INDUSTRI ALAT BERAT, Peluang Infrastruktur dan Hantu Impor Alat Berat Bekas

APBN 2018 yang sudah diketuk DPR sebagai tanda persetujuan atas RAPBN yang disusun pemerintah menempatkan angka alokasi belanja sebesar Rp 2.220 triliun. Dari angka tersebut, sebanyak Rp410,7 triliun dialokasikan untuk belanja infrastruktur.
Saeno
Saeno - Bisnis.com 26 Oktober 2017  |  13:29 WIB
INDUSTRI ALAT BERAT, Peluang Infrastruktur dan Hantu Impor Alat Berat Bekas
Chief Administration Officer Trakindo Maria T Kurniawati (tengah), berfoto bersama Branch Manager Trakindo Balikpapan Andi Mauraga (kanan) dan Mining Product Lifecycle Manager Haris Dini Muharyanto saat peluncuran Dozer Cat D9T di Balikpapan, Rabu (25/10/2017). - Bisnis.com/Saeno

Bisnis.com, JAKARTA - APBN 2018 yang sudah diketuk DPR sebagai tanda persetujuan atas RAPBN yang disusun pemerintah menempatkan angka alokasi belanja sebesar Rp2.220 triliun. Dari angka tersebut, sebanyak Rp410,7 triliun dialokasikan untuk belanja infrastruktur.

Adapun turunan dari alokasi belanja infrastruktur pada tahun depan adalah pembangunan di bidang infrastruktur dasar seperti jalan, irigasi, listrik dan hunian.

Untuk pembangunan jalan, direncanakan akan ada pembangunan 865 km jalan. Selain itu, juga dialokasikan untuk pembangunan 781 km irigasi, peningkatkan rasio elektrifikasi ke angka 95,15%, serta pembangunan 13.405 unit rusun.

Penetapan anggaran belanja pemerintah tentu menjadi harapan berbagai industri terkait untuk bisa kebagian “kue” pembangunan. Demikian pula dengan industri alat-berat.

Sempat mengalami pelambatan beberapa masa ke belakang, seiring melemahnya harga komoditas batubara, proyek infrastruktur pemerintah tak pelak menjadi salah satu pasar yang dinantikan kalangan industri alat berat. Termasuk Trakindo Utama.

“Kami siap mendukung program pemerintah,” ujar Maria T. Kurniawati, Chief Administration Officer Trakindo Utama, saat bincang-bincang di sela makan malam di Balikpapan, Selasa (24/10/2017).

Salah satu situasi di Workshop Trakindo di Jalan Pulau Balang, Karang Joang, Balikpapan./Bisnis.com-Saeno

Maria menyebutkan pertumbuhan industri alat berat nasional saat ini menunjukkan tren postif dan berada pada kisaran 40%-45% dari angka pertumbuhan tahun sebelumnya.
Dari keseluruhan industri alat berat, Trakindo mengisi pangsa pasar sekitar 20%.

Menjadi salah satu pemain di industri alat berat, sebagai distributor tunggal produk Caterpillar di Indonesia, konon juga yang terbesar di Asia Tenggara, Trakindo memilki peran tersendiri dalam industri mining atau pertambangan.

Maria menyebutkan alat berat untuk industri mining memberi kontribusidalam kinerja penjualan Trakindo. Di sisi lain, dia juga melihat peluang yang cerah di sisi produk marine engine.

Itu sebabnya, Trakindo menyediakan satu lokasi khusus untuk mendukung program kemaritiman pemerintah. “Kami menyiapkan Tarakan untuk marine,” ujar Maria sebelum meresmikan peluncuran produk baru dozer Cat D9T, Rabu (25/10/2017) siang.

Terkait pemain industri alat berat bidang pertambangan, Maria menyebutkan bahwa pemainnya masih bisa dihitung dengan jari. Inikah sebabnya Trakindo menjadi salah satu yang berjaya di bidang penyediaan alat berat sektor pertambangan? Maria tidak memberi penegasan secara pasti.

Selain sektor mining, sektor infrastruktur pun menjadi bagian yang tidak kalah menariknya. Terlebih seiring program pemerintah yang menggenjot pembangunan infrastruktur, industri alat berat pun memiliki peluang untuk berpartisipasi.

Sejumlah BUMN Karya yang selama ini menjalankan proyek infrastruktur pemerintah menjadi peluang yang sedang disasar industri alat berat, tentunya tak terkecuali Trakindo. Menjelang LKPP 2018, bersama perusahaan sejenis, Trakindo niscaya akan berlombang memasarkan produk dengan kelebihannya masing-masing.

Tapi, persaingan tak hanya di kalangan pelaku industri alat berat yang selama ini sudah berada di Indonesia. Ancaman lain yang juga harus diperhitungkan adalah impor alat berat bekas ke Indonesia.

Impor alat berat bekas ini menjadi hal yang mengganggu kalangan industri ini. Pada Februari 2016, misalnya, Himpunan Alat Berat Indonesia (Hinabi) sempat menyampaikan harapan agar pemerintah mengkaji ulang Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) no. 127 tahun 2015 tentang Ketentuan Impor Barang Modal dalam Keadaan Tidak Baru, yang memungkinkan end user bisa mengimpor alat berat secara langsung.

Sementara pada 2017, Hinabi mencatat hingga September, produksi alat berat konstruksi dan pertambangan sudah mencapai 4.036 unit atau 9,73% di atas capaian produksi sepanjang tahun lalu.

Alat jenis hydraulic excavator berkotribusi paling tinggi dengan 3.580 unit atau 88,70% dari total volume produksi, diikuti oleh bulldozer 288 unit, dump truck 92 unit, dan motor grader 76 unit.

Meski masih jauh dari capaian 2011—2012, pertumbuhan industri alat berat bisa dikatakan sudah sangat positif (Bisnis, Jumat, 20 Oktober 2017.

Kini, pembangunan infrastruktur memberi peluang bagi terserapnya alat berat. Namun, impor alat berat bekas menjadi hantu tersendiri. Lantas, bagaimana hal itu disikapi kalangan industri seperti Trakindo?

Maria mengatakan, perkara impor alat berat bekas merupakan dinamika bisnis yang mau tidak mau harus dihadapi. Meski begitu, dengan kalimat pendek, dia berujar, “walau pun hal itu akan menambah crowded.”

 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
trakindo

Editor : Saeno
KOMENTAR


0 Komentar
Urut berdasarkan

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Top