Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Indonesia Jaga Asa Mobil Listrik

Sejumlah pabrikan melaporan capaian gemilang penjualan mobil listrik di tengan pasar otomotif yang melesu di berbagai belahan dunia. Indonesia juga telah lama mengungkapkan ambisi menjadi basis produksi kendaraan setrum. Apa kabarnya?
Newswire
Newswire - Bisnis.com 26 Juli 2020  |  21:00 WIB
Bus listrik Transjakarta melintas di Terminal Blok M, Jakarta, Senin (13/7/2020). Bisnis - Eusebio Chrysnamurti
Bus listrik Transjakarta melintas di Terminal Blok M, Jakarta, Senin (13/7/2020). Bisnis - Eusebio Chrysnamurti

Bisnis.com, JAKARTA - Sejumlah pabrikan melaporan capaian gemilang penjualan mobil listrik di tengan pasar otomotif yang melesu di berbagai belahan dunia. Indonesia juga telah lama mengungkapkan ambisi menjadi basis produksi kendaraan setrum. Apa kabarnya?

Ambisi Indonesia menjadi produsen mobil listrik telah dituangkan dalam peta jalan industri otomotif, yang mana Program Low Carbon Emission Vehicle (LCEV) telah dimulai sejak 2017, dan produksi kendaraan listrik dan komponennya ditargetkan telah dimulai pada 2022.

Komitmen Indonesia menjadi produsen kendaraan listrik juga telah dikuatkan dengan hadirnya Perpres Nomor 55 Tahun 2019 tentang Percepatan Program Kendaraan Bermotor Listrik Berbasis Baterai (Battery Electric Vehicle) untuk Transportasi Jalan.

Perpres ini menandakan kebangkitan Indonesia untuk menjadi produsen kendaraan listrik. Saat ini, tidak sedikit agen pemegang merek telah mengenalkan produk kendaraan listriknya, meski catatan penjualannya masih tetap minim.

"Kita tentunya tidak ingin menjadi importir kendaraan terus-menerus, tapi harus bisa memproduksi kendaraan listrik," kata Penasehat Khusus Bidang Kebijakan Inovasi dan Daya Saing Industri Kementerian Koordinator Maritim dan Investasi Satryo Soemantri Brodjonegoro saat dihubungi di Jakarta, Minggu (26/7/2020).

Dari sisi teknologi, menurutnya, sebenarnya Indonesia sudah bisa menguasai. Selain itu Indonesia juga memiliki cadangan bahan baku berupa nikel dan kobalt sangat besar untuk dikembangkan menjadi industri baterai lithium sebagai komponen utama kendaraan listrik.

Pemerintah juga mendorong swasta yang selama ini mengimpor kendaraan listrik untuk segera membangun pabrik kendaraan listrik di Indonesia dengan menggandeng prinsipal dari luar negeri.

Pada tahap pertama Indonesia akan mencoba mengembangkan dua hal. Pertama, mengembangkan kendaraan bermotor listrik berbasis baterai, dan kedua mengembangkan baterai lithium sebagai komponen penggerak utama dari kendaraan listrik.
"Harus berjalan paralel. Pengembangan kendaraan dan baterai, jalan bersama," katanya.

Oleh karena itu, pemerintah menawarkan ke negara yang sudah lebih maju di bidang industri ini untuk bekerja sama. Pemerintah telah membentuk tim untuk menyiapkan pengembangan industri baterai lithium.

Secara paralel, Indonesia juga mengundang investor asing untuk membangun pabrik kendaraan listrik di dalam negeri.

“Sudah ada beberapa yang berminat untuk berinvestasi. Kita tentunya ingin bukan hanya membeli kendaraan listrik saja tapi juga bisa mendapatkan manfaat transfer teknologi sehingga dalam jangka panjang Indonesia bisa menjadi produsen kendaraan listrik," katanya.

Dikatakan Satryo, ada tiga aspek yang ingin dicapai dengan keluarnya Perpres Nomor 55. Pertama, ingin menciptakan lingkungan bersih. Kendaraan listrik tidak lagi menggunakan bahan bakar fosil tapi pakai baterai lithium, emisinya nol. Jadi tidak ada pencemaran udara.

Selain itu, pemerintah berusaha menekan impor bahan bakar minyak (BBM). Pemerintah juga ingin Indonesia menjadi negara industri kendaraan listrik karena memang memiliki potensi, dengan dukungan pasar yang luas dan mobilitas yang sangat tinggi.

