Indonesia Belum Siap Bangun Ekosistem Kendaraan Listrik

Pemerintah diharapkan bersiap menghadapi lonjakan pertumbuhan permintaan industri kendaraan bermotor listrik (KBL), meski saat ini Indonesia baru memasuki fase awal industri tersebut.
Ilman A. Sudarwan
Ilman A. Sudarwan - Bisnis.com 11 September 2019  |  16:47 WIB
Indonesia Belum Siap Bangun Ekosistem Kendaraan Listrik
Stasiun Pengisian Listrik Umum (SPLU). - Bisnis/Agne Yasa

Bisnis.com, JAKARTA – Pemerintah diharapkan bersiap menghadapi lonjakan pertumbuhan permintaan industri kendaraan bermotor listrik (KBL), meski saat ini Indonesia baru memasuki fase awal industri tersebut.

Country President Schneider Electric Indonesia Xavier Denoly menyatakan bahwa Indonesia saat ini belum sepenuhnya siap mengembangkan ekosistem KBL. Namun, menurutnya Indonesia telah menentukan arah pengembangan yang tepat untuk menyambut hal itu.

“Indonesia saat ini belum siap tapi Indonesia telah mengambil keputusan untuk menuju arah yang tepat. Tentunya perubahan ekosistem ini tidak akan terjadi dalam semalam, ada rencana besar yang perlu dijalankan jika kita ingin melokalkan manufaktur mobil listrik di Indonesia,” katanya di Jakarta, Rabu (11/9/2019).

Dia mengatakan, berdasarkan tren pertumbuhan KBL di luar negeri, permintaan terhadap kendaraan listrik pada mulanya bergerak lambat. Namun, pada titik tertentu pertumbuhan permintaan KBL dapat tiba-tiba melonjak drastis.

Dia mengatakan, pada 2010—2011 penjualan mobil listrik hampir tidak mengalami pertumbuhan signifikan. Namun, sejak 2012 sampai 2018, pertumbuhan penjualan pertahunnya mencapai kisaran 45%—64%.

Penjualan mobil listrik pada 2018 mencapai 2,1 juta unit secara global, meningkat sekitar 64% dari tahun sebelumnya. Jumlah penjualan mobil ini telah mencakup seluruh model KBL, dari Battery EV, Plug-in Hybrid EV, hingga kendaraan listrik komersial.

“Pertanyaannya bukan lagi haruskah kita mengembangkan ekosistem ini, tapi bagaimana kita mengembangkannya. Masih ada beberapa beberapa tahun untuk bersiap, tapi perlu diantisipasi karena pola pertumbuhannya biasanya lambat, dan tiba-tiba menanjak pada titik tertentu,” katanya.

Untuk mengantisipasi hal itu, menurutnya pemerintah dan regulator perlu memberi insentif secara tepat untuk mendorong permintaan mobil listrik di Indonesia. Di sisi lain, hal itu juga perlu diiringi dengan pembangunan infrastruktur penunjang KBL.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Kendaraan Listrik

Editor : Galih Kurniawan
KOMENTAR


0 Komentar
Urut berdasarkan

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Top