Era Kendaraan Listrik, Industri Pelumas Harus Bertransformasi

Volume produksi industri pelumas dan industri komponen otomotif diperkirakan bakal menyusut seiring adopsi kendaraan elektrik (electric vehicle/EV).
Andi M. Arief
Andi M. Arief - Bisnis.com 12 September 2019  |  06:59 WIB
Era Kendaraan Listrik, Industri Pelumas Harus Bertransformasi
Pelumas. - Perdippi

Bisnis.com, JAKARTA — Volume produksi industri pelumas dan industri komponen otomotif diperkirakan bakal menyusut seiring adopsi kendaraan elektrik (electric vehicle/EV). Kedua sektor industri tersebut dituntut untuk melakukan transformasi.

Masyarakat Pelumas Indonesia (Maspi) menyatakan volume penggunaan pelumas pada EV akan berkurang 50%. Kapasitas produksi pabrikan pelumas pun akan turun. Pasalnya, karakteristik pelumas akan digabungkan dengan cairan pendingin (coolant) yang pemakaiannya lebih sedikit.

“Kalau bicara internal combustion engine, [pemakaian pelumas] bisa 4 liter. Kalau [pada EV] saya hitung bisa sampai sekitar 2 liter. Jadi, akan ada perubahan tren [produksi],” ujarnya Ketua Maspi Barman Tambunan kepada Bisnis, Selasa (10/9/2019).

Berdasarkan catatan Maspi, kapasitas terpasang pelumas di dalam negeri mencapai 2,04 juta kiloliter per tahun oleh 44 unit industri. Adapun, kapasitas produksinya hanya 858.360 atau 42% dari kapasitas terpasang. Produksi tersebut telah memenuhi 75,29% dari kebutuhan pelumas di dalam negeri.

Barman mengatakan pelumas pada era kendaraan listrik dituntut untuk memiliki karakteristik pendingin yang baik. Hal terebut guna menjawab tantangan tingginya suhu mesin penggerak EV (power train). “Pelumas [di mas depan] harus memiliki kualitas khusus itu, tidak bisa dinego lagi.”

Selain itu, Barman mengatakan pelumas untuk komponen EV harus memiliki kualitas tinggi lantaran pelumas tersebut akan bersentuhan langsung dengan berbagai komponen EV yang jarang ditemukan pada kendaraan konvensional seperti modul elektrik, plastik, kabel tembaga, dan komponen-komponen EV lainnya.

Pelumas pada era kendaraan listrik dituntut untuk dapat mendinginkan mesin sekaligus menghilangkan kontaminan akibat gesekan antar komponen. “Jadi, challange-nya high compatible lubbricant. Di Indonesia belum ada yang mampu [memproduksi],” katanya.

Walaupun kapasitas produksi akan berkurang hingga 50% pada era kendaraan listrik, Barman menyampaikan nilai industri pelumas lokal masih akan tumbuh secara organik. Pasalnya, harga pelumas coolant akan tinggi lantaran karakteristik yang rumit dan menggunakan teknologi tinggi.

Terpisah, Wakil Ketua Asosiasi produsen Pelumas Indonesia (Aspelindo) Patrick Adhiatmadja sependapat volume produksi pelumas akan turun pada era kendaraan listrik. Menurutnya, hal tersebut dikarenakan tidak digunakannya mesin pembakaran pada EV.

Namun demikian, Patrick optimis pelumas uang kini diproduksi masih akan digunakan untuk komponen lain seperti sistem transmisi dan penghidupan mesin. “Utilitas [penggunaan pelumas] lebih tinggi, tapi volumenya lebih kecil,” katanya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Industri Pelumas

Editor : Galih Kurniawan
KOMENTAR


0 Komentar
Urut berdasarkan

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Top