Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Program Angkutan Murah Perdesaan Butuh Dukungan Perbankan

Pemerintah dalam hal ini Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menilai pengembangan program angkutan murah di perdesaan harus mendapat dukungan finansial dari perbankan. Tujuannya, untuk meningkatkan daya beli masyarakat yang menjadi calon konsumen.
Dini Hariyanti
Dini Hariyanti - Bisnis.com 01 Desember 2013  |  17:35 WIB
Program Angkutan Murah Perdesaan Butuh Dukungan Perbankan

Bisnis.com, JAKARTA — Pemerintah dalam hal ini Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menilai pengembangan program angkutan murah di perdesaan harus mendapat dukungan finansial dari perbankan. Tujuannya, untuk meningkatkan daya beli masyarakat yang menjadi calon konsumen.

Menteri Perindustrian M.S. Hidayat menyatakan bantuan perbankan yang dimaksud lebih kepada fasilitas pembiayaan berbunga rendah. “Ini karena segmen konsumen petani daya belinya terbatas jadi kita bantu mereka dengan pembiayaan seperti KPR,” tuturnya di Jakarta, akhir pekan lalu (30/11/2013).

Dengan kata lain, insentif pengembangan angkutan perdesaan bukan hanya disalurkan kepada badan usaha milik negara (BUMN) agar lebih bernafsu menggarapnya tapi juga kepada calon konsumen. Ini diperlukan mengingat profit bisnis angkutan perdesaan tak terlalu menggiurkan.

“BUMN belum ada yang tertarik karena pasarnya itu berbeda [dibandingkan passenger car], ini untuk petani diperdesaan. Dulu kerja sama dengan PT Inka akhirnya berhenti di tengah jalan,” ucap Hidayat.

Sementara itu, Direktur Jenderal Industri Unggulan Berbasis Teknologi Tinggi (IUBTT) Kemenperin Budi Darmadi mengatakan program angkutan perdesaan sebetulnya sudah dirintis sejak 13 tahun lalu melibatkan BUMN. Proyek ini mandeg di tengah jalan karena terbentur aspek ekonomis.

“Pertanyaannya, barang itu waktu dijual ke konsumen berapa harganya? Kalau Rp150 juta ya tidak laku. Tapi kalau di bawah itu nanti PT Inka yang rugi,” tuturnya.

PT Inka adalah BUMN yang sempat mengembangkan prototip angkutan perdesaaan bernama Gea beberapa tahun lalu. Kendaraan menyerupai pikap yang bisa dikonversi menjadi kendaraan penumpang itu telah melalui uji prototip tapi belum sampai uji produksi apalagi komersil.

Menurut Budi, bukannya pemerintah tak berdaya mendorong pengembangan angkutan tersebut. Tapi, bagaimanapun setiap BUMN memiliki jajaran direksi yang memegang wewenang untuk memutuskan segala sesuatu menyangkut bisnis perseroan.

“Seharusnya, setelah buat prototip dilakukan uji produksi dan uji komersil atau dijual. Lalu, lihat apa saja complain yang muncul dari konsumen. Biasanya butuh waktu setahun untuk ini,,” ujar dia kepada wartawan.

Program angkutan perdesaan merujuk kepada Perpres No.15/2010 pada Klaster IV Program Pro Rakyat. Program angkutan umum murah ini dicanangkan sejak 2 tahun lalu melalui pembuatan platform pikap yang bisa dikonversi menjadi passenger car.

Pembuatan prototipenya digarap Kemenperin bersama Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT). Diskusi, survei kebutuhan komponen, dan spesifikasi angkutan pedesaan murah ini berlangsung sejak 2011.

Kapasitas mesin angkutan berkonsep pikap yang bisa dikonversi jadi kendaraan penumpang itu agaknya tak lebih dari 1.000 cc. Selain Gea, ada 2 merek lokal lain yang sempat diujicobakan yakni Tawon dan Viar.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

mobil murah
Editor : Martin Sihombing

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini

Terpopuler

Banner E-paper
back to top To top