Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Kendaraan Sumbang Polusi Terbesar, KPBB Usul 4 Jenis BBM Dihapus

Tingginya penggunaan kendaraan bermotor membuat Komite Penghapusan Bensin Bertimbal (KPBB) menilai bahwa empat jenis bahan bakar minyak yang saat ini masih digunakan di Indonesia perlu dihapus untuk menekan polusi udara.
Dionisio Damara
Dionisio Damara - Bisnis.com 03 Februari 2021  |  15:26 WIB
Kendaraan Bermotor.  - TMC Polda Metro Jata
Kendaraan Bermotor. - TMC Polda Metro Jata

Bisnis.com, JAKARTA – Tingginya penggunaan kendaraan bermotor membuat Komite Penghapusan Bensin Bertimbal (KPBB) menilai bahwa empat jenis bahan bakar minyak yang saat ini masih digunakan di Indonesia perlu dihapus untuk menekan polusi udara.

Direktur Eksekutif Komite Penghapusan Bensin Bertimbal (KPBB) Ahmad Safrudin mengatakan berdasarkan data KPBB tahun 2019 ada 146 juta kendaraan yang digunakan oleh masyarakat di Indonesia.

Dari jumlah tersebut, sepeda motor menyumbang 120 juta unit, mobil penumpang 16 juta unit, truk 8,2 juta unit, dan bus 985.000 unit.

“Jadi, jika ingin efisiensi BBM, kita harus memainkan hal yang strategis, yaitu sepeda motor,” ujarnya dalam webinar Economic Benefits Vehicular Emission Control, Selasa (2/2/2021).

Oleh karena itu, lanjutnya, empat jenis BBM yang saat ini masih digunakan di Indonesia, yakni Pertalite90, Premium88, Solar 48 dan Dexlite51 perlu dihapus untuk menekan pencemaran udara di kota-kota besar.

Safrudin menilai bahwa selain belum ramah lingkungan, keempat jenis BBM tersebut tidak sesuai dengan standar emisi Euro 2 yang telah diadopsi Indonesia. Selain itu, pemerintah juga sudah mengimplementasikan standar Euro 4 untuk kendaraan bermotor atau lebih yang dicanangkan sejak 7 April 2017.

Keputusan itu tertuang melalui Peraturan Menteri LHK P.20/MENLHK/SETJEN/KUM.1/3/2017 tentang Baku Mutu Emisi Gas Buang Kendaraan Bermotor Tipe Baru Kategori M, N, dan O atau Standar Emisi Euro 4.

Dalam beleid tersebut, disebutkan bahwa penggunaan minimal angka oktan (RON) yang digunakan kendaraan berbahan bakar bensin minimal 91, sedangkan untuk diesel adalah dengan cetane number (CN) minimal 51.

Emisi Euro adalah standar yang digunakan negara Eropa untuk memperbaiki kualitas udara. Kian tinggi standar Euro, makin kecil batas kandungan gas karbon dioksida, nitrogen oksida, karbon monoksida, dan partikel lain yang berdampak negatif pada manusia serta lingkungan.

“Ke depan, perusahaan BBM di Indonesia cukup memproduksi dua jenis bahan bakar masing-masing untuk bensin dan solar. Perlu juga mereformasi kebijakan harga BBM secara transparan agar terjangkau oleh masyarakat,” tutur Safrudin.

Berdasarkan kajian inventarisasi emisi dari KPBB pada 2019, partikel karbon monoksida yang melayang di Jakarta mencapai 84 persen dan berasal dari kendaraan bermotor. Kendaraan bermotor juga menjadi penyebab utama penyebaran partikel PM 2,5, PM 10, asam belerang, dan nitrogen dioksida, yang menimbulkan pencemaran udara.

Secara terpisah, Direktur Utama Pertamina Nicke Widyawati menjelaskan bahwa perseroan tengah menjalankan inisiatif strategis untuk pengembangan green energy sekaligus mendukung target pemerintah dalam pengembangan energi baru terbarukan.

Salah satunya adalah mengoptimalkan penggunaan energi ramah lingkungan untuk mobilitas di sektor transportasi dengan mendukung pemerintah melaksanakan mandatori biodiesel 30 persen (B30), green refinery, dan co-processing CPO.

“Intinya agenda untuk menurunkan gas rumah kaca, emisi karbon, ini menjadi agenda dari seluruh perusahaan minyak di seluruh dunia,” ujar Nicke dalam siaran pers.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

spbu polusi udara
Editor : Fatkhul Maskur

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top