Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Amerika Prediksi Masih Kekurangan Chip Semikonduktor Tahun Ini

Kekurangan chip semikonduktor secara global telah memengaruhi segalanya, mulai dari industri, video game, hingga manufaktur otomotif.
Petugas berdiri di dekat deretan mobil baru yang terparkir di PT Indonesia Terminal Kendaraan atau IPC Car Terminal, Cilincing, Jakarta, Kamis (11/2/2021). /Antara Foto-Aprillio Akbar.
Petugas berdiri di dekat deretan mobil baru yang terparkir di PT Indonesia Terminal Kendaraan atau IPC Car Terminal, Cilincing, Jakarta, Kamis (11/2/2021). /Antara Foto-Aprillio Akbar.

Bisnis.com, JAKARTA - Departemen Perdagangan Amerika Serikat mengeluarkan riset yang menyebutkan bahwa krisis chip semikonduktor ini akan bertahan hingga 2022. 

Krisis chip semikonduktor secara global telah memengaruhi segalanya, mulai dari industri video game hingga manufaktur otomotif. 

Dilansir dari RideApart, riset tersebut mengatakan permintaan di AS  termasuk yang tertinggi di dunia, di mana 80 persen chip semikonduktor diproduksi di Asia. Dengan demikian, ketergantungan pada buatan luar negeri tadi telah menurunkan persediaan chip yang tersedia untuk mobil-mobil buatan Amerika Serikat.

Pada 2019, perusahaan-perusahaan AS melaporkan memiliki pasokan microchip yang mampu bertahan hingga 40 hari. Pada akhir 2021, banyak dari merek yang sama hanya memiliki persediaan lima hari.

"Tidak ada toleransi bagi kesalahan saat produksi sehingga perlu chip semikonduktor lebih dari yang seharusnya. Hal ini menandakan betapa rapuhnya rantai pasokan chip," ujar Gina Raimondo, Sekretaris Departemen Perdagangan Amerika Serikat seperti dikutip, Selasa (1/2/2022). 

Akibat kekurangan ini, Departemen Perdagangan Negeri Paman Sam melakukan survei terhadap 150 perusahaan pada 2021.

Raimondo mengatakan ada ketidaksesuaian yang signifikan dan terus-menerus dalam pasokan dan permintaan chip. Responden melihat masalah itu belum akan hilang dalam enam bulan ke depan. 

Seperti diketahui, kekurangan pasokan chip semikonduktor telah membuat harga mobil baru di Amerika Serikat naik sekitar 15 persen. Sedangkan produk elektronik naik 10 persen lebih tinggi.

Sejauh ini, Intel Corporation berusaha menjawab kebutuhan chip semikonduktor dengan rencana untuk membangun dua pabrik semikonduktor baru di Ohio.

Sedangkan Samsung Electronics juga akan menginvestasikan US$17 miliar dolar dalam fasilitas baru yang memproduksi chip canggih di Taylor.

Namun, kedua perusahaan membutuhkan waktu untuk menjawab kebutuhan chip. Sementara permintaan konsumen tidak akan berkurang dalam waktu dekat.

"Permintaan chip tinggi. Semakin tinggi dalam jangka waktu yang belum diketahui," pungkas Raimondo.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Penulis : Khadijah Shahnaz
Sumber : RideApart
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper