Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

50% Pengusaha IKM Komponen Otomotif Beralih Jadi Pedagang

Forum Industri Kecil dan Menengah Jawa Barat mengungkapkan hampir 50% industri kecil menengah (IKM) komponen otomotif sudah beralih menjadi penjual produk impor karena komponen produksi lokal sudah kalah bersaing.
Adi Ginanjar Maulana & Wisnu Wage
Adi Ginanjar Maulana & Wisnu Wage - Bisnis.com 04 Maret 2016  |  19:49 WIB
Industri komponen otomotif - Ilustrasi
Industri komponen otomotif - Ilustrasi

Bisnis.com, BANDUNG - Forum Industri Kecil dan Menengah Jawa Barat mengungkapkan hampir 50% industri kecil menengah (IKM) komponen otomotif sudah beralih menjadi penjual produk impor karena komponen produksi lokal sudah kalah bersaing.

Ketua Forum IKM Jabar K. Fuzy Agus meminta pemerintah segera menyelamatkan IKM karena mayoritasnya sudah tidak mampu lagi memproduksi barang.

"Sekitar 50% pelaku IKM komponen otomotif sudah beralih menjadi pedagang dari barang impor. Sebagian IKM lagi mengalami dilema apakah aktivitasnya bisa dipertahankan atau tidak. Karena untuk usaha baru tidak mudah," katanya kepada Bisnis, Jumat (4/3/2016).

Fuzy menilai selama ini pemerintah kurang perhatian terhadap keberadaan IKM di Jabar, karena terlalu fokus terhadap pembangunan infrastruktur dan investasi skala besar yang membuat sektor IKM dikesampingkan.

Menurutnya, belum banyak kebijakan pemerintah yang efektif dapat menggerakan IKM agar berdaya saing. Bahkan, indikasinya IKM Jabar semakin terpuruk.

Pihaknya berharap agar pembangunan infrastruktur dibarengi dengan penggerakan IKM, di mana sektor tersebut merupakan salah satu kontributor besar dalam pertumbuhan ekonomi nasional.

Hal itu, terbukti saat krisis ekonomi 1998 di mana keberadaan IKM mampu menyelamatkan Indonesia dari keterpurukan. "Harus ada perimbangan antara infrastruktur dan penggerakan ekonomi rakyat. Sekarang pelaku usaha tidak mementingkan peningkatan produksi, tapi mempertahankan aktivitas untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari," ungkapnya.

Dia menilai pertumbuhan ekonomi saat ini merupakan kemunduran karena kalangan masyarakat bawah justru mengalami masalah yang luar biasa.

Pihaknya menyoroti tingkat suku bunga perbankan yang masih tinggi di angka dua digiti sangat memberatkan IKM. Padahal, untuk menggairahkan kembali pelaku IKM seharusnya suku bunga pinjaman bisa di bawah 6%.

Di sisi lain, perpajakan juga masih dianggap terlalu berbelit-belit yang membuat pelaku IKM kelabakan. "Di China saja ekspor IKM itu diberi insentif pajak 1%-3%, kalau di Indonesia justru dipersulit," tegasnya.

Oleh karena itu, pemerintah perlu membuat kebijakan yang tepat agar pelaku IKM dapat meningkatkan kembali aktivitasnya. "Meski terlambat tapi yang terpenting pelaku IKM bisa tertolong," tuturnya.

Sementara itu, Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan mengemukakan pihaknya sangat mendukung pertumbuhan usaha mikro kecil dan menengah salah satunya melalui kredit cinta rakyat (KCR).

Kredit yang disalurkan melalui Bank BJB tersebut, mendapatkan dukungan dari Pemprov Jabar sehingga suku bunga pinjamannya sangat kecil hanya sekitar 8%. Total pendanaan untuk program KCR mencapai Rp385 miliar dalam dua tahap, dan menyerap 31.000 tenaga kerja.

"Jabar sebetulnya sudah mengawali keberpihakan terhadap UMKM dengan menggulirkan program Kredit Cinta Rakyat (KCR) dan besar pinjamannya hingga Rp50 juta. Ini akan merangsang usaha kecil semakin tumbuh," ujarnya.

 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Komponen Otomotif
Editor : Yusuf Waluyo Jati
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top