Soal Mobil Listrik, Gaikindo: Biarkan Pasar Yang Menentukan

Asosiasi otomotif menegaskan pengembangan pasar kendaraan listrik sangat tergantung pada kemampuan membeli konsumen. Produsen otomotif tidak ingin memproduksi jika konsumen tidak mampu membeli karena harga yang terpaut jauh dengan kendaraan konvensional.
Thomas Mola | 09 Agustus 2018 16:20 WIB
BMW i8 PHEV. - Bisnis.com

Bisnis.com, TANGERANG--Asosiasi otomotif menegaskan pengembangan pasar kendaraan listrik sangat tergantung pada kemampuan membeli konsumen. Produsen otomotif tidak ingin memproduksi jika konsumen tidak mampu membeli karena harga yang terpaut jauh dengan kendaraan konvensional.

Ketua Umum Gabungan Industri Kendaraan Bermotor (Gaikindo) Yohannes Nangoi mengatakan, masyarakat sebagai konsumen akan menyeleksi mana jenis kendaraan listrik yang paling terjangkau. Pasalnya, harga mobil listrik umumnya lebih mahal tergantung pada tipe kendaraan yang dikembangkan produsen otomotif.

"Namanya mobil listrik biarkan pasar yang menyeleksi karena kita harus melihat biaya mobil listrik. Mobil biasa misalnya Rp1.000, hybrid bisa Rp1.300, plag in bisa Rp1.500 dan baterai bisa Rp1.700. Jadi lebih mahal," ujarnya di sela-sela diskusi di Gaikindo Indonesia International Auto Show (GIIAS) 2018, di Tangerang, Kamis (9/8/2018).

Nangoi menuturkan, produsen tentu akan menghitung kemampuan daya beli konsumen sebelum memutuskan memproduksi kendaraan listrik. Kendaraan listrik hibrida menurutnya saat ini yang paling terjangkau sehingga pada GIIAS 2018 banyak produsen yang memamerkan kendaraan listrik hibrida.

Menurutnya, sebagai sebuah tren global, Indonesia juga akan menuju ke era kendaraan listrik. Perubahan itu akan mengikuti tren konsumen seperti ketika konsumen memilih untuk kendaraan bertransmisi otomatis daripada manual.

"Karena hybrid lebih paling murah. Bagus [banyak produsen pamerkan kendaran hibrida] berarti pelan-pelan berubah seperti dulu manual dan otomatis," tambahnya.

Sedikitnya terdapat empat jenis kendaraan listrik yakni hybrid electric vehicle (HEV), plug in electric vehicle (PEV), battery electric vehicle (BEV), fuel cell electric vehicle (FCEV). Masing-masing jenis ini memiliki keunggulan tersendiri dengan harga yang bervariatif.

Riset LPEM UI misalnya menyebutkan harga HEV sejauh in i lebih mahal 17% dari pada kendaraan konvensional, sementara PEV sekitar 20% dan BEV mencapai 30%. Untuk merangsang masyarakat membeli kendaraan listrik, pemerintah perlu memberikan insentif sehingga harga kendaraan listrik bisa lebih kompetitif.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Mobil Listrik, GIIAS 2018

Editor : Fatkhul Maskur
KOMENTAR


0 Komentar
Urut berdasarkan

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top