TREN MOBIL LISTRIK: Asap Diesel Pacu Hibrida di Perlombaan Elektrifikasi

Para pabrikan mobilyang terjepit di antara isu pengurangan emisi karbon dan penurunan penjualan mesin diesel hemat bahan bakartelah menggunakan Frankfurt Motor Show untuk menyoroti generasi mobil listrik yang sebagian besar dinilai akan terlambat untuk melepaskan dari ikatan itu.
Fatkhul Maskur | 25 September 2017 11:10 WIB
Teknologi 48volt pada mesin bensin adalah alternatif dari diesel. - Valeo

Para pabrikan mobil—yang terjepit di antara isu pengurangan emisi karbon dan  penurunan penjualan mesin diesel hemat bahan bakar—telah menggunakan Frankfurt Motor Show untuk menyoroti generasi mobil listrik yang sebagian besar dinilai akan terlambat untuk melepaskan dari ikatan itu.

Pada saat yang sama, di salah satu tempat pameran itu, perusahaan pemasok komponen mobil seperti Valeo dan Delphi telah lebih cepat menyibakkan penutup sebuah solusi: mobil hibrida ringan 48 volt dengan harga lebih terjangkau.

Mobil hibrida ini adalah kendaraan dengan tambahan sistem teknologi electric supercharger yangmenambahkantenaga listrik ke mobil bensin tanpa perancangan ulang yang mahal, Diam-diam teknologi ini telah digunakan oleh sejumlah merek, dari Volkswagen hingga Volvo.  Teknologi ini juga disematkan pada Audi SQ.

Para eksekutif dan analis mengatakanaib dan penurunan diesel pada akhirnya menciptakan panggung bagi elektrifikasi massif.

Masalah pencemaran diesel menjadi terkenal setelah terbongkarnya skandal uji coba Volkswagen. Namu, pilihan ke bensin adalah pembengkakan emisi karbondioksida (CO2) yang makin menyulitkan Uni Eropa mencapai tujuan.

Pandangan kami adalah bahwa 48 volt pada mesin bensin adalah alternatif dari diesel," kata Karin Thorn, wakil presiden untuk propulsi kendaraan di Volvo. "Jika dan ketika pasar diesel turun, ada hal lain yang perlu dilakukan.

Volvo adalah merek pertama Eropa yang menyatakan diri berhenti melakukan pengembangan mesin diesel terbaru. Bahkan, pengumuman Volvo ini disampaikan saat masih tingginya permintaan diesel di banyak negara di Eropa.

Sebagai alternatifnya, produsen mobil Swedia ini akan "menyulut" seluruh model kendaraannya dengan tenaga listrik pada 2019. Langkah berani Volvo sekarang terlihat sebagai sebuah kenyataan di seluruh industri.

PSA Group, yang sebelumnya tidak membutuhkan hibrida 48V, sekarang berencana mengenalkannya "di seluruh papan" sebagai tanggapan atas penurunan diesel yang lebih cepat dari perkiraan, kata kepala program pembuat Peugeot Patrice Lucas kepada Reuters.

Dengan melipatgandakan standar 12 volt pada listrik mobil konvensional dan membiarkan motor starter diperkuat untuk memberi makan tenaga ekstra ke drivetrain, sekaligus melengkapi mesin pembakaran, pabrikan dapat mengubah mobil bensin menjadi hibrida ringan tanpa mendesain ulang arsitektur kendaraan dan perkakas pabrik.

TEKNOLOGI PEMUNGKIN

Teknologi electric supercharge ini bekerja dengan cara motor memberikan dorongan torsi yang nyata dan memulihkan energi pengereman untuk mengisi ulang baterai. Ini lebih lebih kecil dan lebih murah daripada yang dibutuhkan oleh mobil listrik atau hibrida seperti Toyota Prius, yang biasanya beroperasi pada kecepatan 100-300 volt.

Total biaya produksi sekitar 500-1.000 euro (US$600 - US$1.200), di bawah harga diesel.Ini teknologi yang paling menarik dan mudah mengganti diesel," kata analis Evercore ISI Arndt Ellinghorst. "Bisa dilakukan dan itu lebih murah. Anda tidak harus menjadi pengadopsi awal untuk membelinya.

