Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Mobil Penumpang Topang Pembiayaan MTF

PT Mandiri Tunas FInance (MTF) mencatat penjualan kendaraan hingga akhir triwulan III/2016 didominasi mobil penumpang.nn
Anggara Pernando
Anggara Pernando - Bisnis.com 28 Oktober 2016  |  20:25 WIB
Ilustrasi Mandiri Tunas Finance - mtf.co.id
Ilustrasi Mandiri Tunas Finance - mtf.co.id

Bisnis.com, JAKARTA -- PT Mandiri Tunas FInance (MTF)  mencatat penjualan kendaraan hingga akhir triwulan III/2016 didominasi mobil penumpang.

Ignatius Susatyo, Direktur Utama MTF menuturkan tahun lalu segemen mobil penumpang baru 40% dari total bisnis perusahaan. Adapun mobil niaga menyumbangkan 60% bisnis. Pola ini berubah sepanjang 2016.

"Saat ini mobil penumpang menjadi sumber utama pembiayaan perusahaan. Tercatat segmen ini hingga akhir September 2016 menyumbangkan 80% bisnis perusahaan," ujarnya di Kantor Pusat MTF, Jakarta, Jumat (28/10/2016).

Susatyo menjelaskan peralihan ini, bukan karena perusahaan menolak melakukan pembiayaan mobil niaga. Akan tetapi, kondisi permintaan memang melemah. Dia mengatakan para pengusaha saat ini lebih banyak memaksimalkan kendaraan yang sudah ada tanpa pembelian unit baru.

"Padahal pemerintah menggejot infrastruktur dimana-mana, namun permintaan comercial car malah menurun," kata Susatyo.

Pola ini, kata dia, telah disadari oleh MTF semenjak awal tahun. Untuk itu perusahaan mendorong tenaga pemasar memaksimalkan potensi pembiayaan mobil penumpang.

Sementara hingga akhir triwulan III/2016, Susatyo mengatakan pihaknya telah membukukan pembiayaan Rp13,4%. Jumlah ini tumbuh 11,84% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

“Jadi hingga 30 September kemarin lending kita tumbuh Rp1,9 triliun jika dibanding September tahun lalu," katanya.

Dengan capaian ini, Susatyo optimis dapat mencapai target Rp18 triliun yang ditetapkan pemegang saham. Pasalnya saat ini rata-rata pembiayaan MTF berkisar Rp1,5 triliun perbulan.

Sementara untuk pembiayaan bermasalah net perusahaan, tercatat sebesar 0,86%. Jumlah ini, kata Susatyo secara persentase lebih rendah di bandingkan tahun lalu yang mencapai 0,9%. Namun dibandingkan triwulan sebelumnya, jumlah kredit bermasalah ini relatif sama. Namun angka ini lebih baik dibandingkan ketentuan otoritas dimana NPF maksimal sebesar 5%.

"Kami berusaha menekan kredit dengan menseleksi nasabah [lebih ketat]," katanya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

multifinance mandiri tunas finance
Editor : Martin Sihombing
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top