Perang Dagang Guncang Pasar Tenaga Kerja Industri Otomotif Global

Ketidakpastian perang dagang memicu gelombang PHK yang bergulir di industri otomotif global dan terjadi terhadap para pekerja di hampir setiap benua.
Nirmala Aninda
Nirmala Aninda - Bisnis.com 12 Agustus 2019  |  16:59 WIB

Bisnis.com, JAKARTA -- Ketidakpastian perang dagang memicu gelombang PHK yang bergulir di industri otomotif global dan terjadi terhadap para pekerja di hampir setiap benua.

Sejumlah berita utama yang mewarnai isu industri otomotif belakangan ini menunjukkan gambaran suram tentang pemutusan hubungan kerja oleh beberapa perusahaan dalam jumlah dalam upaya untuk menyelamatkan bisnis.

Di Asia, penjualan mobil China kembali mengalami penurunan pada bulan lalu setelah sempat mengalami kenaikan singkat.

Menurut Asosiasi Mobil Penumpang China, penjualan ritel sedan, kendaraan sport, minivan, dan kendaraan multiguna pada Juli turun 5,3% secara tahunan menjadi 1,51 juta unit. Ini merupakan penurunan ketigabelas dalam 14 bulan terakhir.

Dampak dari pelemahan penjualan dan perang tarif yang berlangsung lebih dari 1 tahun ini tidak hanya merugikan bisnis, sejumlah perusahaan multinasional terpaksa menutup pusat produksi mereka di China untuk menghindari kerugian yang lebih dalam.

Dilansir melalui Reuters, produsen Peugeot, PSA Group dan mitranya Dongfeng Group telah mencapai kesepakatan untuk merumahkan ribuan pekerjanya di China dan menutup dua dari empat pusat perakitan bersama mereka.

Dongfeng Peugeot Citroen Automobiles (DPCA), perusahaan patungan pembuat mobil yang berbasis di Wuhan, China tengah, dikabarkan akan mengurangi separuh tenaga kerjanya menjadi 4.000, menutup satu pabrik dan menjual satu pabrik lainnya dalam kesepakatan antara bos PSA Carlos Tavares dan Direktur Dongfeng Zhu Yanfeng.

Berdasarkan rencana, DPCA akan menutup pabrik perakitan Wuhan 1 dan membangun kembali lokasi tersebut dalam kemitraan komersial dengan pemerintah setempat.

Sementara itu, jumlah seluruh pekerja DPCA akan berkurang dari 8.000 menjadi 5.500 pada akhir tahun ini dan menjadi 4.000 dalam 3 tahun ke depan bersamaan dengan rencana penjualan fasilitas Wuhan 2 yang tidak beroperasi.

Hingga berita ini diturunkan, kedua produsen mobil menolak untuk memberikan tanggapan terkait rincian restrukturisasi mereka.

"Kami bekerja dengan mitra kami untuk meningkatkan kinerja bisnis kami secara keseluruhan di China dari berbagai aspek," ujar juru bicara PSA Group seperti dikutip melalui Reuters, Senin (12/8/2019).

PSA tengah berupaya untuk mengembalikan kondisi bisnis yang prima.

Pasar China, yang semula merupakan sapi perah industri otomotif, terkontrasi pada tahun lalu untuk pertama kalinya sejak 1990-an dan diperkirakan kembali melaporkan penurunan pada kisaran 5% untuk tahun ini akibat perang dagang dengan Amerika Serikat yang terus memburuk.

Banyak produsen mobil barat telah lebih dulu mengalami tekanan bahkan sebelum penualan dilaporkan mengalami penurunan karena sebuah gerakan pada konsumen China yang lebih memilih produsen domestik yang lebih asertif.

Pelemahan pesanan juga terjadi di Jepang, khususnya pada Nissan Motor Co. yang mengumumkan rencana PHK belasan ribu pekerjanya di seluruh dunia setelah laporan laba perusahaan disampaikan anjlok 99%.

"Sekitar 12.500 pekerja, sebagian besar di bidang manufaktur, akan dikurangi secara global," ujar pembuat mobil yang berbasis di Yokohama, Jepang, melalui sebuah pernyataan bulan lalu.

Jumlah tersebut mewakil sekitar 1/10 dari total tenaga kerja Nissan dan jauh melampaui rencana PHK 4.800 pekerja yang diumumkan pada Mei.

Pendapatan Nissan turun sebesar 13% menjadi 2,37 triliun yen dalam laporan yang disampaikan pada Juli 2019, ini merupakan penurunan tertajam sejak krisis keuangan global satu dekade lalu. Selama kuartal kedua, Nissan menjual 1,23 juta unit mobil atau turun sebesar 6%.

Nissan mengatakan pihaknya juga akan memangkas kapasitas produksi global sebesar 10% pada akhir tahun fiskal 2022 dan mengurangi jajaran produknya 10% pada periode itu untuk meningkatkan daya saing produk.

Pemutusan hubungan kerja yang drastis dan langkah-langkah restrukturisasi mengingatkan pada apa yang dilakukan Ghosn pada awal 2000-an untuk menarik Nissan dari ambang kebangkrutan, dan juga setelah krisis keuangan global 2008.

Produsen mobil asal Jepang tersebut memproyeksikan prospek untuk tahun fiskal ini dengan perkiraan laba operasional sebesar 230 miliar yen dengan pendapatan sekitar 11,3 triliun yen.

Nissan, yang memiliki siklus produk yang tidak sinkron dan jajaran model kendaraan yang tidak diperbaharui, melaporkan penurunan penjualan kendaraan di AS turun 15% pada Juni, menyebabkan penurunan tahun ini menjadi 8,2%. Pengiriman di China, pasar terbesar Nissan, turun 0,3% pada semester pertama.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
perang dagang AS vs China

Editor : Achmad Aris
KOMENTAR


0 Komentar
Urut berdasarkan

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top