Pada 2020, penjualan mobil 48V diproyeksikan melampaui kendaraan hibrida penuh Eropa, termasuk plug-in yang dapat diisi ulang dengan kabel dan didorong dalam mode full listrik. Pada 2025, mereka akan membekali 55% dari semua mobil yang terjual.

Teknologi ini muncul pertama kali di mobil mewah seperti Mercedes S-Class yang dipamerkan di acara Frankfurt yang berlangsung sampai Minggu (24/9), sebelum menetes ke pasar massal, terutama di Eropa dan China.

Berikutnya adalah Volkswagen Golf, standard mobil kompak, yang akan mengadopsi teknologi listrik 48V pada 2019. Model lainnya akan menyusul, kata kepala pembangunan Frank Welsch kepada Reuters.

"Teknologi ini memiliki banyak potensi dan akan membuat hibrida lebih terjangkau bagi masyarakat," kata Welsch. Renault, afiliasi Jepang Nissan dan Hyundai termasuk produsen mobil massal lainnya masuk pipeline untuk menggunakan 48V.

Pada 2021, target emisi UE turun menjadi 95 gram CO2 per kilometer dari saat ini 130 gram, sebuah tantangan yang diperburuk oleh penggantian tes laboratorium standar dengan pengukuran "emisi mengemudi" yang sebenarnya di jalan.

PERSOALAN DIESEL

Meskipun ada insentif, teknologi baterai maupun infrastruktur pengisian dayadinilai tak cukup untuk penyerapan tenaga listrik massal yang dibutuhkan untuk mengurangi emisi rata-rata saat itu.

Persoalan diperparah oleh turunnya mesin diesel, yang menghasilkan CO2 sekitar 15%-20% lebih rendah daripada alternatif bensin. Untungnya, ada teknologi hibrida 48V yang mengantarkan pilihan di lingkup yang sama.

Kesederhanaan 48V juga memungkinkan pembuat mobil menyesuaikan emisi armada dengan waktu tunggu lebih pendek daripada yang biasanya dibutuhkan untuk membangun kembali drivetrain, yang dapat membantu menghindari denda Uni Eropa yang ketat sebesar 95 euro per kelebihan curah CO2 per kendaraan terjual.

Di antara pemasok, Valeo berdiri untuk mendapatkan keuntungan paling banyak dengan porsi 40% pesanan hibrida ringan, analis Citi memprediksi. Continental dan Delphi juga dinilai ada diposisi yang bagus.

Valeo yang berbasis di Paris mengharapkan beberapa pembuat mobil untuk melakukan putaran U lebih cepat daripada PSA, yakni menginstal sistem 48V tanpa menunggu modelfacelift. "Solusi ini akan menjadi standar pasar," kata Direktur inovasi Guillaume Devauchelle.

Dia menambahkan bahwa peraturan yang lebih ketat mengenai polusi nitrogen oksida (NOx) dari mesin diesel akan memperparah cost disadvantage. Pada saat yang sama, hibrida 48V akan memeras efisiensi lebih dengan menggeser motor listrik ke bawah transmisi, di bawah mesin.

"Yang pembuat mobil temukan adalah mereka membutuhkan lebih dari sekadar mesin pembakaran canggih untuk mencapai pengurangan emisi rata-rata armada,” kata Mary Gustanski, bos teknik Delphi.

Pemasok menggabungkan 48V hibrida dengan penonaktifan silinder yang mengurangi kapasitas mesin apabila daya yang dibutuhkan lebih sedikit untuk penghematan tambahan. Gustanstki mengatakan sistem ini tengah dibangun bersama dengan satu produsen mobil Eropa dan satu pabrikan China.

Tentu, di masa mendatang mobil dengan 48V harus bisa hadir dengan kelebihan atas produk kompetitor yang harganya masih relatif mahal, seperti mobil hibrida Toyota Prius.

Saat ini, berkat investasi hibrida seperempat abad, produsen mobil Jepang dapat memenuhi target CO2 di masa depan dengan mudah, kata President of Business Planning & Operation Toyota Motor Corporation Didier Leroy di Frankfurt.

Dia menyatakan Toyota berada dalam posisi yang berbeda. Dan, tak perlu terburu-buru menemukan solusi sementara, juga tidak perlu mengembangkan 48V agar bisa bersaing. (f)

Sumber : Reuters

Tag : mobil hibrida, Tren Mobil Listrik
Editor : Fatkhul Maskur
KOMENTAR


0 Komentar
Urut berdasarkan

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top