Mitsubishi Fuso Optimis Penjualan Naik 5%

PT Krama Yudha Tiga Berlian Motor (KTB) memproyeksikan penjualan kendaraan merek Mitsubishi Fuso pada tahun ini akan bertumbuh 5% menjadi 53.000 unit.
Fatkhul Maskur
Fatkhul Maskur - Bisnis.com 17 Mei 2019  |  10:20 WIB
Mitsubishi Fuso Optimis Penjualan Naik 5%
MFTBC Marketing Director PT Krama Yudha Tiga Berlian Motors (KTB) Duljatmono (tengah), menjawab pertanyaan didampingi Presiden Direktur Hisashi Ishimaki (kanan), dan Deputy Group Head of Field Group Doni Maksudi. - Bisnis.com/Dwi Prasetya

Bisnis.com, JAKARTA - PT Krama Yudha Tiga Berlian Motor (KTB) memproyeksikan penjualan kendaraan merek Mitsubishi Fuso pada tahun ini akan bertumbuh 5% menjadi 53.000 unit.

Direktur Pemasaran dan Penjualan PT Krama Yudha Tiga Berlian Motor (KTB) Duljarmono mengatakan bahwa peningkatan penjualan masih sangat besar melihat peluang target pertumbuhan nasional di atas 5%, suku bunga Bank Indonesia masih stabil nilai tukar masih terkendali, dan harga minyak masih di kisaran US$70 per baru.

"Tahun ini kami perkirakan penjualan Mitsubishi Fuso tetap bisa tumbuh 5% menjadi 55.000 unit, dan pangsa pasar 45%," ujarnya pada acara Buka Bersama dan Media Gathering Mitsubishi Fuso di Jakarta, Kamis (16/5/2019).

Duljatmono mengakui, permintaan turun pada Januari sampai April 2019, namun dirinya optimistis penjualan Mitsubishi Fuso bakal 5% persen sampai akhir tahun 2019.

"Saya yakin permintaan pasar akan tumbuh pada semester II, karena permintaannya ada. Pasar hanya menunggu situasi politik kondusif," kata Duljatmono.

KTB sebagai distributor resmi truk dan bus Mitsubishi Fuso, mengalami penurunan penjualan sekitar 19% pada Januari-April 2019 menjadi 13.432 unit dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Duljatmono mengakui ingar bingar politik dan pemilu legislatif dan presiden cukup mempengaruhi konsumen membeli kendaraan niaga. Mereka cenderung wait and see.

Dampaknya, tidak hanya penjualan Mitsubishi Fuso saja yang turun, penjualan kendaraan niaga dari berbagai merek secara nasional juga turun sekitar 16,3%.

Namun ia optimistis permintaan pasar kendaraan niaga bakal bangkit pada semester II 2019, seiring dengan kepastian politik yang akan menggerakkan kembali pembangunan proyek-proyek infrastruktur, logistik, dan produksi dari agribisnis terutama minyak sawit mentah (CPO).

"CPO itu pembangkit pertumbuhan ekonomi di daerah terutama di Sumatera dan Kalimantan. Pada Juli biasanya produksi CPO naik, dan dampaknya mereka beli kendaraan," kata Duljatmono.

Ia mengatakan sektor komoditas yang dimotori CPO memberi kontribusi sekitar 10 persen pada penjualan Mitsubishi Fuso, setelah kontributor terbesar dark sektor logistik yang mencapai 50%-55%. Sementara infrastruktur memberi kontribusi sekitar 7% dan tambang 5%.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Mitsubishi Fuso

Editor : Fatkhul Maskur
KOMENTAR


0 Komentar
Urut berdasarkan

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Top