PELEMAHAN RUPIAH/US$ : Market Leader Bertahan, Follower Naikkan Harga

Pelemahan rupiah terhadap dolar Amerika Serikat sejak beberapa bulan terakhir direspons beragam oleh agen pemegang merek kendaraan bermotor. Beberapa merek memutuskan untuk menaikkan harga produknya, meski Toyota yang memimpin pasar masih menahan diri.
Thomas Mola & Yudi Supriyanto | 23 Juli 2018 23:00 WIB
Diler Auto2000. - Bisnis.com

JAKARTA – Pelemahan rupiah terhadap dolar Amerika Serikat sejak beberapa bulan terakhir direspons beragam oleh agen pemegang merek kendaraan bermotor. Beberapa merek memutuskan untuk menaikkan harga produknya, meski Toyota yang memimpin pasar masih menahan diri.

Kurs rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) menembus level penutupan Rp14.084/US$ pada 9 Mei. Setelah sempat bergerak menguat, rupiah melemah ke level Rp14.397/US$ pada 3 Juli. Pada 20 Juli, rupiah kembali ditutup melemah di angka Rp14.495/US$.

Pelemahan rupiah terhadap dolar AS diakui telah berdampak pada perusahaan lantaran sebagian komponen produknya merupakan barang impor.

Wakil Presiden Direktur PT Toyota Astra Motor (TAM) Henry Tanoto, mengungkapkan bahwa pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS berkontribusi terhadap peningkatan harga bahan baku sehingga ada kemungkinan harga mobil akan naik.

Perusahaan sedang memelajari besaran dampak pelemahan rupiah itu terhadap kenaikan biaya, meski secara umumnya berusaha meminimalkan kenaikan harga agar dampak ke pelanggan juga minimal.

“Kami ingin kenaikan harga seminimal mungkin agar dampak ke customer juga minimal. Untuk besar-kecilnya jika ada, kami sedang pelajari,” katanya, baru-baru ini. Dia mengatakan bahwa setiap model Toyota memiliki komponen diimpor dengan kadar berbeda-beda.

Sementara itu, Mitsubishi yang memimpin di segmen pasar low multipurpose vehicle memutuskan untuk menaikkan harga model terlarisnya Xpander Rp2 juta, adapun sport utility vehicle Pajero naik Rp5 juta.

Director of Sales & Marketing Division PT Mitsubishi Motors Krama Yudha Sales Indonesia (MMKSI) Irwan Kuncoro mengatakan, dampak depresiasi rupiah sejauh ini sangat sulit dihindari dengan tidak menaikkan harga.

Namun, dia optimis penjualan Xpander tetap mampu bersaing. “Kami menaikkan harga tentu dengan studi competitiveness [daya saing], value for money-nya. Enggak mungkin naik drastis, setiap tahun harga mobil naik makanya kami lihat dari daya saing, demand-nya sendiri juga.”

Head of Sales & Marketing Grup MMKSI Imam Choeru Cahya menambahkan pabrikan telah menyampaikan kepada diler perihal penyesuaian harga dua produknya itu. Kenaikan harga mulai berlaku 1 Agustus 2018. Penyesuaian harga itu hanya berlaku untuk SPK per 1 Agustus 2018.

Penyesuaian harga bulan depan menjadi yang keempat kalinya Mitsubishi merevisi harga Xpander tahun ini. Jika ditotal kenaikan harga Xpander per 1 Agustus nanti mencapai Rp10 juta.

Selain Mitsubishi, deretan jenama yang telah memutuskan harga adalah Wuling, Tata Motor, Hino, dan Lexus.

Brand Manager PT SGMW Motor Indonesia (Wuling Motors) Dian Asmahani mengungkapkan, pelemahan rupiah terhadap dolar AS tidak berdampak besar mengingat transaksi perusahaan lebih banyak menggunakan Yuan.

Kenaikan harga pada Confero sebesar Rp3 juta karena banyak faktor, seperti biaya produksi, pajak, dan sebagainya yang harus disesuaikan.

Secara terpisah, Direktur Marketing PT Suzuki Indomobil Sales (SIS) Donny Saputra mengatakan, depresiasi rupiah dan kenaikan suku bunga acuan hanya dua dari banyak pertimbangan penyesuaian harga. Faktor lainnya ialah kenaikan biaya produksi, perpajakan, dan persaingan antarmerek.

