Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Pasar Mobil Murah Kian Sengit, Honda Enggan Ubah Strategi Pricing

Kalaupun ada perubahan harga, hal itu akan didasarkan pada faktor ekonomis lain seperti inflasi, nilai tukar rupiah, hingga harga bahan baku.
Ilman A. Sudarwan
Ilman A. Sudarwan - Bisnis.com 21 November 2019  |  14:25 WIB
New Honda Brio Satya.  - HPM
New Honda Brio Satya. - HPM

Bisnis.com, JAKARTA – PT Honda Prospect Motor (HPM) tidak khawatir dengan masuknya Renault Triber ke segmen konsumen kendaraan hemat energi dan harga terjangkau (KBH2). Honda menyatakan tak akan mengubah strategi pricing.

Meski bukan kendaraan program KBH2, Renault Triber memiliki daya tawar dari sisi harga untuk bersaing di segmen itu. Kendaraan yang diimpor utuh dari India ini dipasarkan dengan harga Rp133 juta hingga Rp169,9 juta OTR jakarta.

Honda yang saat ini tengah menikmati kenaikan pertumbuhan penjualan di segmen ini memiliki produk dengan harga relatif sama. Dua model KBH2 Honda, Brio Satya S dan Brio Satya E dipasarkan dengan harga Rp143,5 juta dan Rp152,2 juta.

Direktur Inovasi Bisnis dan Penjualan HPM Yusak Billy menyatakan pihaknya menyambut positif kehadiran Renault Triber di pasar Indonesia sebagai tambahan pilihan untuk konsumen. Produk tersebut dinilai dapat berkontribusi terhadap total penjualan kendaraan nasional.

“Harga memang menjadi salah satu pertimbangan utama bagi konsumen dalam membeli mobil, terutama untuk kalangan first time buyer. Semakin banyaknya model di segmen harga ini tentu memberikan pilihan lebih banyak bagi konsumen,” katanya kepada Bisnis, baru-baru ini.

Kendati demikian, dia berpendapat bahwa harga bukanlah satu-satunya cara untuk mengundang respons positif dari pasar.

“Bagi Honda, yang terpenting bukan sekedar menawarkan harga yang murah, tetapi juga kualitas produk, biaya operasional yang ringan, layanan purnajual yang baik, hingga resale value yang tinggi,” katanya.

Dia menjelaskan Honda tidak memiliki rencana untuk mengubah strategi pricing guna menghadapi persaingan dengan model-model baru seperti Triber. Menurutnya, kalaupun ada perubahan hal itu akan didasarkan pada faktor ekonomis lain seperti inflasi, nilai tukar rupiah, hingga harga bahan baku.

Menurutnya, tanpa kehadiran Triber sekalipun, segmen KBH2 sebenarnya memiliki tantangan tersendiri dengan hilangnya insentif pajak penjualan atas barang mewah (PPnBM) 0% mulai 2021. Tarif pajak itu nantinya naik menjadi 3% sesuai dengan Peraturan Pemerintah (PP) No.73/2019.

Yusak menilai kenaikan pajak itu tidak serta merta akan menjadi tantangan bagi KBH2 untuk tetap tumbuh. Pasalnya, kenaikan PPnBM juga tidak hanya diterapkan untuk KBH2, melainkan untuk semua kendaraan bermotor cetus api.

Hingga Oktober 2019, dia mengatakan bahwa penjualan Honda di segmen KBH2 masih mencatatkan pertumbuhan sekitar 22% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Hingga akhir tahun ini, dia menargetkan Honda dapat menguasai sekitar 25% pangsa pasar KBH2.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

LCGC Honda Brio
Editor : Galih Kurniawan
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top