Ketersediaan Baja Jadi Tantangan Industri Komponen Otomotif Lokal

Bahan baku untuk komponen otomotif berbahan baja tidak bisa didapatkan dengan cara daur ulang.
Andi M. Arief
Andi M. Arief - Bisnis.com 14 Agustus 2019  |  06:42 WIB
Ketersediaan Baja Jadi Tantangan Industri Komponen Otomotif Lokal
Produksi mobil. - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA – Perkumpulan Industri Kecil dan Menengah Komponen Otomotif (Pikko) menyatakan ketersediaan baja berkualitas merupakan salah satu kendala yang dihadapi pelaku usaha saat ini.

Ketua Umum Pikko Rosalina Faried mengatakan bahan baku untuk komponen otomotif berbahan baja tidak bisa didapatkan dengan cara daur ulang.

Menurutnya, beberapa bahan baku komponen otomotif selain baja telah dapat dipenuhi dengan cara daur ulang seperti plastik dan karet sintetis. “Kalau metal tidak bisa [didaur ulang] karena komposisinya campur-campur,” ujarnya kepada Bisnis, Selasa (13/8/2019).

Rosalina mengatakan 70% dari kendaraan berasal dari bahan baku. Sementara itu, metal berkontribusi sekitar 40%-50% dari total komponen kendaraan. Dengan tingkat bahan baku impor mencapai 90%, tingkat kandungan dalam negeri (TKDN) komponen dalam negeri baru sekitar 40%.

Sementara itu, Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto mengatakan industri komponen otomotif masih mengimpor sebagian bahan bakunya. Guna mendorong peningkatan TKDN komponen otomotif lokal, pihaknya akan memanfaatkan Indonesia-Japan Economic Partnership Agreement (IJEPA) dalam pengembangan industri hulu untuk memenuhi permintaan industri komponen otomotif..

IJEPA merupakan sub-working group di bawah program Manufacturing Industry Development Center (MIDEC). Adapun, kerja sama yang akan dilakukan meliputi program peningkatan kompetensi sumber daya manusia, standarisasi, dan penelitian dan pengembangan.

Kemenperin akan mendorong kerja sama antara PT Krakatau Steel (Persero), Pohan Iron and Steel Corp (POSCo), dan Nippon Steel & Sumitomo Metal Corporation untuk dapat memenuhi kebutuhan baja industri komponen otomotif dan menekan impor bahan baku.

Adapun terkait dengan komponen kendaraan listrik, Direktur Jenderal Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi, dan Elektronika Kemenperin Harjanto mengatakan saat ini sudah ada pabrikan lokal yang mengolah nikel dan kobalt menjadi nikel sulfat dan kobalt sulfat sebagai bahan baku baterai.

 Menurutnya, kini telah ada dua investor yang akan mendirikan pabrik untuk mengolah nikel sulfat dan kobalt sulfat tersebut di Morowali dan Pulau Weda.

Kedua pabrik tersebut akan mampu membuat battery cell dan battery pack yang juga dapat digunakan untuk kebutuhan rumah tangga selain mobil listrik. Adapun, nilai investasi yang dibutuhkan untuk pembangunan satu pabrik pemrosesan nikel sulfat dan kobalt sulfat tersebut sekitar US$700 juta—US$800 juta.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
industri baja, Komponen Otomotif

Editor : Galih Kurniawan
KOMENTAR


0 Komentar
Urut berdasarkan

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top