Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Gaikond Klaim LCGC Tak Bikin BBM Bersubsidi Bengkak

Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) menilai kritikan terkait mengecilnya efektivitas penggunaan bahan bakar non subsidi pada mobil LCGC sangat tidak tepat karena hampir semua mobil LCGC sudah menggunakan standar mesin dengan bahan bakar euro 2, dimana kandungan oktannya senilai 91.
Emanuel Tome Hayon
Emanuel Tome Hayon - Bisnis.com 27 Maret 2014  |  17:21 WIB

Bisnis.com, JAKARTA—Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) menilai kritikan terkait mengecilnya efektivitas penggunaan bahan bakar non subsidi pada mobil LCGC sangat tidak tepat karena hampir semua mobil LCGC sudah menggunakan standar mesin dengan bahan bakar euro 2, dimana kandungan oktannya senilai 91.

Ketua I Gaikindo Jongkie D. Sugiharto menilai kritikan yang dilontarkan oleh berbagai pihak dimana kehadiran mobil LCGC membuat kuota BBM bersubsidi membengkak tidak serta merta dibebankan pada kehadiran mobil LCGC.

Menurutnya, semenjak hadirnya mobil LCGC pada pertengahan tahun lalu, ATPM yang memproduksi mobil LCGC sudah mengingatkan kepada konsumen pengguna LCGC untuk menggunakan bahan bakar non subsidi karena mesinnya sudah berstandar euro 2.

“Mobil LCGC kan sudah berstandar Euro 2 jadi tidak mungkin jadi alasannya,” tuturnya, Kamis (27/3).

Dia menerangkan, populasi mobil LCGC yang terus bertumbuh setiap bulannya merupakan salah satu indikator bahwa pasar bergerak baik dan mendorong industri otomotif nasional.

Pengamat senior industri otomotif, Suhari Sargo menilai, untuk menghindari kritikan tersebut, Pemerintah diminta untuk mempercepat regulasi terkait penggunaan bahan bakar non subsidi bagi konsumen pemakai mobil LCGC.

“Kalau sudah ada aturan seperti ini maka bisa terkontrol dan tidak ada asumsi bahwa mobil LCGC menjadikan bbm bersubsidi membengkak,” tuturnya.

Sebelumnya, pada pekan lalu, Kementerian Keuangan melayangkan surat kepada Kementerian Perindustrian (Kemenperin) terkait efektivitas program mobil murah ramah lingkungan atau low cost green car (LCGC) yang selama ini dinilai masih banyak menggunakan BBM bersubsidi.

Hingga saat ini, Kementerian Perindustrian sedang menyiapkan jawaban dengan mengumpulkan data terkait.

Budi Darmadi, Dirjen Industri Unggulan Berbasis Teknologi Tinggi Kementerian Perindustrian, menjelaskan bahwa regulasi LCGC mewajibkan setiap produsen membuat mobil dengan spesifikasi mesin khusus mengonsumsi BBM RON 92 (non-subsidi).

Dengan demikian, sambungnya, konsumen yang mengonsumsi BBM subsidi untuk produk LCGC yang ada di pasar (Agya, Ayla, Karimun WagonR, dan Brio Satya) berarti akan merusak mobilnya sendiri.

Dia menambahkan, sampai saat ini, Kemenperin masih sedang menggodok aturan khusus penggunaan bahan bakar non subsidi bagi pengguna mobil LCGC.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

lgcc
Editor : Martin Sihombing

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper
To top