ALEXANDER KOTOUC : Pemerintah Harus Dorong Kebijakan Masa Depan

Salah satu pabrikan itu adalah BMW. Pabrikan asal Bavaria ini telah membangun lini produk BMW i8 yang digadang-gadang sebagai mobil listrik kategori sport, serta jajaran mobil bermesin hibrida BMW i3.
Kahfi | 03 Juli 2018 21:05 WIB
Head of Product Management BMW i Alexander Kotouc. - BMW

Bisnis.com, SINGAPURA – Pabrikan otomotif dunia berbondong mengembangkan teknologi kendaraan bermotor rendah emisi karbon untuk menciptakan lingkungan yang lebih bersih. Hasilnya, produk otomotif bertenaga hidrogen, listrik, hibrida, bahkan gas.

Salah satu pabrikan itu adalah BMW. Pabrikan asal “Bavaria” ini telah membangun lini produk  BMW i8 yang digadang-gadang sebagai mobil listrik kategori sport, serta jajaran mobil bermesin hibrida BMW i3.

Untuk lebih jauh menyingkap kesiapan dan strategi masa depan BMW memasarkan produk mobil listrik tersebut, Bisnis berkesempatan mewawancarai Head of Product Management BMW i Alexander Kotouc di sela pameran Innovest Unbound di Singapura, beberapa waktu lalu. Perikut petikannya:

Apa yang tengah disiapkan BMW dalam mengembangkan mobil listrik?

Pada 2025, kami telah menyiapkan 25 mobil listrik baru. Sebanyak 12 mobil di antaranya bertenaga listrik secara penuh, sisanya mesin hibrida.

Kami mempunyai hub inovasi untuk mengembangkan teknologi masa depan. Mobil listrik merupakan solusi masa mendatang, karena itu kami menyiapkan strategi yang sifatnya evolusi maupun yang paling revolusioner.

Bisa Anda jelaskan bagaimana tren pasar mobil listrik?/

Bisa dibilang, pangsa pasar global mobil listrik masih terbilang kecil. Namun secara lebih mendetil lagi, dari data yang ada menunjukkan pergerakan atau pertumbuhan signifikan.

Dalam 5 tahun belakangan, tingkat pertumbuhan mobil listrik secara global tumbuh lebih dari dua kali lipat. Apabila dibandingkan dengan jenis lain, pertumbuhan mobil listrik paling besar.

Bisa dirincikan terkait urgensi dan benefit bagi konsumen yang selama ini lebih nyaman dan mudah menjangkau mobil bermesin konvensional, khususnya di Indonesia?

Urgensinya adalah bahwa mobil listrik itu solusi masa depan, karena mobil ini ramah lingkungan, tanpa mengeluarkan emisi karbon. Dari sisi konsumen, mereka akan mendapatkan banyak benefit, yang bisa dihitung secara ekonomis.

Saya menyimpulkan penggunaan mobil listrik 1/3 lebih murah dibandingkan mobil bermesin konvensional. Harga listrik bisa jauh lebih murah, tidak ada biaya oli juga.

Selain itu, tak menutup pengembangan penggunaan tenaga surya. Ke depan dimungkinkan atap mobil merupakan panel surya untuk pengisian tenaga listrik kendaraan.

Secara emosional, konsumen mempunyai nilai-nilai yang futuristik menjadi bagian masa depan. Berkendara tanpa menghasilkan emisi karbon,  juga tidak ada polusi suara.

Terkait produk terkini, BMW i8 yang merupakan mobil listrik kategori sport, apa pertimbangan BMW?

Konsumen dapat pilihan yang banyak, karena mobil listrik itu solusi masa depan, sehingga akan mencakup juga sportcar. Mereka mendapatkan apa yang mereka bayar, yaitu teknologi ramah lingkungan, serta efisien tanpa kehilangan impresi mobil sport.

Pada BMW i8, kami menyematkan mesin sekecil mungkin yaitu mesin 3-silinder. Kami bermaksud membangun super sportscar dengan konsumsi bahan bakar setara mobil kecil. Kalau dihitung secara konvensional, konsumsi bahan bakarnya itu 2,1 liter/100 km. BMW i8 merupakan pengembangan terkini buat kami.

Teknologi otonom juga mencuri perhatian global. Adakah rencana pengembangan lebih jauh BMW?

Kami akan menghadirkan jajaran BMW iNext. Proyek tersebut merupakan pengembangan teknologi listrik dan otonom level 3, pada satu produk. 

Untuk produksi pun akan dilakukan meski tidak besar untuk produk otonom level 4, selanjutnya visi kami pada 2030 adalah Robotaxi, atau teknologi otonom level 5.

Terkait penetrasi pasar, bagaimana BMW memandang pasar negara berkembang, semisal Indonesia untuk produk-produk berteknologi canggih, mulai dari mobil listrik hingga otonom?

Saya mencermati semua negara dan pemerintah mengarahkan kebijakan kepada industri yang ramah lingkungan, termasuk otomotif. Sejauh ini, pemerintah tiap negara terlihat gencar melakukan diskusi dan duduk bersama untuk merealisasikan hal tersebut, sebab memang pemerintah harus siap mendorong kebijakan masa depan ini.

 Pewawancara: Kahfi

Sumber : Bisnis Indonesia, Senin (2/6/2018)

Tag : Mobil Listrik, BMW Group Indonesia
Editor : Fatkhul Maskur
KOMENTAR


0 Komentar
Urut berdasarkan

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top