Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

AS Akan Cabut GSP, Ekspor Bank Terancam Terpuruk

Kinerja ekspor ban buatan Indonesia terancam terpuruk, menyusul rencana pemerintah Amerika Serikat mencabut kebijakan General Specific Preference (GSP) sehingga komoditas itu terkena pajak impor hingga 5%.
Nurudin Abdullah
Nurudin Abdullah - Bisnis.com 03 Desember 2013  |  18:48 WIB
AS Akan Cabut GSP, Ekspor Bank Terancam Terpuruk
/Ilustrasi

Bisnis.com, JAKARTA-Kinerja ekspor ban buatan Indonesia terancam terpuruk, menyusul rencana pemerintah Amerika Serikat mencabut kebijakan General Specific Preference (GSP) sehingga komoditas itu terkena pajak impor hingga 5%.

Azis Pane, Ketua AsosiasiPerusahaan Ban Indonesia (APBI), mengatakan ekspor ban diperkirakan turus menurun hingga akhir tahun ini menjadi di bawah realisasi 2012 sebanyak 32,1 juta unit akibat lesunya pasar di Eropa, Timur Tengah dan AS.

“Ekspor ban diperkirakan terus anjok menyusul dicabutnya General Specific Preference sehingga ekspor ban Indonesia terkena pajak masuk 5% yang tentunya  memberatkan pengusaha,” katanya di Jakarta, Selasa (3/12/2013).

Kebijakan pemerintah AS memberlakukan GSP terhadap impor ban dari Indonesia, menurutnya, mampu meningkatkan daya saing dan memperluas pasar ekspor ban kendaraan roda empat yang sekaligus meningkatkan industri ban nasional.

Dia menjelaskan ekspor ban nasional diperkirakan mencapai 2,51 juta unit pada November 2013 ke pasar tradisional antara lain Eropa, Timur Tengah dan AS yang lebih rendah dari bulan sebelumnya 2,6 juta unit dan September 2,42 juta unit.

Dengan melihat realiasi ekspor ban selama Januari-November 2013 mencapai sekitar 26,5 juta unit, maka kinerja ekspor ban buatan Indonesia selama 12 bulan pada tahun ini diperkirakan lebih rendah dari 2012 sebanyak 32,11 juta unit.  

“Walaupun data ekspor ban belum masuk semua untuk November 2013, tetapi kami perkirakan volumenya lebih rendah dari Oktober 2013 sebanyak 2,6 juta unit, terlebih pada Desember yang hari kerjanya efektif hanya kitar 15 hari,” ujarnya.

Azis menjelaskan asosiasi perusahaan ban melalui Dewan Karet Indonesia telah berkirim surat kepada Duta Besar AS di Indonesia, yang intinya meminta agar kebijakan GSP tetap dilanjutkan bagi impor ban dari Indonesia yang masuk AS.

Sebab, lanjutnya, pengenaan pajak impor ban asal Indonesia sebesar 5% itu berpotensi menggerus penghasilan pihak industri ban yang mengeskpor propduknya sebagian besar terkuras untuk ongkos pengiriman yang cukup besar.

Dia juga mengungkapkan penjualan ban nasional untuk kebutuhan industri otomotif (original equipment) selama November 2013 relatif stabil mencapai sekitar 551.000 unit, lebih rendah dari Oktober 2013 sebanyak 556.000 unit.

Sementara itu, penjualan ban nasional untuk kebutuhan penggantian (replacement) diperkirakan hanya naik tipis menjadi 1,12 juta unit pada November 2013, sedikit lebih tinggi dari realisasi bulan sebelumnya sebanyak 1,11 juta unit.

Menurutnya, pengusaha ban masih berharap ada pertumbuhan penjualan di pasar domesitik yang berasal dari kebutuhan penggantian atau replacement karena banyak pemilik mobil akan melakukan perjalanan liburan akhir tahun.

Azis berharap pemerintah memperketat pengawasan terhadap impor ban karena maraknya komoditas tersebut sangat merugikan bagi industri dalam negeri, terutama yang menyasar pangsa penggantian yang langsung menyentuh konsumen.

“Pengawasan yang lebih ketat terhadap ban impor, selain sebagai bentuk keberpihakan pemerintah kepada industri dan produk dalam negeri,” ujarnya.   

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

ekspor ban
Editor : Ismail Fahmi

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini

back to top To top