Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Mobil Impor India Menyusut, Ini Penyebabnya

Total penjualan produk India pada 2019 menurun sekitar 33,88 persen dan hampir seluruhnya merupakan merek Suzuki.
Ilman A. Sudarwan
Ilman A. Sudarwan - Bisnis.com 23 Januari 2020  |  07:42 WIB
Display Suzuki Ignis dipajang di booth Suzuki GIIAS 2018
Display Suzuki Ignis dipajang di booth Suzuki GIIAS 2018

Bisnis.com, JAKARTA – Penjualan produk India di pasar dalam negeri mengalami penyusutan pada 2019 seiring dengan pergeseran strategi yang diterapkan Suzuki sebagai pengimpor mobil terbesar dari negara tersebut.

Berdasarkan catatan Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) total penjualan produk India pada 2019 di segmen sedan, mobil berpenggerak dua roda (4X2), dan berpenggerak empat roda (4X4) turun sekitar 33,88 persen, menjadi 11.692 unit.

Hampir seluruh produk India di segmen ini merupakan merek Suzuki seperti Baleno, Ignis, dan SX4. Total penjualan produk Suzuki dari India pada 2019 mencapai 11.399 unit, turun 33,53 persen terhadap penjualan 2018 sebanyak 17.148 unit.

Direktur Pemasaran 4W PT Suzuki Indomobil Sales (SIS) Donny Saputra mengatakan bahwa penurunan penjualan produk India tersebut memang merupakan bagian dari strategi perseroan. Dia menuturkan pihaknya lebih berkonsentrasi untuk menggenjot penjualan produk lokal.

“Jadi secara overall strategi pada 2019 kami memang fokus pada penjualan produk yang kami produksi di Indonesia, karena ini meminimalikan berbagai risiko dari mengandalkan produk impor,” katanya kepada Bisnis, Rabu (22/1/2020).

Dia menjelaskan dengan berfokus pada produk lokal, Suzuki dapat terhindar dari risiko fluktuasi nilai tukar. Hal ini dapat dilakukan seiring dengan tingginya tingkat kandungan dalam negeri (TKDN) produk lokal Suzuki yang rata-rata berada di atas 85 persen.

Selain itu, strategi ini memungkinkan Suzuki untuk lebih mengontrol biaya produksi dan pengiriman unit ke seluruh Indonesia. Menurutnya tanpa harus menunggu proses impor, proses pengiriman unit relatif lebih dapat terpantau dengan baik.

“Produk yang kami produksi di sini perputaran modalnya lebih cepat, karena produksi dan delivery di kami. Terakhir juga untuk menjaga harga, dengan mengandalkan produk lokal kami tidak akan semena-mena bisa naikkan harga ke konsumen. Jadi kami minimalikan risiko-risiko tersebut dengan produk lokal,” jelasnya.

Dia menambahkan strategi tersebut dilakukan untuk menghindari dampak dari kondisi geopolitik dan perang dagang yang melibatkan China dan Amerika Serikat. Produk lokal dinilai tidak akan terlalu terpangaruh oleh kondisi global.

Secara umum, lanjutnya, strategi penentuan penjualan unit dari dalam dan luar negeri juga diatur oleh prinsipal secara langsung. Meski ada impor dari India dan Jepang, Suzuki di Indonesia tetap dijadikan basis produksi untuk ekspor ke sejumlah negara lain.

“Kalau dilihat kan, kita tidak hanya impor tapi juga ekspor ke mereka, ini bagian global suppply chain, baik produk jadi maupun CKD, kenapa fokus kami begitu? Karena kami mau naikkan ekspor, baik CBU maupun parts,” katanya.

Sepanjang 2019, total penjualan Suzuki secara wholesale atau dari pabrik ke diler mencapai 100.383 unit, turun 14,9 persen secara tahunan. Hal ini membuat pangsa pasar Suzuki sedikit berkurang dari 10,3 persen pada 2018 menjadi 9,7 persen pada 2019.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

mobil suzuki penjualan mobil
Editor : Oktaviano DB Hana

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top