Jokowi, Esemka, dan Curhat Lulusan SMK

"Misteri" mobil Esemka akhirnya terjawab setelah Presiden Joko Widodo meresmikan pabrik PT Solo Manufaktur Kreasi pada pekan lalu.
Chamdan Purwoko
Chamdan Purwoko - Bisnis.com 09 September 2019  |  13:33 WIB
Jokowi, Esemka, dan Curhat Lulusan SMK
Pekerja merakit mesin mobil Esemka di pabrik PT Solo Manufaktur Kreasi, di Boyolali, Jawa Tengah, Jumat (6/9/2019)./JIBI - Bisnis/Chamdan Purwoko

Bisnis.com, JAKARTA -- Tersesat membawa nikmat. Mungkin itu kalimat yang pas untuk menggambarkan pengalaman diusir Pasukan Pengamanan Presiden alias Paspampres.

Ketika itu, saya sedang meliput peresmian pabrik PT Solo Manufaktur Kreasi (SMK) di Desa Demangan, Kecamatan Sambi, Boyolali, Jawa Tengah, Jumat (6/9/2019).

Saat acara seremoni selesai, Presiden Joko Widodo tiba-tiba ingin keliling pabrik melihat stockyard mobil Esemka yang letaknya di area luar pabrik. Dengan cekatan, saya mencoba menempel Jokowi. Mencari posisi terbaik untuk memotret. 

Malang tak bisa ditolak. Tiba-tiba seorang anggota Paspampres nyamperin. Saya pun diusir. Gara-garanya, saya tidak punya ID Pers Istana Presiden.

Dia meminta saya berjalan memutar lewat ruang sebelah. Saya cuma bisa manut saja. Pasrah! 

Tapi, wooow! Ternyata ruang yang saya lewati adalah tempat produksi massal mobil Esemka, yang selama ini tidak pernah terungkap. Tanpa pikir panjang, saya langsung memotret dan merekam. Sepuasnya sampai memori ponsel penuh. 

Pekerja merakit mesin mobil Esemka di pabriknya, PT Solo Manufaktur Kreasi, di Boyolali, Jawa Tengah, Jumat (6/9/2019)./JIBI/Bisnis-Chamdan Purwoko

"Penemuan" ruang produksi ini menjadi jawaban konkret atas "misteri" Esemka sekaligus menganulir berbagai stigma negatif yang melekatinya. 

Selama ini, ada aforisme bahwa Esemka tak mungkin diproduksi massal. Sumber Daya Manusia (SDM) Indonesia dianggap belum mampu. Esemka hanya sekadar kendaraan politik Jokowi.

Ada pula yang bilang Esemka adalah mobil jadi-jadian alias "siluman" yang tak jelas proses pembuatannya. Parahnya lagi, ada yang bilang pabrik Esemka fiktif. 

Esemka juga dipersepsikan sebagai mobil impor dari China yang ganti emblem. Atau mobil jiplakan. Intinya, Esemka adalah teka-teki penuh misteri. 

Suasana pabrik mobil Esemka, PT Solo Manufaktur Kreasi, di Boyolali, Jawa Tengah, Jumat (6/9/2019)./JIBI/Bisnis-Chamdan Purwoko

Namun, dengan melihat langsung ruang perakitan tersebut, terjawab sudah teka-teki dan misteri tadi. Kendaraan dengan merek dan prinsipal Indonesia tersebut benar-benar diproduksi secara massal di sebuah kampung di Boyolali. Tak ada lagi keraguan untuk menyebut PT SMK sebagai perusahaan manufaktur otomotif. 

Di ruang perakitan tersebut, terlihat pekerja sedang sibuk merakit. Berbagai komponen tertata rapi di rak, yang sebagian besar dibuat di Indonesia, seperti pintu, blok mesin, knalpot, disc-pad, per daun, pelek, dan sebagainya. Terlalu banyak untuk disebut satu per satu. 

PT SMK tidak mengimpor mobil utuh (Completely Built-Up/CBU). Apalagi, untuk kemudian diganti emblemnya. Yang diimpor hanyalah bagian-bagian mobil yang belum bisa dibuat di dalam negeri. 