Asisten Deputi Industri Penunjang Infrastruktur Kemenko Maritim dan Investasi Firdausi Manti, menambahkan, pemerintah mendukung swasta mengimpor kendaraan listrik, tapi berharap ada alih teknologi dari prinsipal asing.

Dia berpendapat, dalam era seperti saat ini Indonesia tidak mungkin berjalan sendiri dalam mengembangkan teknologi, harus menggandeng negara lain yang memiliki teknologi kendaraan listrik.

"Indonesia bisa menjadi pemain rantai pemasok global baterai untuk kendaraan listrik. Rantai pasokan global dalam industri kendaraan listrik diperlukan, di mana sesama negara bisa saling melengkapi suku cadang. Misalnya Indonesia memiliki cadangan nikel terbesar di dunia, mengingat nikel bisa menjadi salah satu pembuat baterai mobil listrik," katanya.

Menko Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Panjaitan, Sabtu (25/7/2020) mengatakan, hilirisasi nikel yang sedang dilakukan pemerintah bisa menjadikan Indonesia sebagai pemain utama dunia baterai lithium.

Indonesia, kata Luhut, akan mendorong terus pengembangan baterai lithium untuk kendaraan listrik, mengingat pada 2030 negara-negara di Eropa akan mewajibkan semua kendaraan berbasis listrik.

Selain Indonesia menjadi pemain utama dunia bahan baku baterei lithium, penggunaan kendaraan listrik juga berdampak pada pengurangan impor minyak karena berkurangnya kendaraan berbasis energi fosil.

Komitmen Swasta

Komitmen pemerintah mengembangkan industri kendaraan listrik disambut baik kalangan swasta. PT Bakrie Autoparts, agen pemegang merek (APM) bus listrik BYD di Indonesia, menyatakan komitmennya untuk mengikuti kebijakan yang telah digariskan oleh pemerintah.

Proses industrialisasi akan dilakukan untuk meningkatkan kandungan lokal. “Saat ini kami mengimpor bus listrik CBU atau dalam keadaan utuh, tapi hanya untuk promosi dan uji coba,” kata Dino A. Riyandi, Direktur Utama PT Bakrie Autoparts.

PT Bakrie Autoparts dan BYD Auto Co.Ltd. telah menyepakati tahapan pengembangan serta produksi bus listrik dalam beberapa tahun ke depan. Tahapan pertama adalah importasi dan unjuk produk, setelah itu, melakukan penetrasi pasar.

Bakrie Autoparts mulai masuk menjajaki tahapan komersial dan pabrikasi dengan menggandeng beberapa mitra perusahaan karoseri lokal.

Di tahap berikutnya adalah industrialisasi mulai 2022. Pada tahun ini, Bakrie berencana mengoperasikan fasilitas produksi bus listrik yang dimiliki, termasuk produksi chasis. Target produksinya 300 unit bus listrik per tahun dengan tingkat kandungan dalam negeri sedikitnya 55 persen.

Dino mengatakan Bakrie ingin menjadi pelopor industri bus listrik di Indonesia.

Sementara itu, PT Bluebird yang selama ini juga menjadi salah satu pengguna kendaraan listrik untuk armada taksinya, juga menyatakan dukungannya. Direktur PT Bluebird, Tbk Andre Djokosoetono mengatakan, saat ini pihaknya menggunakan 25 unit E-Bluebird dan 4 unit E-Silverbird yang bertenaga listrik.

“Untuk E-Bluebird, kami menggunakan BYD e6 dari China. Sedangkan E-Silvebird menggunakan Tesla Model X75D dari Amerika Serikat. Kami sangat puas dengan operasional dari kendaraan listrik E-Bluebird dan E-Silverbird. Respon pengemudi dan konsumen sangat baik. Mobilnya sangat jarang mengalami kendala di jalanan, mampu menempuh jarak yang dapat diandalkan.

Konsumen juga memberikan apresiasi terhadap langkah Bluebird memelopori dan melakukan terobosan menghadirkan taksi listrik," kata Andre. Ia optimistis kendaraan listrik dapat menjadi opsi jitu untuk industri transportasi di Indonesia.

Itu semua menunjukkan, ada asa untuk memperkuat setrum kendaraan listrik di Indonesia.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Mobil Listrik Grup Bakrie Blue Bird Bus Listrik

Sumber : Antara

Editor : Fatkhul Maskur
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top