Toyota Tak Tutup Peluang Bangun Pabrik Baterai Mobil Listrik di Indonesia

Toyota telah berkomitmen untuk berinvestasi mengembangkan industri mobil terelektrifikasi, dengan nilai investasi mencapai sekitar Rp28 triliun sepanjang 2020 hingga 2025.
Ilman A. Sudarwan
Ilman A. Sudarwan - Bisnis.com 26 November 2019  |  18:08 WIB
Toyota Tak Tutup Peluang Bangun Pabrik Baterai Mobil Listrik di Indonesia
Prius PHEV - Toyota

Bisnis.com, JAKARTA – Meski sudah memiliki pabrik mobil terelektrifikasi di Asia Tenggara, Toyota masih mungkin mendirikan pabrik di Indonesia, khususnya untuk produksi baterai.

Direktur Pemasaran PT Toyota Astra Motor (TAM) Anton Jimmi Suwandi mengatakan bahwa Toyota saat ini memproduksi kendaraan terelektrifikasi di sejumlah negara, seperti Jepang, Amerika Serikat, dan Eropa. Di Asia Tenggara, Toyota juga sudah memiliki fasilitas produksi di Thailand.

Dia mengatakan meski sudah memiliki pabrik di Thailand, yang memiliki akses perdagangan bebas dengan Indonesia, tak menutup kemungkinan Toyota akan berinvestasi kembali di Indonesia untuk mengembangkan produksi kendaraan terlektrifikasi.

Menurutnya, Indonesia memiliki daya tawar dari sisi ketersediaan infrastruktur penunjang ekspor yang masih berkembang. Di sisi lain, pasar kendaraan roda empat Indonesia saat ini juga lebih besar dibandingkan dengan negara Gajah Putih.

“Saya tidak berani berspekulasi, yang jelas principal [Toyota Motor Co.] masih mempelajari. Kita punya daya tawar dari pasar kita cukup tinggi, kedua kita punya infrastruktur untuk ekspor lebih baik lagi,” katanya baru-baru ini.

Dia mengatakan Indonesia juga memiliki daya tawar dari ketersediaan bahan baku untuk memproduksi sel baterai untuk mobil listrik. Saat ini pabrik di Thailand baru memproduksi motor listrik dan mengandalkan komponen inverter impor dari Malaysia.

Menurutnya, keputusan Toyota mengembangkan produksi mobil hibrida di Thailand disebabkan oleh kondisi pasar yang lebih besar dari Indonesia pada 5 tahun lalu. Selain itu, Thailand lebih siap dari sisi regulasi yang memberikan kepastian bagi pelaku usaha.

“Regulasi Thailand keluar duluan, dan 5 tahun lalu pasar mereka lebih besar dari kita, sekarang kita lebih besar dari Thailand. Bahan baku juga dulu belum kita bahas. Motor listrik sudah ada di sana, inverternya masih diambil dari Malaysia. Kemudian baterainya masih impor dari negara lain dan Jepang. Indonesia punya potensi di baterai,” katanya.

Dia mengatakan Toyota telah berkomitmen untuk berinvestasi mengembangkan industri mobil terelektrifikasi, dengan nilai investasi mencapai sekitar Rp28 triliun sepanjang 2020 hingga 2025.

“Sebelumnya kami sudah investasi total Rp20 triliun dan terealisasi. Investasi kali ini merupakan bagian dari paket kedua investasi di Indonesia, nilainya Rp28 triliun itu untuk 5 tahun ke depan, dan akan mulai terlaksana mulai tahun depan. Tetapi, ini adalah rencana, bisa berubah bisa berubah bisa bertambah atau berkurang,” katanya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
toyota

Editor : Galih Kurniawan
KOMENTAR


-->
KOMENTAR


0 Komentar
Urut berdasarkan

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Top