Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

"Nikel Kotor" Ganjal Investasi EV Pabrikan Eropa di Indonesia

Dua pabrikan Eropa ingin merealisasikan investasi mobil listrik (EV/Electric Vehicles),tetapi isu lingkungan seputaran pertambangan nikel jadi ganjalan.
Rahmad Fauzan
Rahmad Fauzan - Bisnis.com 04 Agustus 2022  |  20:40 WIB
"Nikel Kotor" Ganjal Investasi EV Pabrikan Eropa di Indonesia
Nikel - Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA- Pemerintah mengaku terdapat dua pabrikan otomotif asal Eropa yang berminat investasi mobil listrik di Indonesia. Namun, isu lingkungan yang kerap menerpa pertambangan nikel masih mengganjal investasi electric vehicle (EV) tersebut.

Deputi Bidang Perencanaan Penanaman Modal Kementerian Investasi/BKPM, Nurul Ichwan, mengatakan salah satu hal yang menjadi penghambat tersebut adalah metode penambangan deep sea mine tailing placement (DPST).

Sebagai informasi, deep sea mine tailing placement merupakan metode pembuangan limbah nikel ke laut dalam.  "Di Indonesia masih menerapkan deep sea tailing, yang disebut tidak hijau karena merusak ekosistem akibat ada pembuangan limbah di bawah laut. Mereka [masih] tidak mau yang seperti ini," kata Nurul kepada Bisnis, Kamis (4/8/2022).

Sebab, jelasnya, Uni Eropa sudah mengatur perusahaan yang melakukan ekspansi bisnis, baik di dalam maupun ke luar kawasan, untuk agar menjadikan negara yang mampu menyuplai energi hijau sebagai tujuan.

Selain itu, lanjut Nurul, Uni Eropa mewajibkan pula agar produk-produk yang diproduksi di luar kawasan dan akan diimpor kembali ke dalam kawasan di-support oleh energi hijau.

Menggunakan regulasi Carbon Border Adjusment Mechanism, sambungnya, maka kontribusi kandungan karbon produk terkait akan dihitung sebelum diizinkan masuk ke kawasan Uni Eropa.

Uni Eropa juga mengatur seluruh pelaku industri kendaraan listrik, termasuk produsen baterai, agar hanya menggunakan bahan baku hingga ke level nikel surfat, mulai dari mining sampai dengan refinery.

Terkait dengan kondisi tersebut, Nurul menilai produsen Eropa bisa kehilangan kesempatan mendapatkan bahan baku EV di Indonesia karena diambil Korea, China, atau jepang.

"Atau, merek bisa mengubah ketentuan agar mendapatkan suplai bahan baku seperti negara lainnya," ujarnya.

Ketentuan-ketentuan tersebut pun mengganjal produsen mobil asal Eropa yang sudah melakukan pendekatan untuk berinvestasi di industri electric vehicle Indonesia.

Nurul menyebut terdapat 2 produsen mobil asal Eropa yang sedang melakukan pendekatan ke Pemerintah Indonesia untuk berinvestasi di industri kendaraan listrik.

Namun, dia enggan untuk menyebutkan nama-nama kedua pabrikan yang berminat tersebut.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Mobil Listrik listrik Kendaraan Listrik Baterai Mobil Listrik Bus Listrik Nikel Smelter Nikel bijih nikel
Editor : Kahfi

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini

Terpopuler

Banner E-paper
back to top To top