Kemenperin Dorong Daur Ulang Otomotif

Kementerian Perindustrian mendorong implementasi industri daur ulang atau recycle industry pada sektor otomotif. Konsep tersebut dinilai mampu mendongkrak daya saing ekspor manufaktur, sekaligus berkontribusi dalam menerapkan circular economy yang menjadi bagian dari industri 4.0.
Thomas Mola | 07 Februari 2019 20:00 WIB
Robot pekerja tengah menyelesaikan proses produksi kendaraan bermotor. - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA--Kementerian Perindustrian mendorong implementasi industri daur ulang atau recycle industry pada sektor otomotif. Konsep tersebut dinilai mampu mendongkrak daya saing ekspor manufaktur, sekaligus berkontribusi dalam menerapkan circular economy yang menjadi bagian dari industri 4.0.

Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto mengatakan, para pelaku industri otomotif nasional perlu terus meningkatkan daya saing dengan bersinergi mengusung ekonomi berkelanjutan melalui daur ulang, salah satunya plastic recycle. Tren saat ini, komponen besar dalam kendaraan seperti, bumper, fender, dan dashboard pada mobil tidak lagi menggunakan stainless steel, tetapi menggunakan kandungan plastik

“Plastik itu bukan sampah, dari segi cost plastik adalah bahan baku yang relatif lebih kompetitif dibanding yang lain, dan menyerap emisi lebih rendah,” ujarnya dalam keterangan resmi, Kamis (7/2).

Airlangga menilai jika industri otomotif menggunakan virgin plastic, maka biaya produksi akan lebih mahal. Terlebih apabila dengan impor virgin plastic, kebutuhan devisa akan menjadi lebih tinggi, karena saat ini Indonesia baru mampu memproduksi satu juta ton virgin plastic, padahal kebutuhannya mencapai 5 juta ton.

Menperin menilai, kapasitas daur ulang plastik di Tanah Air masih jauh dari standar, padahal masih bisa ditingkatkan. Saat ini, di dalam negeri baru mampu mendaur ulang 12,5% dari standar industri yang seharusnya yakni 25%.

Dia menyebutkan, salah satu implementasi industri daur ulang di sektor otomotif yang sudah berjalan adalah pembuatan blok mesin di mana 80% sudah menggunakan material daur ulang.

“Karena aluminum alloy itu masuk recycle material, saya tegaskan kembali bahwa recycle industry ini adalah sesuatu yang harus dilakukan, jadi tidak perlu khawatir,” tambahnya.

Subtitusi Impor

Airlangga menambahkan, ekonomi berkelanjutan ini merupakan salah satu upaya pemerintah dalam mengimplementasikan kebijakan substitusi impor yang menjadi prioritas Kementerian Perindustrian pada 2019, sehingga sebisa mungkin bahan baku yang tadinya impor, dibuat di dalam negeri.

“Sekarang pemerintah sudah memakai formula, untuk mengurangi impor adalah substitusi impor, kemudian untuk mendorong ekspor dengan meningkatkan investasi berorientasi ekspor,” imbuhnya.

Dengan formula yang diterapkan tersebut, diharapkan terjadi loncatan pertumbuhan ekonomi nasional yang signifikan. Karena, kata Airlangga, target Making Indonesia 4.0 adalah capaian 10 besar perekonomian terkuat di dunia pada 2030.

Kemudian untuk meningkatkan investasi yang berorientasi ekspor, pemerintah menggenjot melalui keringanan pajak antara lain tax holiday dan super deductible tax atau pengurangan pajak di atas 100%.

“Insentif fiskal ini akan diberikan kepada industri yang terlibat dalam program pendidikan vokasi serta melakukan kegiatan penelitian dan pengembangan (litbang) untuk menghasilkan inovasi,” tegas Airlangga.

Airlangga menyampaikan, penerapan super deductible tax sejalan dengan inisiatif di dalam peta jalan Making Indonesia 4.0. Artinya, pemberian fasilitas ini selain melengkapi insentif fiskal tax allowance dan tax holiday, akan mengakselerasi industri manufaktur nasional agar siap menuju revolusi industri 4.0.

“Insentif pajak ini juga diberikan guna mempercepat peningkatan kompetensi sumber daya manusia (SDM) Indonesia dalam menyongsong revolusi industri keempat. Untuk bertransformasi ke era industri digital, dibutuhkan reskilling agar mereka mampu berkompetisi,” paparnya.

Tag : daur ulang
Editor : Fatkhul Maskur
KOMENTAR


0 Komentar
Urut berdasarkan

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top