Bisnis.com, JAKARTA – Emiten komponen otomotif milik konglomerat Theodore Permadi (TP) Rachmat, PT Dharma Polimetal Tbk. (DRMA) menyoroti ancaman banjir impor mobil listrik (battery electric vehicle/BEV) bagi kelangsungan usaha industri komponen lokal.
Presiden Direktur DRMA Irianto Santoso mengatakan, para produsen mobil listrik di Indonesia perlu segera menerapkan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) agar industri suku cadang kendaraan lokal tak semakin tergerus oleh barang impor.
"Kami memandang bahwa tingginya arus impor kendaraan listrik berbasis baterai [BEV] menghadirkan dinamika tersendiri bagi industri otomotif nasional. Tanpa penerapan TKDN yang konsisten, industri komponen dalam negeri berpotensi tertekan," ujar Irianto kepada Bisnis, dikutip Kamis (4/9/2025).
Oleh sebab itu, lanjutnya, perseroan menekankan pentingnya transisi energi yang berlangsung secara bertahap dan berkesinambungan, bukan dilakukan secara drastis.
"Bagi DRMA, dampak jangka pendek terhadap kinerja masih terbatas mengingat porsi terbesar pendapatan berasal dari komponen kendaraan ICE [internal combustion engine]," katanya.
Kendati demikian, DRMA juga telah menyiapkan langkah antisipatif dengan memperluas portofolio produk untuk kendaraan elektrifikasi agar senantiasa sejalan dengan arah perkembangan pasar.
Baca Juga
Perlu diketahui, industri komponen otomotif lokal saat ini kian tertekan, bahkan berujung pada pemutusan hubungan kerja (PHK) massal akibat maraknya produk mobil listrik impor. Meskipun begitu, DRMA menegaskan tidak akan melakukan pemangkasan tenaga kerja dan tetap melanjutkan ekspansi bisnis.
"Hingga saat ini, DRMA tidak melakukan langkah efisiensi berupa pengurangan tenaga kerja. Sebaliknya, kami justru terus melakukan ekspansi untuk memperkuat daya saing perusahaan," kata Irianto.
Saat ini, perseroan tengah merampungkan pembangunan tiga pabrik baru. Salah satunya, fasilitas PT Dharma Kyungshin Indonesia (DKI) di Cirebon yang akan memproduksi wiring harness untuk kendaraan roda empat dengan pasar ekspor ke Amerika Serikat (AS).
Fasilitas tersebut mengalami perluasan dari 17.000 meter persegi menjadi 40.000 meter persegi. Penambahan kapasitas ini diproyeksikan dapat menyerap tenaga kerja tambahan sebanyak 1.500–2.000 orang dari total 2.700 karyawan saat ini.
Alhasil, DRMA memproyeksikan pertumbuhan pendapatan sekitar 10% hingga akhir 2025, seiring fokus memperkuat lini produk existing untuk pelanggan di segmen kendaraan konvensional dan hybrid. Perseroan juga mempercepat diversifikasi ke komponen kendaraan listrik guna menangkap peluang pasar yang berkembang.
"Kami percaya, dengan transisi yang berjalan bertahap serta dukungan regulasi yang tepat, industri komponen lokal dapat berkembang secara beriringan dan mengambil peran penting dalam rantai pasok kendaraan listrik di Indonesia," pungkasnya.