“Tingkat kompetisi tinggi misalnya pada low MPV yang kisaran Rp180 juta-Rp240 juta. Nah, kalau semua merek tidak naikin harga, itu kaitan dengan berapa [unit] yang mau dijual,” ujarnya.

Donny mengatakan bahwa Suzuki telah mengantisipasi dampak fluktuasi rupiah dengan meningkatkan tingkat kandungan dalam negeri (TKDN). Sebagai contoh, Ertiga telah memiliki TKDN hingga 84%.

Adapun suku bunga acuan akan mempengaruhi bunga pinjaman perusahaan sewa guna usaha (leasing). Namun, sejauh ini belum terlihat penyesuaian. “Dampak suku bunga tidak seketika, leasing bagaimana, apakah menaikkan bunga atau tidak. Sejauh ini tidak ada [kenaikan],” ujarnya.

Kebijakan Harga Agen Pemegang Merek Mobil Merespons Pelemahan Rp/US$

APM Merek

Pangsa

Status

Toyota

-

29,15%

-

Masih dikaji

Berusaha minimalkan kenaikan harga

 Mitsubishi

18,08%

Naik harga per 1 Agustus 2018

Xpander Rp2 juta, Pajero Rp5 juta

Daihatsu

17,14%

Masih dikaji

Honda

13,85%

Masih dikaji, tergantung waktu berapa lama

Suzuki

11,00%

Masih dikaji, tidak menutup kemungkinan naik harga

Hino

3,05%

Naik harga 1%—2%

Lebih rendah dari pelemahan rupiah terhadap dolar AS.

Pertimbangan bisnis konsumen

Isuzu

2,04%

Masih kaji 

Biaya produksi terdampak penguatan dolar AS

Wuling

1,47%

Naik harga, Confero Rp3 juta

Bukan karena pengaruh dolar AS

Penyesuaian terhadap biaya produksi

Confero Rp3 juta 

BMW Indonesia

0,24%

Tidak naik harga

Kenaikan setiap tahun bukan karena penguatan dolar AS 

Lebih mengacu pada euro

Lexus

0,14%

Naik harga 5%-10%

Hyundai 

0,11%

Masih dikaji dampak depresiasi rupiah

Tata Motors

0,10%

Naik harga, penyesuaian regeler 3 bulanan

KIA

0,02%

Tidak naik harga

Lihat kompetitor

DFSK

0,07%

Tidak naik harga

Glory 580 komponen lokal < 60%

Sementara itu, Co-CEO PT Sokonindo Automobile (DFSK) Alexander Barus memutuskan untuk tidak menaikkan harga sport utility vehicle Glory 580 meskipun komponen lokalnya masih di bawah 60%. SUV Glory 580 diluncurkan pada April 2018 dengan harga Rp245,9 juta—Rp308 juta.

Langkah itu diambil juga mengingat perusahaan merupakan pemain baru di Indonesia. “Kami tahu, kami harus berkorban. Berkorban artinya mungkin margin kami jadi sedikit sekali,” katanya.

Dengan alasan berbeda, BMW juga tidak melakukan penyesuaian harga. Jodie O’tania, Vice President of Corporate Communications BMW Group Indonesia, mengungkapkan pelemahan rupiah terhadap dolar AS tidak berdampak lantaran transaksi yang dilakukan mengacu pada euro.

Penyesuaian harga, lanjutnya memang selalu ada setiap tahunnya. Akan tetapi, kondisi tersebut bukan karena penguatan mata uang Paman Sam meskipun terdapat komponen yang dikirimkan dari Amerika Serikat.

Sekretaris Umum Gaikindo Kukuh Kumara berharap depresiasi rupiah dan kenaikan suku bunga hanya sementara alias jangka pendek. Namun, jika tetap bertahan seperti kondisi saat ini, penyesuaian harga dapat menjadi pilihan. “Kalau bertahan, baru kita lihat dulu, sebab kalau dinaikin harganya, volume turun nanti.”

 

Tag : Harga Mobil, Kurs Rupiah
Editor : Fatkhul Maskur
KOMENTAR


0 Komentar
Urut berdasarkan

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top