Bahan Baku Jadi Tantangan Produksi Baterai Mobil Listrik di Dalam Negeri

Gabungan Pengusaha Elektronik menyatakan ekosistem industri nasional kurang mendukung pembangunan industri baterai mobil elektrik di dalam negeri.
Andi M. Arief
Andi M. Arief - Bisnis.com 09 Agustus 2019  |  06:07 WIB
Bahan Baku Jadi Tantangan Produksi Baterai Mobil Listrik di Dalam Negeri
Produksi prototipe sel baterai masa depan. - BMW

Bisnis.com, JAKARTA — Gabungan Pengusaha Elektronik (Gabel) menyatakan ekosistem industri nasional kurang mendukung pembangunan industri baterai mobil elektrik di dalam negeri. Pasalnya, pasokan bahan baku baterai mobil listrik, lithium, tidak bisa dipasok oleh tambang-tambang lokal.

Ketua Gabel Ali Soebroto mengatakan tambang lokal hanya dapat memasok bahan baku campuran baterai mobil listirk yakni nikel. Sementara itu, kebutuhan lithium akan besar lantaran kebutuhan baterai mobil listrik akan besar.

“Apakah Indonesia akan dipilih menjadi production base untuk car battery? Kalau dari sisi material kurang mendukung. Kalau dari jumlah produksi mobil mungkin di kemudian hari,” ujarnya kepada Bisnis, Kamis (8/8/2019).

Ali mengatakan saat ini baterai mobil listrik masih menggunakan baterai lithium mengingat baterai jenis ini memiliki kapasitas penyimpanan daya paling tinggi.

Sementara itu, pabrikan otomotif berharap kehadiran Peraturan Presiden (Perpres) kendaraan listrik dapat membangun kekuatan industri nasional. Importasi kendaraan listrik dapat dilakukan untuk merangsang pasar tetapi untuk jangka panjang harus ada perhatian untuk industri lokal.

Direktur Administrasi, Korporasi dan Hubungan Eksternal PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) Bob Azam mengatakan, cukup atau tidaknya besaran insentif bersifat relatif dan tidak bisa dibandingkan dengan negara lain karena kondisi masing-masing negara yang berbeda-beda.

"Di Indonesia yang jelas kita butuh kendaraan yang efisien dalam penggunaan bahan bakar dan emisi gas buang yang rendah," ujarnya kepada Bisnis.

Saat hadir pada GIIAS 2019, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati memberikan sedikit bocoran beberapa insentif yang disiapkan dalam perpres yang katanya kata itu telah berada di meja Presiden.

Beberapa insentif fiskal yang disiapkan ialah, insentif bea masuk atas importasi kendaran bermotor listrik berbasis baterai (battery electric vehicle/BEV), insentif penjualan atas barang mewah, insentif pembebasan/pengurangan pajak, insentif bea masuk atas importasi mesin, barang dan bahan dalam rangka penanaman modal.

Selain itu terdapat pula penangguhan bea masuk dalam rangka ekspor, insentif bea masuk ditanggung pemerintaha tas importasi bahan baku atau bahan penolong yang digunakan dalam proses produksi, dan insentif pembuatan peralatan SPLU.

Terdapat pula, bantuan modal kerja untuk pembiayaan pengadaan battery swap, insentif pembiayaan ekspor dan insentif fiskal lainnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Mobil Listrik

Editor : Galih Kurniawan
KOMENTAR


0 Komentar
Urut berdasarkan

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top