Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Antara Produksi, Impor, dan Lokalisasi Komponen Otomotif

Salah satu kendala dalam lokalisasi komponen kendaraan saat ini adalah kualitas dan konsistensi produksi.
Ilman A. Sudarwan
Ilman A. Sudarwan - Bisnis.com 17 Oktober 2019  |  10:36 WIB
ilustrasi. - Reuters
ilustrasi. - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA – Impor komponen kendaraan mengecil seiring dengan penurunan produksi dan kinerja penjualan. Namun, sebagian agen pemegang merek (APM) menyatakan hal ini juga didorong oleh tren peningkatkan lokalisasi.

Mengutip data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), PT Honda Prospect Motor (HPM) membukukan total impor komponen sebanyak 69.060 unit sepanjang Januari—Agustus 2019, turun 42,13% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Komponen yang diimpor di antaranya diperuntukkan untuk model CR-V, Jazz, Brio, Mobilio, dan HR-V. Yusak Billy, Business Innovation and Sales & Marketing Director HPM menjelaskan, penurunan impor komponen ini sejalan dengan penurunan penjualan sepanjang tahun ini.

“Dalam hal turunnya komponen itu karena impact penjualan kami memang turun 10% dibandingkan last year seiring dengan market yang drop pula,” katanya kepada Bisnis belum lama ini.

Kendati demikian, penurunan impor komponen juga berhubungan dengan peningkatan tingkat komponen dalam negeri (TKDN) beberapa model Honda. Model dengan TKDN paling tinggi adalah Honda Brio, mencapai 89%. Model ini juga sekaligus menjadi kontributor penjualan tertinggi Honda saat ini.

“Karena pencapaian kami 89% untuk Brio, hampir semua komponen kami bisa diproduksi secara lokal. TKDN meningkat karena suksesnya Brio dalam hal lokalisasi menyebabkan komponen yang digunakan bisa digunakan ke model lain seperti Mobilio dan BRV yang saat ini mencapai [TKDN] 87%,” katanya.

Menurutnya, saat ini sejumlah komponen function part dan electric part seperti heater control, fuel pipe, dan drive shaft masih belum bisa dilokalkan karena kemampuan pemasok lokal belum dapat memenuhi spesifikasi yang diminta Honda.

Selain Honda, tercatat juga PT Sokonindo Automobile sebagai agen pemegang merek DFSK di Indonesia dalam daftar importir komponen. Namun, sepanjang tahun ini tidak ada data impor komponen yang tercatat untuk DFSK.

Sementara itu, Direktur Administrasi, Korporasi dan Hubungan Eksternal TMMIN Bob Azzam mengatakan pihaknya juga mencatatkan penurunan impor komponen pada tahun ini akibat dari menurunannya penjualan. Namun, tren lokalisasi komponen juga berdampak. TMMIN, katanya, telah menambah mitra penyuplai komponen pada tahun ini, salah satunya melalui kerja sama dengan PT Indonesia Asahan Alumunium (Persero) atau Inalum.

“Saya belum cek pastinya, tapi kalau dilihat dari tren lokalisasi kami impor komponen harusnya turun ya. Apalagi, sekarang kami sudah kerja sama dengan Inalum untuk wheel disk contohnya, biasanya kan impor,” katanya kepada Bisnis, Rabu (16/10/2019).

Dia mengatakan bahwa hal ini juga berdampak terhadap kenaikan TKDN model-model tertentu yang diproduksi TMMIN. Rata-rata TKDN mobil yang diproduksi kini mencapai kisaran 60%—65%.

Menurutnya, produk TMMIN dengan TKDN paling tinggi saat ini adalah Kijang Innova, yakni lebih dari 70%. Adapun, model dengan TKDN paling rendah adalah sedan Vios di kisaran 60%.

Dia mengatakan bahwa sejauh ini impor komponen masih didatangkan dari sejumlah negara utama seperti Jepang dan Thailand. Suplai kebutuhan alumunium juga masih lebih banyak disuplai dari Dubai, Uni Emirat Arab.

Menurutnya, salah satu kendala dalam lokalisasi komponen kendaraan saat ini adalah kualitas dan konsistensi produksi. Sulit bagi penyuplai lokal untuk meningkatkan kualitas produknya karena memerlukan investasi besar.

“Kami pernah punya pengalaman dengan supplier, proses trial and error-nya berat untuk mereka, harus sabar, tekun dan membutuhkan biaya. Saya rasa pemerintah juga harus membantu mereka dengan insentif, seperti pajak,” katanya.

Direktur Pemasaran PT Astra Daihatsu Motor (ADM) Amelia Tjandra mengatakan penurunan impor komponen pada tahun ini sepenuhnya disebabkan oleh faktor kinerja penjualan. Hal ini, tidak berkaitan dengan TKDN mobil-mobil Daihatsu.

“Impor turun karena pasar kan juga turun, penurunan impor komponen juga sama sebesar itu, sekitar 11%,” katanya kepada Bisnis, Rabu (16/10/2019).

Dia menjelaskan bahwa rata-rata TKDN mobil Daihatsu masih mencapai sekitar 93%. Model Sigra dan Calya memiliki TKDN paling tinggi sekitar 94%, sedangkan Terios memiliki TKDN paling rendah sebesar 89%.

Sejumlah komponen yang masih harus diimpor adalah komponen yang membutuhkan tingkat presisi tinggi, seperti transmisi otomatis. Menurutnya, pengembangan produksi komponen seperti ini membutuhkan investasi tinggi.

Di sisi lain, daya tampung pasar juga menjadi kendala untuk memacu lokalisasi komponen itu. Permintaan mobil di Indonesia yang baru mencapai sekitar 1 juta unit per tahun masih cukup jauh dari kemampuan yang dibutuhakan.

“Kalau mau dibuat di Indonesia, pabrik minimum harus produksinya 2 juta pembuatannya, sedangkan pasar di Indonesia kan baru 1 jutaan, akibatnya tidak cukup. Jadi mendingan impor, karena akan lebih mahal kalau diproduksi di dalam negeri,” ujarnya.

Mengutip data Badan Pusat Statistik (BPS) total impor kendaraan dan bagiannya (HS87) sepanjang Januari—September 2019 mencapai US$5,38 miliar, turun 11,35% secara tahunan. Adapun, total ekspor impor kendaraan dan bagiannya pada periode yang sama tercatat sebesar US$6,06 miliar tumbuh 10,05%.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

industri otomotif Komponen Otomotif
Editor : Galih Kurniawan
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top