Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Tanpa Industri Baterai, Inggris Terancam Kehilangan Industri Otomotif. Pelajaran Buat Indonesia!

Pabrikan lokal Inggris Jaguar Land Rover pun ingin merakit mobil listrik di luar Inggris.
Kahfi
Kahfi - Bisnis.com 28 Mei 2022  |  17:57 WIB
Pabrikan mobil Inggris terbesar ini memperkenalkan uji coba live mobil swakemudi dengan mata yang mempelajari pejalan kaki.  - JAGUARLANDROVER
Pabrikan mobil Inggris terbesar ini memperkenalkan uji coba live mobil swakemudi dengan mata yang mempelajari pejalan kaki. - JAGUARLANDROVER

Bisnis.com, JAKARTA- Pemerintah Inggris menghadapi sebuah dilemma “ayam atau telur”, mana lebih dulu pabrik baterai atau kehadiran industri mobil listrik? Satu masalah serius lainnya, Inggris tak punya pasokan material mentah.

Bloomberg merilis laporan terkait kondisi terkini industri otomotif di Inggris. Selama sedekade lebih, Inggris seperti menjadi pusat produksi kendaraan listrik bagi Eropa. Namun, situasi itu kini mulai berubah.

Pasalnya, negeri Ratu Elizabeth itu hingga kini tak mempunyai pabrik yang memproduksi sel dan paket baterai yang bisa diandalkan. Baru-baru ini, bahkan pabrikan otomotif kebanggan Inggris yakni Jaguar Landr Rover memikirkan pemindahan produksi ke Slovakia.

Keputusan itu seiring dengan perjanjian kerja sama JLR dengan produsen baterai asal Swedia Northvolt AB dan produsen asal China SVolt Energy Technology Co.

Satu-satunya jalan bagi Inggris untuk mempertahankan predikat sebagai rumah mobil listrik di Eropa yaitu mengakselerasi tingkat investasi pada industri baterai. “Sudah terlambat untuk mempertahankan peran Inggris sebagai produsen otomotif utama,” kata Andy Palmer, eks CEO Aston Martin, dikutip dari Bloomberg pada Sabtu (28/5/2022).

Palmer merupakan orang di balik sukses kelahiran produk mobil listrik (EV) Nissan Leaf yang diproduksi di Sunderland, Inggris. “Kecuali ada faktor lain untuk mendorong produksi baterai di Inggris, hanya masalah waktu sebelum industri mobil di sini menjadi industri khusus saja yang hanya melayani merk Rolls-Royce dan Bentley,” simpulnya.

Sejauh ini, Inggris seperti tak dilirik untuk investasi baterai. Hal ini karena faktor kelangkaan bahan mentah, biaya energi mahal, insentif minim, dan potensi pengenaan tarif akibat Brexit. Padahal, negeri tersebut telah menggelontorkan ratusan juta pound untuk penelitian teknologi baterai, tetapi tak tak juga mendongkrak kelangkaan baterai dalam negeri untuk produksi.

Di Inggris, hanya ada satu pabrik baterai yang beroperasi milik Grup Envision China. Pabrikan itu memproduksi kebutuhan Nissan Leaf, dan baru berencana memperluas kapasitas pada d2024 nanti.

Seorang Jurubicara JLR yang telah memproduksi 220.000 unit kendaraan di Inggris selama tahun lalu, menilai pabrikan tengah mengeksplorasi berbagai opsi untuk pasokan baterai.

Green Finance Institute’s Coalition for the Decarbonisation of Road Transport yang selama ini dinaungi pemerintah telah mengungkapkan, bahwa untuk mempertahankan tingkat industri saat ini, Inggris perlu menggenjot kapasitas baterai hingga 45 kali lipat kondisi eksisting, atau menjadi 90 gigawat.

“Jika sektor baterai tidak muncul di Inggris, ada biaya peluang yang hilang dari keuntungan finansial baterai yang diambil di tempat lain, dan pada gilirannya risiko bahwa industri otomotif yang ada di Inggris dapat berkurang dengan pindah ke lokasi bersama. dengan produksi baterai,” kata kelompok tersebut.

Berkaca dari kondisi demikian, nasib Indonesia seharusnya bisa jauh lebih baik. Pesan utama dari memburuknya kondisi industri di Inggris sewaktu masa transisi energi seperti sekarang adalah menguasai industri baterai.

Untuk melahirkan industri baterai, walaupun ada dilema “ayam-telur”, setidaknya Indonesia memiliki modal cadangan material pembuatan baterai. Selebihnya, tergantung seberapa kuat pemerintah melobi pemodal membangun pabrik di dalam negeri, bukan sekadar mengirimkan material ke luar. Toh, sejauh ini sudah banyak komitmen investasi baterai yang telah dilontarkan. 

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor : Kahfi

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Banner E-paper
To top