Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Industri Otomotif: Penjualan Ritel Turun 22%

Kinerja penjualan secara ritel kendaraan roda empat periode Januari 2015 mengalami penurunan 22,2%, dari sekitar 104.377 unit pada Desember tahun lalu.
Kahfi
Kahfi - Bisnis.com 19 Februari 2015  |  23:07 WIB
Ilustrasi: Mobil-mobil melintas di jalur protokol Kota Jakarta - Antara
Ilustrasi: Mobil-mobil melintas di jalur protokol Kota Jakarta - Antara

Bisnis.com, JAKARTA- Kinerja penjualan secara ritel kendaraan roda empat periode Januari 2015 mengalami penurunan 22,2%, dari sekitar 104.377 unit pada Desember tahun lalu menjadi 81.193 unit. Hal ini masih dinilai wajar dikarenakan baru bergulirnya roda bisnis dunia usaha.

Penjualan secara ritel pada Desember 2014 itu telah menggenapi raihan sepanjang tahun tersebut hingga mencapai 1,19 juta unit.

Alhasil, jika dibandingkan dengan penjualan secara wholesales pada 2014 yang mencapai 1,208 juta unit, maka masih terdapat stok sekitar 13.381 unit, lebih tinggi 21,6% dari stok tahun akhir tahun sebelumnya sebanyak 11.001 unit.

Raihan Desember itupun meningkat sekitar 9,6% dari bulan sebelumnya yang hanya 95.149 unit.

Hal tersebut terjadi seiring gencarnya upaya masing-masing APM menyusutkan stok dari diler-diler dengan mengumbar diskon besar-besaran pada akhir tahun. 

Lantaran demikian, penjualan ritel pada awal tahun selanjutnya biasanya lebih rendah. Sebagaimana  terjadi pada Januari 2015, penjualan ritel masih lebih rendah ketimbang wholesales  sebanyak 94.149 unit yang mengalami penaikan signifikan dari Desember tahun lalu sekitar 78.802 unit. 

Stok hingga akhir Januari diperkirakan mencapai 13.001 unit, lebih tinggi dari besaran saat tutup tahun kemarin.

Tidak hanya itu, ritel pada Januari ini pun dianggap sebagai capaian terendah sepanjang enam bulan terakhir.

Ketua I Gaikindo Jongkie D Sugiarto menengarai adanya kesulitan masing-masing agen pemegang merek (APM) mengirimkan produk ke tangan konsumen.

Menurutnya, diler-diler agak terhambat memproses pembelian para konsumen dikarenakan pada Januari biasanya terjadi kelesuan akibat baru mulai bekerjanya dunia usaha.  

Dia menilai kinerja ritel  harus jadi pegangan untuk memastikan kondisi pasar domestik. Karena itu, lanjut Jongkie, harus ada perbaikan di bulan selanjutnya. “Kami akan melihat kinerjanya kembali di Februari,” katannya kepada Bisnis.

Di sisi lain, Jongkie menyimpulkan jika selisih wholesales dan ritel pada Januari masih dianggap wajar.

Dia memandang, stok normal tidak melampaui jumlah penjualan bulanan seluruh merek yang sejauh ini berkisar di angka 100.000 unit. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

industri otomotif penjualan mobil
Editor : Saeno

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Banner E-paper
To top