Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Gempa Taiwan, Pasokan Semikonduktor Toyota Aman

Perusahaan-perusahaan Taiwan dari TSMC hingga ASE Technology Holding Co. memproduksi dan merakit sebagian besar semikonduktor
Toyota Rangga Concept/Toyota Astra
Toyota Rangga Concept/Toyota Astra

Bisnis.com, JAKARTA — PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) menyebut sudah memiliki Standar Operasional Prosedur (SOP) seiring adanya gempa bumi yang melanda Taiwan, dan berdampak terhadap pasokan semikonduktor.

Wakil Direktur Utama TMMIN Bob Azam mengatakan SOP yang telah diterapkan oleh perusahaan memang disiapkan untuk menghadapi situasi darurat termasuk gempa.

“Kami sebenarnya sudah ada emergency framework untuk menghadapi situasi darurat seperti pandemik atau bencana alam lainnya termasuk gempa,” katanya kepada Bisnis, Kamis (4/4/2024).

Mengenai produsen semikonduktor Taiwan Semiconductor Manufacturing Co. menghentikan aktivitas produksi chipset dan menutup pabrik akibat bencana tersebut, dia berharap hal ini hanya terjadi sementara untuk konsolidasi.

Di satu sisi, dia juga menyebut sejauh ini pasokan untuk semikonduktor sudah terkendali seiring perekonomian global yang sudah membaik.

Sebagai informasi, perusahaan-perusahaan Taiwan dari TSMC hingga ASE Technology Holding Co. memproduksi dan merakit sebagian besar semikonduktor yang digunakan untuk perangkat elektronik, dari iPhone hingga mobil.

Data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia atau Gaikindo, juga menunjukkan pabrik Toyota telah memproduksi 86.912 unit mobil sepanjang Januari-Februari 2024, turun 17,8% dari 105.682 unit dibandingkan periode sama tahun lalu.

Di satu sisi, pengiriman kepada jaringan dealer atau wholesales dari Toyota mencapai 44.513 unit pada Januari-Februari 2024, turun 20,9% dari 56.306 unit secara year-on-year (YoY).

Pada 2021 silam, TMMIN mengakui sulit untuk memenuhi permintaan konsumen di tengah naiknya pemesanan mobil baru. Seiring adanya keterbatasan pasokan semikonduktor.

Terjadinya situasi saat sedang pandemi Covid-19 tersebut juga membuat Toyota kesulitan untuk mengerek kapasitas produksi guna memenuhi permintaan konsumen.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel


Editor : Kahfi
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Terpopuler

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper

Terpopuler