Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Pengembangan Teknologi Kendaraan Swakemudi Perlu Didukung Regulasi

Pemerintah negara-negara di dunia dinilai perlu menelurkan regulasi khusus mengenai operasional kendaraan otomatis atau self-driving vehicles agar dapat mendukung proses riset dan pengembangan produk tersebut.
Dara Aziliya
Dara Aziliya - Bisnis.com 10 Januari 2018  |  12:50 WIB
Mobil Swakemudi Tesla - tesla.com
Mobil Swakemudi Tesla - tesla.com

Bisnis.com, LAS VEGAS - Pemerintah negara-negara di dunia dinilai perlu menelurkan regulasi khusus mengenai operasional kendaraan swakemudi atau self-driving vehicles agar dapat mendukung proses riset dan pengembangan produk tersebut.

Pentingnya keberadaan kendaraan swakemudi mencuat seiring perkembangan teknologi, tingginya tingkat kelalaian manusia di jalan raya, sekaligus untuk membantu kaum penyandang disabilitas untuk tetap dapat mengemudikan kendaraan sendiri.

Professor Emeritus Santa Clara University School of Law Robert W.Peterson mengungkapkan dia mendampingi beberapa pemerintah negara bagian AS dalam hal ini, tapi belum satupun aturan terwujud. 

Negara bagian California, AS sebenarnya sudah mulai menyusun aturan khusus mengenai hal ini. Kendati demikian, karakter kendaraan tersebut yang melibatkan multisektor membuat penyusunan aturan itu menjadi lambat.

“California sudah mulai menyusun dan mungkin tengah tahun ini akan rampung. Pemanfaatan teknologi ini sepertinya akan segera menjadi kenyataan,” ungkapnya dalam diskusi Who’s Responsible for Driveless Car Liabilities and Risk dalam The Consumer Electronics Show (CES) 2018 di Las Vegas, (9/1/2018) waktu setempat.

Sementara itu, Vice President Risk Solutions Lyft Kate Sampson menuturkan pemerintah dituntut untuk menyesuaikan diri dengan perkembangan teknologi dan kebutuhan manusia. Pasalnya, di tengah kebutuhan yang tinggi, kendaraan otomatis juga ditakutkan akan memiliki dampak negatif bagi suatu kota seperti dampaknya terhadap lingkungan dan kemacetan.

“Lyft sangat peduli dengan bagaimana teknologi seperti ini dapat memengaruhi tatanan masyarakat kita. Kendaraan self-driving memang sepertinya lebih aman, tapi juga harus dipertimbangkan soal risikonya,” ungkapnya.

Lyft merupakan perusahaan layanan transportasi online dan menjadi kompetitor terkuat Uber di AS.

Data AIG Insurance menunjukkan 90% kecelakaan di jalan di AS disebabkan oleh kelalaian manusia. Kendati demikian, kendaraan swakemudi juga secara otomatis menjadi bagian dari ekosistem jalan raya yang bersinggungan dengan banyak manusia, sehingga risiko terjadinya kecelakaan tetap ada.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

kendaraan otonom
Editor : Annisa Margrit

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top