Dua Pemasok Baterai Berseteru, Industri Mobil Listrik Terancam Jadi Korban

Siapa pun yang kalah dalam pertarungan akan menderita pukulan fatal, kecuali keduanya mencapai penyelesaian. Ini juga akan menjadi kemunduran bagi pembuat mobil listrik.
Ilman A. Sudarwan
Ilman A. Sudarwan - Bisnis.com 28 November 2019  |  07:54 WIB
Dua Pemasok Baterai Berseteru, Industri Mobil Listrik Terancam Jadi Korban
ilustrasi. - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA – Sengketa yang melibatkan dua pemasok baterai asal Korea Selatan, SK Innovation dan LG Chem dikhawatirkan dapat mengganggu perkembangan industri mobil listrik.

Diktuip dari Reuters, sengketa keduanya bermula dari kesuksesan SK Innovation (SKI) mengalahkan LGC untuk mendapatkan kontrak kerja sama dengan Volkswagen AG untuk menyuplai baterai dalam produksi mobil listrik di Amerika Serikat pada 2018.

Merasa ditikung SKI, LGC mengajukan tuntutan kepada SKI yang diduga telah menyalahgunakan rahasia perdagangan mereka. Hal itu, dilakukan setelah LGC mendapati 77 pegawainya dibajak SKI. Tuntutan tersebut sudah diajukan kep pengadilan Amerika Serikat pada April.

Berselang 7 bulan kemudian, kedua persahaan saling mengajukan tuntutan hukum di Amerika Serikat atas pelanggaran hak paten baterai. Perseteruan keduanya menjadi ancaman pengembangan kendaraan listrik oleh beberapa produsen mobil terbesar dunia.

Dalam satu pengarsipan pengadilan, LGC mengatakan SKI mengambil karyawannya yang bekerja pada proyek untuk memasok baterai untuk arsitektur kendaraan listrik VW MEB. LGC juga menuding SKI memenangkan kontrak VW hanya karena telah menyelewengkan rahasia dagang.

SKI membantah telah mencuri rahasia dagang yang dituduhkan LGC. SKI mengatakan stafnya menandatangani perjanjian untuk tidak menggunakan informasi dari tempat kerja sebelumnya. SKI berkukuh pihaknya menghargai kekayaan intelektual.

Berdasarkan catatan pengajuan tuntutan di Amerika Serikat, kedua perusahaan itu diketahui tengah berusaha untuk menghentikan impor dan penjualan baterai untuk sejumlah produsen di Amerika Serikat, di antaranya Volkswagen, Ford, GM, Jaguar, Audi, dan Kia Motor.

Profesor di Institut Sains dan Teknologi Naisonal Ulsan Cho Jae-phil mengatakan bahwa perseteruan keduanya dikhawatirkan akan memberikan kemunduran bagi industri otomotif untuk mengembangkan mobil listrik.

“Siapa pun yang kalah dalam pertarungan akan menderita pukulan fatal, kecuali keduanya mencapai penyelesaian. Ini juga akan menjadi kemunduran bagi pembuat mobil, ” katanya dikutip dari Reuters, Rabu (27/11/2019).

Juru bicara Ford Jennifer Flake menyatakan bahwa pihaknya tengah mendorong LGC dan SKI untuk menyelesaikan konflik mereka tanpa litigasi. Dia juga berusaha untuk meyakinkan keduanya bahwa permintaan akan cukup besar untuk menampung kemampuan produksi para pemasok.

“Kami menyadari masalah ini. Sebagai tindakan yang wajar, kami memiliki rencana kesinambungan bisnis untuk melindungi kepentingan kami, ” ujarnya.

Juru bicara GM Patrick Morrissey juga mengatakan perusahaan menyadari perselisihan tersebut. Dia mengharapkan perseteruan itu tidak memberikan dampak negatif pada produksi kendaraan listrik Chevy Bolt. Di sisi lain, Kia, Jaguar—Land Rover, dan Volkswagen, menolak berkomentar.

Menurut Korea SNE Research, pasar untuk baterai mobil listrik diperkirakan dapat tumbuh 23% per tahun hingga mencapai US$167 miliar pada 2025. Hal ini membuat pasar baterai lebih besar dari pasar cip memori global untuk ponsel yang diperkirakan bernilai US$150 miliar pada 2025.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Mobil Listrik

Editor : Galih Kurniawan
KOMENTAR


-->
KOMENTAR


0 Komentar
Urut berdasarkan

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top