Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Orang Indonesia di Balik Teknologi Otomasi Tesla

Perempuan berusia 26 tahun asal Indonesia ini bekerja sebagai Autopilot Software Engineer untuk Tesla di San Francisco, California, Amerika Serikat.
Dionisio Damara
Dionisio Damara - Bisnis.com 22 Desember 2020  |  22:13 WIB
Tesla Model 3.  - Antara/Reuters
Tesla Model 3. - Antara/Reuters

Bisnis.com, JAKARTA – Pengembangan sistem otomasi kendaraan milik Tesla atau disebut Full Self-Driving (FSD) beta, yang meluncur pada Oktober 2020, rupanya melibatkan sosok warga negara Indonesia.

Dia adalah Moorissa Tjokro. Perempuan berusia 26 tahun ini bekerja sebagai Autopilot Software Engineer untuk Tesla di San Francisco, California, Amerika Serikat.

Moorisa menjelaskan bahwa profesinya itu mencakup pengembangan computer vision. Sistem itu menghubungkan kamera, komputasi berbasis edge atau cloud, perangkat lunak, dan kecerdasan buatan (AI), sehingga sistem dapat “melihat” dan mengidentifikasi objek.

“Apa ada mobil di depan kita? Tempat sampah di kanan kita? dan juga gimana kita bisa bergerak atau yang namanya control and behavior planning untuk ke kanan dan ke kiri,” ujarnya saat diwawancara VOA baru-baru ini.

Moorisa bekerja di Tesla sejak Desember 2018. Sebelum melakoni jabatannya sekarang, dia pernah menempati posisi Data Scientist, yang juga mengurusi perangkat lunak mobil. Saat ini, perempuan kelahiran 1994 ini bertugas mengevaluasi perangkat lunak kendaraan otonom.

Dia menuturkan bahwa sistem FSD beta merupakan salah satu proyek terbesar yang dikerjakan olehnya.

Rangkaian teknologi otonom FSD milik Tesla bisa dikatakan menjadi fitur yang paling mendekati Level 5, yakni puncak dari sistem otomasi mobil. Di titik ini, kebutuhan akan kendali manusia benar-benar hilang.

Adapun mobil otonom adalah sebuah kendaraan yang dapat menjelajahi lingkungannya dan bergerak tanpa bantuan manusia. Mobil ini menggunakan berbagai fitur, seperti radar, sinar laser, GPS, odometri dan penglihatan komputer untuk mendeteksi hal-hal di sekitarnya.

“Karena kita ingin mobilnya benar-benar kerja sendiri. Apalagi, kalau di tikungan-tikungan. Bukan cuma di jalan tol, tapi juga di jalan-jalan yang biasa,” tutur Moorisa.

Sementara itu beberapa waktu lalu, sebuah video di YouTube memperlihatkan bagaimana Tesla Model 3 mampu melaju secara otonom lewat kemampuan perangkat lunak FSD beta.

Dalam video tersebut, Model 3 yang dilengkapi dengan sistem FSD membuntuti truk sampah yang berjalan lambat dan beberapa kali berhenti. Alhasil, sistem mobil memutuskan bahwa tindakan terbaik adalah menyalipnya.

Dengan layar dasbor menampilkan situasi jalan raya, Tesla Model 3 perlahan-lahan bergerak ke arah kiri guna melihat kendaraan dari arah berlawanan. Setelah menyadari tidak ada lalu lintas yang lewat, mobil segera menyalip truk tersebut.

Pada satu sisi, video ini menunjukkan kemampuan kendaraan otonom yang mengesankan. Akan tetapi, manuver mobil saat menyalip masih kurang mulus, sehingga pengemudi harus melakukan intervensi. Selain itu, mobil berada terlalu lama di jalur berlawanan.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

tesla
Editor : Muhammad Khadafi
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top