Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Prancis Akan Potong Subsidi Kendaraan Listrik

Di Prancis, kendaraan listrik menguasai 6,1 persen pasar kendaraan bermotor selama delapan bulan pertama tahun ini.
Dionisio Damara
Dionisio Damara - Bisnis.com 29 September 2020  |  13:26 WIB
Citroen Ami 100%/Listrik. /Citroen
Citroen Ami 100%/Listrik. /Citroen

Bisnis.com, JAKARTA — Pemerintah Prancis berencana memotong subsidi mobil hibrida dan listrik pada tahun-tahun mendatang yang dinilai akan melumpuhkan sektor yang saat ini bertumbuh.

Menteri Keuangan Prancis Bruno Le Maire berencana menurunkan insentif untuk pembelian mobil listrik dari 7.000 euro atau US$ 8.160 tahun ini, menjadi 6.000 euro tahun depan dan 5.000 euro pada 2022.

Sementara itu, bantuan negara untuk kendaraan listrik plug-in hybrid (PHEV) akan dikurangi setengahnya menjadi 1.000 euro pada tahun depan.

Insentif terpisah untuk rumah tangga berpenghasilan rendah yang beralih ke kendaraan listrik menjadi 3.000 euro, lebih rendah dari subsidi tunai maksimum 6.000 euro yang ditawarkan pada beberapa bulan awal 2020.

“Kami telah mendukung industri otomotif, sedangkan pada saat yang sama kami mempercepat penurunan emisi karbon,” kata Le Maire dikutip dari Bloomberg, Rabu (29/9/2020).

Di Prancis, kendaraan listrik menguasai 6,1 persen pasar kendaraan bermotor selama 8 bulan pertama tahun ini. Jumlah itu naik 1,9 persen dibandingkan dengan tahun lalu. Pangsa pasar PHEV juga terus meningkat.

Insentif pemerintah di beberapa negara Eropa, termasuk Prancis dan Jerman, telah membantu peningkatan penjualan mobil pada awal tahun ini. Apalagi, setelah kebijakan penguncian wilayah untuk menahan laju virus corona membuat pembelian mobil anjlok.

Oleh karena itu, pemotongan subsidi kendaraan roda empat yang diterapkan Prancis dipastikan berdampak langsung kepada Renault SA dan PSA Group, yang mengandalkan penjualan di pasar domestik.

Asosiasi otomotif Prancis, La Plateforme Automobile (PFA) mengkritik rencana penurunan pemberian insentif tersebut. Mereka menyatakan bahwa kebijakan itu memperhitungkan dampak dari penggunaan mobil beremisi tinggi yang akan meningkat tajam di masa mendatang.

"Untuk menjadikan sistem bonus-malus sebagai instrumen yang benar untuk transisi lingkungan, bonus juga harus berkembang, jika tidak malus hanya menjadi pajak baru yang terselubung," ujar Marc Mortureux, Direktur Jenderal PFA.

Bonus-malus merupakan sistem yang digunakan oleh perusahaan asuransi kendaraan untuk menentukan tarif premi pemegang polis. Penentuan tarif premi ini didasarkan pada banyaknya klaim yang dilakukan oleh pemegang polis.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Mobil Listrik prancis
Editor : Zufrizal
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top