Alasan Industri Kendaraan Listrik Harus Orientasi Ekspor

Pengembangan kendaraan listrik dinilai harus berorientasi ekspor karena penambahan jumlah kendaraan dapat tidak akan menyelesaikan masalah kemacetan, khususnya di kota-kota besar di Indonesia.
Wibi Pangestu Pratama
Wibi Pangestu Pratama - Bisnis.com 26 Februari 2019  |  10:00 WIB
Alasan Industri Kendaraan Listrik Harus Orientasi Ekspor
Model berfoto dengan bus listrik produksi PT Mobil Anak Bangsa (MAB) pada ajang GAIKINDO Indonesia International Commercial Vehicle Expo (GIICOMVEC) 2018 di Jakarta, Sabtu (3/3/2018). MAB mendapatkan komitmen pembelian 200 unit dengan nilai diperkirakan mencapai Rp700 miliar. - Bisnis.com/Dwi Prasetya

Bisnis.com, JAKARTA – Pengembangan kendaraan listrik dinilai harus berorientasi ekspor karena penambahan kendaraan tidak akan menyelesaikan masalah kemacetan, khususnya di kota-kota besar di Indonesia.

Hal tersebut disampaikan Direktur Center of Reform on Economics (Core) Indonesia Mohammad Faisal kepada Bisnis, Senin (25/02/2019) malam. Faisal menjelaskan, selama ini industri otomotif telah pasar dalam negeri dan kendaraan akan bertambah seiring dikembangkannya proyek kendaraan listrik.

Penambahan jumlah kendaraan tersebut, menurut Faisal, dapat menghambat penyelesaian masalah kemacetan yang terjadi di Indonesia. Untuk itu, dia menilai, pengembangan kendaraan listrik perlu berorientasi ekspor.

"Di dalam negeri juga ada masalah kemacetan di kota-kota besar, perlu mengendalikan populasi kendaraan sesuai kapasitas dan infratruktur kita," ujar Faisal.

Selain itu, Indonesia pun dinilai masih kalah dalam kecepatan ekspor kendaraan listrik dibandingkan negara tetangga, Thailand. Pengembangan industri kendaraan listrik yang berorientasi ekspor menurut Faisal dapat mendorong geliat industri dalam negeri.

Pasar ekspor pun, menurut Faisal, potensial untuk digarap, tecermin dari pertumbuhan permintaan kendaraan listrik secara global. Berdasarkan riset Posco, penjualan kendaraan listrik secara global pada 2019 diproyeksikan mencapai 4 juta unit atau lebih meningkat 103,04% dibandingkan dengan 2018.

Pada 2018 penjualan kendaraan listrik secara global mencapai 1,97 juta unit, meningkat 50,25% dibandingkan dengan 2017 sejumlah 980.000 unit.

Untuk menjangkau pasar ekspor, menurut Faisal, perlu spesialisasi produk sesuai tujuan ekspor. "Mobil listrik di negara maju itu [jenis] sedan, berarti waktunya masuk ke jenis otomotif sedan, kita kalah dari Thailand [dalam ekspor kendaraan listrik] karena masih fokus di [produksi] SUV dalam negeri," tambahnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Mobil Listrik

Editor : Fatkhul Maskur
KOMENTAR


0 Komentar
Urut berdasarkan

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top