Penuhi Kebutuhan Baterai, Pabrikan Mobil Terapkan Strategi Kolaborasi

Wuling Motors belum memiliki rencana untuk memproduksi baterai untuk kendaraan listriknya di Indonesia. Pasalnya, pabrikan asalnya di China yang memproduksi mobil dengan merek Baojun juga bekerja sama dengan perusahaan baterai untuk memenuhi pasokan baterai.
Aprianus Doni Tolok
Aprianus Doni Tolok - Bisnis.com 03 September 2019  |  22:30 WIB
Penuhi Kebutuhan Baterai, Pabrikan Mobil Terapkan Strategi Kolaborasi
Produksi prototipe sel baterai masa depan, dengan fokus pada kimia sel, desain sel, dan keahlian membangun-ke-cetak. (11/2017) - BMW

Bisnis.com, JAKARTA - Wuling Motors belum memiliki rencana untuk memproduksi baterai untuk kendaraan listriknya di Indonesia. Pasalnya, pabrikan asalnya di China yang memproduksi mobil dengan merek Baojun juga bekerja sama dengan produsen baterai untuk memenuhi kebutuhan penyimpan daya.

Dian Asmahani, Senior Brand Manager Wuling Motors mengatakan bahwa pihaknya masih menunggu industri baterai berkembang untuk bisa menjalin kerja sama seperti yang dilakukan pabrikan di China.

"Di China pun kita pakai supplier [baterai]. Di Indonesia memang ada beberapa perusahaan produsen baterai tapi sampai saat ini belum ada rencana dan pembicaraan apa pun terkait kerja sama [dengan Wuling]," ujarnya di Jakarta, Selasa (3/9/2019).

Bukan hanya Wuling, Toyota pun diketahui akan bermitra dengan China’s Contemporary Amperex Technology Co Ltd (CATL) dan produsen mobil listrik BYD Co Ltd untuk memenuhi kebutuhan baterai mobil listriknya.

EVP Toyota Shigeki Terashi mengakui bahwa Toyota tidak mampu memproduksi baterai sesuai dengan kebutuhan produksi mobil listriknya.

"Saat kami mengembangkan baterai untuk Prius, kami pikir kami adalah produsen baterai mobil listrik,” katanya merujuk pada inisiasi awal produksi mobil hibrida, dikutip dari Reuters, beberapa waktu lalu.

Sedikit berbeda, DFSK diketahui tengah mengembangkan baterai untuk mobil listriknya dengan menggandeng SF Motors yang notabebe merupakan perusahaan di bawah DFSK yang khusus mengembangkan mobil listrik.

Hal itu disampaikan oleh Public Relation and Digital Manager DFSK, Arviane Dahniarny Bahar.

"Pabrikan DFSK di China terus kembangkan baterai untuk penuhi kebutuhan sendiri. Namun untuk pabrik di Indonesia, kami masih belum bisa memastikan apa-apa dan terus melakukan studi," paparnya melalui pesan singkat kepada Bisnis, Selasa (3/9/2019).

Product Planning Wuling Motors Danang Wiratmoko menambahkan bahwa harga baterai di mobil listrik rata-rata mencapai 50% dari harga keseluruhan mobil.

Menurutnya, bila harga baterai murah maka bisa menekan harga mobil listrik selain insentif turunan dari Perpres mobil listrik yang nantinya akan disahkan.

"Kalau tanpa insentif, mahal banget harganya [mobil listrik]. Kita juga berharap investasi di industri baterai juga berkembang," imbuhnya.

Harapan Wuling agar investasi di industri baterai untuk mobil listrik akan segera mendapatkan titik terang. Dirjen Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi dan Elektronika (ILMATE) Kemenperin Harjanto mengatakan, beberapa investor telah menyatakan minat untuk membuat baterai cell dari material yang dihasilkan oleh pabrik di Morowali dan Weda Bay.

"Pokoknya besar [investasinya], dia enggak mau disebut. Pak Menteri [Airlangga Hartarto] enggak pernah nyebut itu. Mohon maaf itu permintaan mereka. Intinya kami ingin ada industri turunan," katanya baru-baru ini.

Namun, untuk pengembangan baterai cell untuk kendaraan listrik nilai investasinya ditaksir lebih dari US$1 miliar atau sekitar Rp14 triliun.

Namun, Executive General Manager PT Toyota Astra Motor (TAM) Fransiskus Soerjopranoto mengimbau pemerintah terkait produksi baterai listrik domestik ke depannya. Pasalnya, jangan sampai produk yang dihasilkan tidak sesuai dengan kebutuhan kendaraan listrik dari produsen mobil.

"Jangan sampai baterai yang diproduksi di Indonesia tidak sesuai dengan kebutuham APM. Baterai saja bentuknya macam-macam, dan tiap merek punya standar baterai masing-masing," paparnya.

Menurutnya, harus ada standardisasi baterai bila nantinya akan diproduksi secara lokal di Indonesia.

Dalam catatan Bisnis, Kementerian ESDM merekomendasikan ekspor bijih nikel pada 2020 dihentikan dan pasar domestik diharapkan mulai dapat menyerap produk tersebut.

Setidaknya saat ini, sudah ada 11 smelter nikel eksisting dengan kapasitas input 24 juta ton per tahun. Selain itu, ada pula 25 smelter sisanya yang sedang masuk tahap konstruksi.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Baterai Mobil Listrik

Editor : Fatkhul Maskur
KOMENTAR


0 Komentar
Urut berdasarkan

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top