Ini 8 Mitos Seputar Minyak Pelumas

Seringkali kita dengar ada sejumlah mitos berkaitan dengan oli ini. Technical Specialist PT.Pertamina Lubricants, Agung Prabowo, mencatat setidaknya ada 8 mitos yang seringkali diperbincangkan oleh para pemilik kendaraan.
Yusran Yunus | 04 April 2018 15:34 WIB
Agung Prabowo - ist

Bisnis.com, JAKARTA - Minyak pelumas atau oli memiliki peranan sangat penting dalam memelihara performa mesin kendaraan baik pada kendaraan roda empat (4W) maupun roda dua (2W).

Dengan pemeliharaan oli yang dilakukan secara kontinu dan terukur, performa mesin kendaraan dapat terjaga dengan optimal dan membuat pengendara maupun penumpang menjadi lebih nyaman. Dan yang lebih penting, usia pakai mesin bisa semakin panjang.

Nah, dalam keseharian, seringkali kita dengar ada sejumlah mitos berkaitan dengan oli ini. Technical Specialist PT.Pertamina Lubricants, Agung Prabowo, mencatat setidaknya ada 8 mitos yang seringkali diperbincangkan oleh para pemilik kendaraan.

Pada kesempatan berdiskusi dengan puluhan wartawan otomotif di Bogor, Jawa Barat, belum lama ini, Agung membeberkan ke-8 mitos tersebut, begini uraiannya:

1. Sering terjebak kemacetan, berarti lebih cepat ganti oli

Oli diganti karena oli stres, rusak atau penurunan performance dan menghilangkan 3 fungsi utama Lubricants, yang mana salah satu penyebab stresnya oli disebabkan karena umur pemakaian. Kalau di dunia maintenance disebut operating statistic (hours, odometers, days/month, dll).

2. Sering gonta-ganti merek oli membuat mesin kendaraan rusak

Mitos satu ini sudah pasti sering terdengar dan membuat banyak pengendara mobil berpikir berkali-kali sebelum mengganti oli yang dipakai dengan merek lain.

"Mitos ini setengah benar. Sering menggonta-ganti merek oli mesin kendaraan memang bisa menyebabkan kerusakan pada mesin, namun bila dilakukan dengan cara yang salah," katanya.

Pada dasarnya, setiap merek oli memiliki formulasi dan senyawa yang berbeda-beda. "Nah, percampuran antara senyawa yang berbeda inilah yang dapat menimbulkan endapan dan berdampak buruk pada performa mesin kendaraan".

Untuk menghindari dampak buruk tersebut, usahakanlah untuk melakukan flashing yaitu menguras mesin dari sisa-sisa oli lama yang tertinggal, sebelum menggantinya dengan oli merek lain.

3. Warna Oli pekat berarti harus ganti oli

Kebanyakan orang memang menjadikan perubahan warna oli sebagai indikator waktu untuk mengganti oli kendaraan. Padahal, perubahan warna oli menjadi lebih pekat justru merupakan hal yang wajar.

Warna pekat pada oli sebenarnya adalah hasil kerja dari oli tersebut dari mengumpulkan partikel-partikel kecil dan
mengikatnya agar tidak menjadi endapan. Hal ini sering ditemukan pada oli yang mengandung deterjen sebagai aditive-nya.

"Tidak perlu khawatir, hal ini pun tidak akan menghalangi fungsi oli tersebut. Jadi perubahan warna oli tidak bisa menjadi
patokan sebagai waktu yang tepat untuk ganti oli mesin sepeda motor".
foto: ist

4. Perlu mengganti oli setiap mobil setiap 1.000

"Jawabannya salah". Setiap mobil memiliki sistem penggantian oli yang bervariasi sesuai dengan jenis kendaraan tersebut.

Meskipun beberapa produsen kendaraan merekomendasikan ganti oli setiap 3.000 mil, produsen yang lain mungkin merekomendasikan pergantian oli setiap per 7.000 mil.

"Jika masih ragu, maka mengaculah pada buku panduan mobil," katanya.

5.  Harus selalu mengganti oli mobil sebelum melakukan perjalanan panjang

Untuk mitos yang satu ini, sangat tergantung pada situasi. Para pengendara memang dianjurkan mengecek oli mobil saat
melakukan perjalanan jauh untuk menjaga kinerja mesin tetap prima. Jika perlu, seminggu atau tiga hari sebelum perjalanan pastikan oli mesin sudah diganti.

Bagaimana mengenali secara fisik oli itu baik atau tidak?  "Begini, jika 1.000 km - 1.500 km warnanya tetap jernih berarti olinya kurang baik karena tidak berfungsi untuk membersihkan kotoran yang terbentuk akibat pembakaran campuran bahan bakar dan udara di mesin".

6. Jika dari awal memakai oli sintetis maka untuk seterusnya harus memakai oli sintetis
foto: ist

"Tentu saja ini super salah. Faktanya, beralih pilihan antara minyak sintetis dan konvensional benar-benar tidak membahayakan mesin. Yang perlu dipastikan adalah memastikan oli yang digunakan memenuhi persyaratan dalam buku manual, termasuk BBM-nya".

7. Oli sintetis dapat menyebabkan kebocoran minyak

Saat oli sintetis pertama kali diperkenalkan pada 1970-an, diketahui menyebabkan segel di mesin mobil menyusut sehingga memicu kebocoran oli mobil.

Namun seiring dengan kemajuan dalam teknologi minyak sintetis yang telah dibuat dalam 30 tahun terakhir ini, minyak sintetis tidak lagi menyebabkan segel menyusut sehingga tidak memicu kebocoran.

8. Tidak perlu mengganti filter oli setiap kali mengganti oli

"Yang justru harus dilakukan adalah mengubah filter oli saat melakukan pergantian oli. Dengan mengganti filter oli bersamaan dengan pergantian pelumas, akan mengurangi potensi kerusakan mesin kendaraan," tuturnya.

foto: ist

Tag : minyak pelumas
Editor : Fajar Sidik
KOMENTAR


0 Komentar
Urut berdasarkan

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top