Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Relaksasi PPnBM Mobil Listrik Jalan di Tempat

Implementasi relaksasi pengenaan Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM) mobil listrik belum jelas. Pasalnya, pembahasan rancangan beleid ini masih dalam tahap koordinasi antarkementerian dan lembaga.
Edi Suwiknyo
Edi Suwiknyo - Bisnis.com 03 Mei 2019  |  19:03 WIB
Mobil listrik Tesla Model X di jalanan kota Hong Kong, Jumat (25/1/2019).  - ANTARA News/Alviansyah P.
Mobil listrik Tesla Model X di jalanan kota Hong Kong, Jumat (25/1/2019). - ANTARA News/Alviansyah P.

Bisnis.com, JAKARTA - Implementasi relaksasi pengenaan Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM) mobil listrik belum jelas. Pasalnya, pembahasan rancangan beleid ini masih dalam tahap koordinasi antarkementerian dan lembaga.

Kepala Pusat Kebijakan Pendapatan Negara Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan Rofyanto Kurniawan mengatakan, pemerintah berupaya secepat mungkin menyelesaikan rancangan aturan itu. Apalagi, pemerintah telah berkonsultasi dengan DPR.

"Masih kita rapatkan dengan Kementerian Perindustrian, Kementerian Hukum dan HAM, Menko Perekonomian, dan Sekretariat Negara," kata Rofyanto kepada Bisnis, Jumat (3/5/2019).

Secara prinsip, substansi yang dibahas oleh tim perumus masih sesuai dengan yang dikonsultasikan dengan DPR. Hanya saja, dalam pembahasan yang dilakukan, pemerintah juga menampung sejumlah masukan yang disampaikan para wakil rakyat.

Dalam rapat konsultasi dengan DPR, secara umum pelonggaran kebijakan tersebut mencakup tiga aspek yakni terkait penghitungan pengenaan PPnBM, pengelompokan kendaraan penumpang, hingga perluasan insentif untuk program rendah emisi.

Soal dasar penghitungan PPnBM, ke depan penghitungan tidak lagi didasarkan pada kubikasi mesin atau cc, namun akan mempertimbangkan jenis konsumsi bahan bakar dan emisi.

Pemerintah beralasan, dengan mekanisme yang baru, kendaraan dengan emisi CO2 yang lebih rendah akan mendapatkan tarif PPnBM yang lebih rendah. Kebijakan tersebut merupakan implikasi dari niatan pemerintah untuk mendorong produksi kendaraan yang ramah lingkungan.

Selain perubahan dasar penghitungan, ke depan pemerintah juga akan mereformulasi pengelompokan jenis kendaraan. Jika dalam regulasi existing masih membedakan antara mobil sedan dengan nonsedan. Pada saat regulasi baru ini diterapkan, pengelompokan kendaraan tersebut tidak berlaku.

Adapun rencana perubahan yang terakhir mencakup perluasan insentif bagi yang semula diberikan kepada kendaraan bermotor hemat energi dan harga terjangkau (KBH2) diperluas dengan mencakup kendaraan yang masuk program rendah emisi karbon yakni KBH2, Hybrid, Flexy Engine, dan mobil listrik.

"Secara prinsip sesuai dengan yang disampaikan ke DPR ditambah menampung masukan," ujarnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Mobil Listrik
Editor : Tegar Arief
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top