Menunggu Tuah Pemain Baru

Kinerja penjualan kendaraan selama 5 tahun terakhir tampak sulit keluar dari angka 1,1 juta unit. Padahal dari sisi investasi para periode tersebut terjadi peningkatan berkat kehadiran pemain baru dan berkembangannya industri pendukung sektor otomotif.
Thomas Mola | 24 Mei 2019 02:58 WIB
Pengunjung mengamati mobil baru yang dipamerkan di pusat perbelanjaan di Bandung, Jawa Barat, Kamis (14/3/2019). - Bisnis/Rachman

Bisnis.com, JAKARTA—Kinerja penjualan kendaraan selama 5 tahun terakhir tampak sulit keluar dari angka 1,1 juta unit. Padahal dari sisi investasi para periode tersebut terjadi peningkatan berkat kehadiran pemain baru dan berkembangannya industri pendukung sektor otomotif.

Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) mencatat 5 tahun terakhir angka penjualan paling tinggi terjadi pada 2013. Kala itu, pasar domestik menyentuh angka 1,22 juta. Volume penjualan domestik kemudian bergerak landai dan bertahan pada 1,1 juta unit.

Kinerja penjualan itu tidak lepas dari pertumbuhan ekonomi nasional yang selama 5 tahun terakhir tertahan pada level 5%an. 2013 juga menjadi tahun dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi yakni 5,56%.

Menariknya, dari sisi investasi sektor industri kendaraan bermotor dan alat transportasi lainnya bergerak sangat konsisten. Nilai investasi dan jumlah proyek yang dicatat BKPM menunjukkan sektor otomotif nasional masih sangat potensial.

Pada 3 tahun terakhir investasi asing pada industri kendaraan bermotor dan alat transportasi lainnya tercatat tumbuh positif. Kedatangan dua pemain baru asal China, Wuling dan DFSK menjadi salah satu penyebab naiknya investasi asing pada sektor otomotif.

Ketua Gaikindo Yohannes Nangoi baru-baru ini juga menyebut terdapat beberapa merek baru yang menjajaki peluang untuk berinvestasi di Tanah Air. Hyundai menjadi salah satu merek diharapkan untuk merealisasikan investasi tahun ini.

"Kami sudah di-approach beberapa perusahan dari Eropa, Rusia dan lainnya. Tapi mana yang jelas? Belum jelas, mudah-mudahan yang dari Korea segera," ujarnya, baru-baru ini.

Lantas bagaimana dampak kehadiran merek baru yang telah melakukan investasi? Tentu, terlalu prematur jika mengatakan kehadiran merek China tidak mampu mengembangkan pasar domestik yang masih bertahan pada 1,1 juta unit.

Pasalnya, pada 2 tahun pertama, merek Negeri Tirai Bambu ini masih mengembangkan jaringan penjualan. Selain itu, pemain China juga harus lebih giat lagi untuk mendongkrak citra merek.

Gaikindo mencatat, sepanjang 2018 Wuling mampu memasarkan sebanyak 17.002 unit, sementara DFSK sebanyak 1.222 unit. Capaian kedua merek China itu setara dengan 1,58% dari total pasar domsestik 2018 yang sebanyak 1,15 juta unit.

Tahun ini berkat produk baru, Wuling dan DFSK sangat optimis mencatatkan lebih banyak penjualan. Wuling misalnya, telah memperkenalkan Almaz, model SUV yang mendapat sambutan cukup baik dari pasar domestik.

Wuling masih malu-malu menyebut target penjualan dengan alasan masih fokus untuk menambah jumlah jaringan diler. Tahun ini, Wuling menargetkan memiliki 120 diler.

"Sampai akhir 2018, sudah ada 91 unit dealer. Padahal target kami sebelumnya hanya 80 dealer. Kami ini belum dua tahun dan fokus masih ke layanan purna jual yang akan dikembangkan," ujar Dian Asmahani, Brand Manager Wuling Motors.

Namun, jika melihat beragam aktivitas penjualan regional daerah, Wuling termasuk salah satu produsen yang sangat aktif memperkenalkan produknya di daerah. Almaz bersama Confero dan Cortez terbaru terus dipajang di berbagai pusat perbelanjaan di daerah.

Wuling juga baru-baru ini telah memperkenalkan lembaga finansial untuk menunjang penjualan kendaraannya. Produk baru, penambahan jaringan diler hingga lembaga pembiayaan menjadi bukti komitmen kuat Wuling untuk menggembangkan pasar domestik.

DFSK nampak lebih berani dengan menargetkan penjualan sebanyak 12.000 unit. Dengan asumsi pasar pada tahun ini sebanyak 1,1 juta unit, jika DFSK mampu merealiasikan target maka pabrikan itu berpeluang mengikuti jejak Wuling untuk masuk 10 besar merek terlaris tahun ini.

Director of Sales Center PT Sokonindo Automobile (DFSK) Franz Wang mengatakan, target 12.000 unit memang tergolong ambisius jika berkaca dari realisasi penjualan pada 2018. Namun, tahun lalu DFSK baru memperkenalkan produk Glory 580 pada Juli sehingga waktu penjualan praktis hanya 6 bulan dan jumlah diler masih terbatas.

Tahun ini DFSK telah menghadirkan Glory 560 yang diharapkan berkontribusi besar terhadap total penjualan DFSK. Tambah lagi, produk anyar tersebut diperkenalkan sejak kuartal I/2019 sehingga memiliki waktu yang cukup untuk bersaing di pasar domestik.

"Jadi kami hanya punya waktu 6 bulan lalu harus kembangkan diler juga. Tahun ini kami akan menambah 40 diler lagi, sehingga tentu jumlahnya [penjaulan] berbeda," ujarnya.

Jauh dari pemberitaan, merek lokal Esemka disebut-sebut bakal segera memperkenalkan produk ke pasar domestik. Esemka diketahui telah tercatat dalam Permendagri nomor 14/2019.

Dua tipe kendaraan yang terdaftar adalah model sport utility vehicle (SUV) Esemka Garuda I dan model pikap Esemka Bima. Hal ini semakin meyakinkan keseriusan PT Solo Manufaktur Kreasi (SMK) dalam memasarkan produk-produknya kendati belum banyak mempublikasikannya lewat media massa.

Gaikindo pun menyabut positif jika Esemka ingin bergabung bersama asosiasi pelaku industri otomotif. Pabrikan yang berbasis di Solo itu akan diterima dengan tangan terbuka. "Kalau namanya industri otomotif dan mereka ingin masuk ke Gaikindo kami akan menyambut dengan tangan terbuka," papar Nangoi.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Gaikindo, Wuling Motors

Editor : Fatkhul Maskur
KOMENTAR


0 Komentar
Urut berdasarkan

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top