun itu bukan satu-satunya solusi dalam skala global.

Saat ini penuh ketidakpastian tentang masa depan teknologi konvensional. Apapun hambatan terhadap teknologi adalah jalan keliru untuk mencapai keseimbangan antara kebijakan teknologi dan perlindungan iklim. Hal ini berarti bahwa industri otomotif global perlu menggunakan pendekatan teknologi-netral.

OICA adalah asosiasi global pabrikan kendaraan bermotor dengan 39 anggota dari berbagai belahan dunia. Anggotanya adalah semua asosiasi dan termasuk ACEA. Semua OEM besar dan merek dari negara-negara Eropa, Rusia, Amerika Serikat, China, Korea, Jepang, India direpresentasikan di OICA oleh organisasi nasional.

OICA General Assembly yang digelar oleh Gaikindo (Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia) membahas masa depan mobilitas individu, digitalisasi, dan terutama sejumlah upaya politik untuk menghentikan teknologi pembakaran dalam dan menggantikannya dengan kendaraan listrik.

"Ketika regulasi pemerintah secara jelas menunjukkan target lingkungan ambisius dengan dampak penilaian terhadap perubahan iklim dan kualitas udara, mereka tidak berpretensi mendikte teknologi itu mampu mencapai target. Industri memikul tanggung-jawab untuk memilih dan menawarkan produk yang disyaratkan kepada konsumen ketika pemerintah memikul tanggung jawab atas netralitas teknologi, terbuka, dan persaingan sehat," ujarnya dalam keterangan pers OICA, Jumat (19/10/2018).

Wissman menambahkan bahwa "Semua pendekatan dibutuhkan untuk dilihat pada semua parameter, ini berarti dari produksi energi pada sumbernya hingga emisi pipa knalpor, apakah masalah gas rumah kaca atau polutan seperti karbon monoksida, nitrogen oksida, atau partikel dan lainnya."

Dia menegaskan bahwa, "Semua pendekatan akan menunjukkan hal tersebut, tergantung pada negara atau kawasan, dan tergantung pada jenis kendaraan dan penggunaannya, yang mungkin menjadi alternatif dari pada mobil baterai listrik. Mesin pembakaran dalam, misalnya plug-in hybrid, menawarkan prospek yang bagus untuk beberapa tahun mendatang untuk hadir dan lebih dari itu dengan alternatif bahan bakar bio atau sintetis."

Soal digitalisasi, Wissman mencatatkan bahwa "Ini menyangkut banyak isu : otomosi kendaraan, konektivitas, keamanan siber, dll. Kerangka regulasi akan dibutuhkan untuk mengarahkan isu ini, dan pabrikan mobil akan aktif mendukung pemerintah secara internasional untuk mengembangkan konsep sertifikasi baru."

"Digitalisasi menawarkan potensi besar, dan konsep mobilitas baru berkembang di samping mobilitas individu, sejumlah konsumen akan tetap menikmati kesenangan berkendara dalam beberapa tahun mendatang."

Tag : Mobil Listrik
Editor : Fatkhul Maskur
KOMENTAR


0 Komentar
Urut berdasarkan

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top