Penjualan Kendaraan Melorot, Astra Andalkan Produk Anyar

Kinerja penjualan mobil PT Astra International Tbk. di pasar domestik sepanjang Januari—Agustus 2019 mengalami penurunan 13,51% dibandingkan penjualan pada periode yang sama pada tahun lalu.
Ilman A. Sudarwan
Ilman A. Sudarwan - Bisnis.com 18 September 2019  |  12:12 WIB
Penjualan Kendaraan Melorot, Astra Andalkan Produk Anyar
ilustrasi. - Bisnis/Nurul Hidayat

Bisnis.com, JAKARTA – Kinerja penjualan mobil PT Astra International Tbk. di pasar domestik sepanjang Januari—Agustus mengalami penurunan 8,15% dibandingkan penjualan pada periode yang sama pada tahun lalu.

Berdasarkan keterangan resmi yang diterima Bisnis, total penjualan mobil Astra yang terdiri dari merek Toyota, Daihatsu, Isuzu, dan Peugeot mencapai 344.216 unit. Adapun pada Januari—Agustus 2018 total penjualan Astra mencapai sebanyak 374,744 unit.

Sementara itu, penjualan mobil non-Astra seperti Mitsubishi, Suzuki, Honda, dan Nissan mencapai 316.070 unit. Dibandingkan periode yang sama pada tahun lalu, angka penjualan itu mengalami penurunan sebesar 18,69%.

Secara total penjualan industri mobil di pasar domestik hingga Agustus tahun ini mencapai 660.286 unit Dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun lalu sebanyak 763,444, kinerja penjualan tahun ini mengalami penurunan 13,51%.

Pada segmen low cost green car (LCGC) total penjualan Astra mencapai 97.833, turun 6,88% dibandingkan Januari—Agustus 2018. Adapun, penjualan kendaraan LCGC secara total di pasar domestik mencapai 137.406, turun sebesar 16,52%.

Kendati demikian, pangsa pasar Astra masih relatif stabil. Berdasarkan data tersebut, pangsa pasar Astra secara total mencapai 52%, sedangkan pangsa pasar Astra pada segmen LCGC tercatat sebesar 71%.

Executive General Manager PT Toyota Astra Motor Fransiscus Soerjopranoto menjelaskan, tekanan terhadap penjualan mobil itu disebabkan oleh kondisi ekonomi global yang mengarah kepada ketidakpastian. Di sisi lain, faktor kondisi sosio politik di dalam negeri turut memberi pengaruh.

“Jadi kita lihat memang global trend ini tidak jauh dari yang namanya Trump Effect. Faktor makro yang lain adalah 2014 itu market turun karena ada pilpres, bedanya dengan tahun ini pemilihan ada bunganya. Ada demo, dan lain sebagainya,” katanya kepada Bisnis, Selasa (17/9/2019).

Dia mengatakan, dampak faktor itu terhadap pasar dapat dilihat dari dua gelaran auto show yang diadakan pada tahun ini. GIIAS 2019 menurutnya mendapatkan momentum lebih baik dibandingkan IIMS 2019 karena diadakan setelah hiruk pikuk politik usai.

Menurutnya, kondisi ini tidak akan berlalu dengan cepat seiring dengan isu resesi global yang masih akan menghantui hingga akhir tahun. Hal ini, menurutnya akan membuat pasar tetap cenderung wait and see untuk membeli kendaraan.

“Jadi kalau saya bilang, sebenarnya bukan persoalan daya beli, hal itu tidak turun. Orang hanya tunggu momentum saja, tapi momentum itu kelihatannya belum datang. Pilpres selesai tapi muncul isu resesi global, orang akan cenderung wait and see,” tuturnya.

Hingga akhir tahun ini, menurutnya masih ada momentum yang dapat mendorong penjualan hingga akhir tahun yakni, program penjualan pada akhir tahun dan pengenalan produk. Dia mengatakan, 11 produk yang telah diperkenalkan pada tahun ini merupakan upaya untuk menggairahkan pasar.

“Kami melihat pasar itu memang harus di-trigger dengan produk baru apakah itu perubahannya sekadar improvement, ataupun full model. Dua hal itu yang kami manfaatkan. Dibandingkan tahun lalu pengenalan produk kita tahun ini jauh lebih banyak,” ujarnya.

*Berita ini telah direvisi terkait dengan jumlah penjualan kendaraan Astra dan total industri serta periode perbandingannya. Mohon maaf atas kekeliruan sebelumnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
astra international, penjualan mobil

Editor : Galih Kurniawan
KOMENTAR


0 Komentar
Urut berdasarkan
Top