Pasar Akan Dorong Penggunaan Energi Bersih

Bisnis.com, JAKARTAPasar akan mendorong penggunaan energy bersih untuk sektor transportasi terlebih, ketika harganya semakin murah dibandingkan energi fosil.
Duwi Setiya Ariyanti
Duwi Setiya Ariyanti - Bisnis.com 04 September 2017  |  11:23 WIB

Bisnis.com, JAKARTA—Pasar akan mendorong penggunaan energy bersih untuk sektor transportasi terlebih, ketika harganya semakin murah dibandingkan energi fosil.

Anggota Dewan Energi Nasional Rinaldy Dalimi mengatakan dalam Rencana Umum Energi Nasional (RUEN) telah diatur bahwa penggunaanbahanbakarminyak (BBM) akan semakin turun porsinya dan digantikan dengan energi lain seperti bahan bakar nabati, gas juga listrik.

Dalam RUEN, disebutkan bahwa dari porsi BBM sebesar 96% pada 2015, porsinya akan menyusut menjadi 83,5% pada 2025. Porsinya terus turun hingga menyentuh 72,9% pada 2050 seiring dengan bertambahnya penggunaan bahan bakar lain yakni bahan bakar nabati, gas bumi dan listrik.

Untuk mencapai hal tersebut, pembangunan stasiun pengisian bahan bakar gas (SPBG) diharapkan bisa tercapai sebanyak 632 unit dengan total kapasitas 282 juta kaki kubik per hari (million standard cubic feet per day/MMscfd) di 15 kota pada 2025. Angka ini ditargetkan naik pada 2050 dengan tambahan SPBG menjadi 2.888 unit dengan total kapasitas 1.291 MMscfd.

Sementara itu, untuk kendaraan bertenaga listrik atau hybrid ditargetkan bisa menyentuh 2.200 unit kendaraan roda empat dan 2,1juta unit kendaraan roda dua.

Kendati demikian, dalam RUEN tidak diatur bahwa nantinya hanya akan ada satu jenis bahan bakar untuk sektor transportasi.

"Di RUEN tidak ada mengerucut ke satu bahan bakar, tetapi BBM secara gradual akan digantikan oleh gas, listrik, BBNabati. Tapi keyakinan pribadi saya, tidak ada dalam RUEN pasar yang akan mendorong penggunaan mobil listrik terutama setelah listrik dari solar cell lebih sudah murah dari BBM," katanya saat dihubungi Bisnis, Jumat (28/7/2017).

 Baca Juga: Indonesia Belum Siap Hadapi Era Mobil Listrik

Menurutnya, perubahan skenario terhadap kebutuhan energi untuk sektor transportasi memang seharusnya sudah dipikirkan secara detail. Khususnya, penggunaan bahan bakar yang semakin rendah emisinya. Adapun, perubahan penggunaan energy pada sector transportasi dicanangkan dari sektor industri manufaktur. Sebagai contoh, dia menyebut komitmen beberapa Negara seperti Prancis dan Jerman yang menghapus mobil berbahan bakar minyakpada 2040 serta Swedia dan Belanda yang mulai 2025 tak lagi menjual mobil yang mengonsumsi BBM.

"Untuk itu, Indonesia seharusnya ada skenario kapan mobil listrik akan diperbolehkan secara massal, karena harus sinkron dengan perencanaan sektor tenaga listrik," katanya.

Adapun, untuk ketersediaan stasiun pengisian listrik atau charging station akan terbangun bila mobil listrik telah diproduksi secara massal. Dia menuturkan sebenarnya charging station sudah tersedia ketika mobil listrik didemonstrasikan dalam kesempatan Asia Pacific Economic Cooperation (APEC) 2013.

Di sisi lain, terkait RUEN yang telah diterbitkan, saat ini daerah sedang merumuskan Rencana Umum Energi Daerah (RUED). Dengan demikian, arah penggunaan bahan bakar untuk sektor transportasi hingga 2025 dan 2050 di daerah bisa selaras dengan RUEN.

"RUED sedang disusun oleh masing-masing Pemda Provinsi," kata Rinaldy.

Sebelumnya, Staf Khusus Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Hadi Djuraid mengatakan dalam hal pemilihan bahan bakar, pihaknya hanya menekankan agar bahan bakar minyak berkurang penggunaannya. Mengingat, kemampuan produksi BBM dalam negeri begitu besar selisihnya dengan konsumsi BBM nasional. Kilang minyak dalam negeri hanya bisa menghasilkan BBM sekitar 800.000 barel per hari (bph) saat konsumsi BBM telah menyentuh 1,6jutabph.

"Concern kita pada penggunaan energi fosil yang semakin berkurang, BBM berkurang juga. Sehingga impor kita juga lebih berkurang. Jadi kita punya concern mendorong energy bersih," katanya.

Di samping itu, teknologi terus bergeser kepenggunaan bahan bakar yang lebih ramah  lingkungan. Begitu pula dengan munculnya mobil listrik yang diyakini bisa semakin murah harganya. Terlebih, terdapat produsen kendaraan yang telah berkomitmen untuk menghentikan produksi mobil berbahan bakar minyak. Kondisi ini, katanya, akan menekan pilihan masyarakat dari semula mobil berbahan bakar minyak ke mobil berbahan bakar listrik.

Kendati demikian, dia menyebut belum terdapat rencana yang begitu detail terkait penyediaan energi terkait asumsi mobil listrik yang akan mengaspal.

"Itu belum sampai kesana. Ini sebetulnya lebih kepada dorongan. Agar semua pihak berpikir ke arah sana," katanya

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
tmmin, KemandirianOtomotif

Editor : MediaDigital
KOMENTAR


0 Komentar
Urut berdasarkan

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Top