Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Program LCGC Disetop? Gaikindo Rela

Sekretaris Umum Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) Noegardjito mengatakan pihaknya tidak mempermasalahkan bila pemerintahan Joko Widodo-Jusuf Kalla menghentikan program mobil murah ramah lingkungan atau "low cost green car" (LCGC).
Martin Sihombing
Martin Sihombing - Bisnis.com 24 September 2014  |  17:04 WIB

Bisnis.com, JAKARTA - Sekretaris Umum Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) Noegardjito mengatakan pihaknya tidak mempermasalahkan bila pemerintahan Joko Widodo-Jusuf Kalla menghentikan program mobil murah ramah lingkungan atau "low cost green car" (LCGC).

"Pengusaha itu kan fleksibel, mengalir seperti air. Kalau misalnya di sini ditanggul, air akan mengalir mencari jalan lain," kata Noegardjito kepada Antara  di Jakarta, Rabu (24/9/2014).

Noegardjito mengatakan belum mau berkomentar lebih lanjut mengenai hal-hal politis, termasuk kemungkinan program LCGC dihentikan oleh pemerintahan Jokowi-JK. Menurut dia, Gaikindo belum tahu kebijakan Jokowi-JK akan seperti apa karena kebinetnya saja belum terbentuk.

"Kabinet saja belum terbentuk, jadi kami belum tahu arahnya. Namun, kami akan mengikuti pemerintah. Program LCGC ini kan kami juga mengikuti pemerintah," tuturnya.

Noegardjito mengatakan LCGC yang hanya memiliki pasar 15 persen dari total penjualan mobil secara nasional sebenarnya tidak terlalu berpengaruh besar. Masih ada 85 persen pasar yang dikuasai mobil-mobil lain.

Gaikindo mencatat total penjualan mobil LCGC sepanjang Januari-Agustus 2014 mencapai 113.752 unit. Mobil produksi Toyota Astra Motor (TAM), Agya, menjadi mobil LCGC yang paling laris dengan penjualan sebesar 46.399 kendaraan.

Sebelumnya, presiden terpilih Jokowi mewacanakan akan menghentikan penjualan mobil LCGC. Pelaksana Tugas Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Andin Hadiyanto mengatakan sedang mengevaluasi kebijakan yang mendasari LCGC karena keberadaan program itu tak sesuai harapan.

Semula, pemerintah mengharapkan LCGC dapat menekan penggunaan bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi karena mobil ini khusus menggunakan BBM nonsubsidi. Namun, para pemilik LCGC ternyata tetap menggunakan BBM bersubsidi.

Pemerintah juga berharap LCGC mendorong ekspor otomotif dengan mensyaratkan ekspor minimal 10 persen dari total produksi. Namun, hal itu juga belum terpenuhi.

Sejak awal, Jokowi yang saat itu menjabat Gubernur DKI Jakarta memang sudah menolak program tersebut karena dinilai akan membuat kemacetan di Jakarta bertambah parah. Berbeda dengan Jokowi, wakilnya Jusuf Kalla merupakan salah satu tokoh yang mendukung LCGC.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

lcgc
Editor : Martin Sihombing

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Banner E-paper
To top