RI Bisa Kalahkan Produksi dan Ekspor Mobil Thailand, Begini Caranya

Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) berharap Indonesia bisa mengalahkan Thailand dalam hal produksi, pasar domestik, dan ekspor mobil. Saat ini Indonesia masih tertinggal dalam hal produksi dan ekspor.
Muhammad Khadafi
Muhammad Khadafi - Bisnis.com 21 Februari 2018  |  17:10 WIB
RI Bisa Kalahkan Produksi dan Ekspor Mobil Thailand, Begini Caranya
Seorang pekerja mengawasi proses pengelasan atau welding yang dilakukan oleh robot di pabrik perakitan Suzuki Cikarang, Jawa Barat, Selasa (19/2/2018) - Bisnis.com, Muhammad Khadafi

Bisnis.com, JAKARTA – Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) berharap Indonesia bisa mengalahkan Thailand dalam hal produksi, pasar domestik, dan ekspor mobil. Saat ini Indonesia masih tertinggal dalam hal produksi dan ekspor.

“Pemerintah harus berani menyesuaikan peraturan-peraturan yang ada,” kata Ketua I Gaikindo Jongky D. Sugiharto kepada Bisnis, Rabu (21/2/2018). Dia menjelaskan peraturan dan kondisi harus dibuat berdasarkan orientasi ekspor. Peluang pengapalan mobil ke negara lain masih terbuka lebar.

Dalam hal pasar domestik, saat ini Indonesia sudah mengalahkan Negara Gajah Putih. Thailand membukukan penjualan sekitar 800.000 unit per tahun, sedangkan Indonesia sudah melampaui 1 juta unit.

Namun, dalam hal ekspor Indonesia masih jauh tertinggal. Ekspor dari pabrik-pabrik mobil di Thailand serupa dengan capain total produksi di Tanah Air, atau sekitar 1,2 juta unit per tahun.

Banyak pekerjaan rumah yang harus dilakukan bersama-sama terkait hal tersebut. Satu di antaranya adalah harmonisasi tarif pajak kendaraan bermotor dan juga percepatan penggunakan standar emisi Euro 4.

Pemerintah sudah membuka mata terkait kedua hal itu. Dalam waktu dekat pajak kendaraan bermotor tidak lagi membedakan sedan sebagai barang premium. Kubikasi mesin dan emisi gas buang akan menjadi patokan pengenaan PPnBM.

Sementara itu, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan sudah mengetuk palu bahwa standar seluruh kendaraan bermotor mesin bensin di Indonesia menggunakan Euro 4 sejak Maret 2017. Pabrikan kendaraan bermotor dan penyedia bahan bakar diberikan tenggat waktu selama 18 bulan untuk menyesuaikan sejak regulasi diterbitkan.

Adapun selama 5 tahun terakhir ekspor mobil utuh atau completely built up (CBU) tumbuh sekitar 8%. Volume pengapalan hanya sempat anjlok pada 2016 sebanyak 6,4%. Secara berurutan, sejak 2013—2017, ekspor CBU membukukan pertumbuhan 1,39%, 18,32%, 2,68%, -6,40%, dan 18,92%.

Berdasarkan data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), volume ekspor tumbuh positif karena 5 pemain yang tersisa saat ini terbilang agresif mengincar pasar negara lain. Toyota, kontributor terbesar volume ekspor tumbuh dua digit dalam beberapa tahun ke belakang, kecuali pada 2016.

Begitu juga Suzuki yang mencatatkan pertumbuhan signifikan sejak 2015—2017. Secara berurutan, PT Suzuki Indomobil Motor (SIM) menorehkan kenaikan volume ekspor sebanyak 16,18%, 28,71%, dan 24,68%.

Hino yang terseok pada tahun 2017, tetapi sebelumnya membukukan pertumbuhan signfikan. Pada 2014, satu-satunya eksportir truk dari Indonesia yang terdaftar di Gaikindo ini tumbuh 62,3%. Setelahnya merek ini malah tumbuh hingga lebih dari 3 kali lipat.

Begitu juga dengan Hyundai yang tumbuh 41,98% pada 2017 menjadi 2.831 unit. Pada 2014 Hyundai tumbuh hampir 2 kali lipat. Merek ini hanya sempat terhambat satu kali pada 2016 dengan penurunan sebanyak 15,97%.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Pabrik Mobil, Ekspor Mobil

Editor : Fatkhul Maskur
KOMENTAR


0 Komentar
Urut berdasarkan

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top