Citra Motor Perang Jadi Daya Tarik Royal Enfield

Salah satu citra yang paling melekat pada merek Royal Enfield adalah sejarahnya yang pernah dimanfaatkan sebagai motor militer di Perang Dunia II.
Aprianus Doni Tolok
Aprianus Doni Tolok - Bisnis.com 27 Januari 2019  |  01:25 WIB
Citra Motor Perang Jadi Daya Tarik Royal Enfield
Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengendarai motor Royal Enfield Bullet 350 cc bergaya chopper di Sukabumi Jawa Barat, Minggu (8/4/2018). - Biro Pers Setpers

Bisnis.com, JAKARTA - Salah satu citra yang paling melekat pada merek Royal Enfield adalah sejarahnya yang pernah dimanfaatkan sebagai motor militer di Perang Dunia II.

Ikon motor perang itu yang membuat selebritas sekaligus Ustadz Alfie Alfandy tertarik untuk menggunakan motor pabrikan Inggris ini.

Baginya, Royal Enfield (RE) adalah motor yang unik. Citranya sebagai motor perang tetap melekat hingga kini.

"Seratus tahun lebih masih eksis hingga kini itu luar biasa. Artinya terbukti kualitasnya. Namun, yang paling saya suka adalah bentuknya yang khas [motor perang]," ujarnya kepada Bisnis, dalam acara perayaan ulang tahun ke-3 Royal Enfield di Indonesia, Jakarta, Sabtu (26/1/2019).

Hal senada juga disampaikan oleh Yohanes Supriadi, pembeli RE pertama di diler resmi Indonesia. 

Pengalaman pertamanya melihat motor ini adalah dalam helatan Gaikindo Indonesia International Auto Show (GIIAS) 2015 di kawasan BSD-Serpong. Dia terkesan dengan Royal Enfield seri Classic 500 yang sangat kental dengan citra motor perang dahulu.

"Setelah mengetahui bahwa diler resminya sudah ada di Indonesia, pada 16 Februari 2016 saya langsung ke Pejaten dan kebetulan menjadi pembeli pertama Royal Enfield di diler resmi Indonesia," ujarnya dalam acara yang sama.

Saat itu dia merogoh kocek sebesar Rp91 juta untuk meminang Royal Enfield seri Classic 500-nya tersebut. 

Dia menambahkan dari sisi biaya perawatan, motor mid-size ini tergolong murah. Menurutnya, yang terpenting adalah servis rutin seperti ganti oli dan pengecekan umum. Dia mengaku hanya mengeluarkan dana sekitar Rp350.000-Rp400.000 untuk servis bulanan.

"Bagi saya biaya tersebut masih tergolong standar untuk perawatan moge. Selain itu, asesoris [produk] aftermarket-nya juga mudah ditemukan," imbuhnya.

Pria 51 tahun ini juga mengaku keberadaan komunitas sangat membantu dalam memberi masukan terkait tunggangannya. Saat ini Yohanes terdaftar sebagai member Royal Riders Indonesia (RORI) yang kini memiliki anggota sekitar 500 orang.

 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
sepeda motor, perang dunia ii

Editor : Sutarno
KOMENTAR


0 Komentar
Urut berdasarkan

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top