Part yang Telah Digunakan dalam Esemka Bima
PerusahaanKomponen
PT INKATangki BBM
PT INKAChassis
PT IMS + PT Santoso Cipta Dian PrimaGrill
PT Armada Indah Agung GlassKaca depan
PT Armada Indah Agung GlassKaca samping kiri-kanan 
PT Armada Indah Agung GlassKaca belakang
PT Nippress Energi OtomotifAccu
PT Selamat SempurnaFuel filter
PT Selamat SempurnaOil filter
PT Duta Nichrindo PratamaAir filter
PT Bando IndonesiaBelt
PT Gajah TunggalBan
PT InkoaskuVelg
ABC Bawen KaroseriJok
ABC Bawen Karoseri + PT INKABak/kargo
PT Catur Karya ManunggalKnalpot
PT Yogya Presisi Tekuitama IndustriEmblem
Pertamina LubricantsPelumas
PT Fuller Autoparts IndonesiaStarter Assy
PT Fuller Autoparts IndonesiaAlternator Assy
PT IndospringPer daun

Sebagai gambaran, mobil perdana Esemka, yakni model Bima (Bima 1.2L dan Bima 1.3L)--yang dibanderol dengan harga off the road Rp95 jutaan--menyerap komponen lokal setidaknya 60 persen. Lumayan untuk sebuah mobil baru yang dirilis oleh perusahaan yang juga baru.

Sisanya, seperti mesin dan sistem transmisi, memang diimpor dari China. Tapi, itu pun didatangkan secara terurai (Completely Knocked-Down/CKD), untuk selanjutnya dirakit di sini. 

Beberapa komponen mesin impor CKD tadi, diganti dengan buatan lokal seperti blok mesin yang dibuat di Cikarang.

Memang benar, proses perakitan Esemka relatif masih sederhana. Investasinya hanya Rp600 miliar. Padahal, lazimnya investasi pabrik mobil butuh duit triliunan rupiah. 

Hampir seluruh proses produksi dikerjakan secara manual. Maklum, dengan kapasitas maksimal pabrik yang cuma sekitar 60 unit per hari atau 18.000 unit setahun, tentu investasi peralatan yang canggih menjadi terlalu mahal dan tak relevan. 

Part yang akan Digunakan dalam Esemka Bima
PerusahaanKomponen
PT Tokyo Radiator Selamat SempurnaRadiator
PT Anugerah Berkat Cahaya Abadi + PT Dana Paint IndonesiaCat
PasindoBrake shoes
UD Adi Surya GemilangEngine mounting
Koperasi Batur JayaDrum brake
PT Samudera Luas ParamacitraPer daun
PT Samudera Luas ParamacitraShock breaker
PT Usra TampiDash board dan streer wheel
PT Cikarang Perkasa ManufacturingBlok mesin dan transmisi
PT Dasa Windu AgungHead lining
Ngawangga Mitra MuliaFerro casting

Sebagai ilustrasi, tanpa bermaksud membanding-bandingkan dengan merek ternama--karena memang tidak apple-to-apple--kapasitas terpasang satu pabrik milik Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) tujuh kali lipat lebih besar, yakni  mencapai 130.000 unit per tahun. 

Dengan dua pabrik megah yang dimiliki, yakni Karawang Plant 1 dan 2, Toyota punya total kapasitas terpasang 250.000 unit per tahun. Artinya, TMMIN--pabrikan yang 95 persen sahamnya dimiliki Toyota Motor Corporation Jepang dan Astra International 5 persen--memproduksi 1 mobil baru hanya dalam tempo 2,4 menit. Ini berkat penggunaan sistem komputerisasi dan robotik yang canggih. 

Pekerja merakit mesin mobil Esemka di pabriknya, PT Solo Manufaktur Kreasi, di Boyolali, Jawa Tengah, Jumat (6/9/2019)./JIBI/Bisnis-Chamdan Purwoko

Meski proses perakitan Esemka tak secanggih Toyota, Daihatsu, Mitsubishi, Suzuki, atau pabrikan lain yang pernah saya kunjungi, fasilitas produksi mobil lokal ini tetaplah disebut pabrik. Tepatnya pabrik perakitan. Jadi, ini bukan pabrik fiktif.

Bangunan fasilitas pabrik seluas 2,6 hektare (ha) itu berdiri di atas lahan yang totalnya mencapai 11,5 ha. Lahan bekas kebun tebu ini merupakan tanah kas Desa Demangan yang disewa PT SMK selama 30 tahun, dengan sistem pembayaran per tahun. Tiap 3 tahun, harga sewanya dievaluasi untuk disesuaikan dengan tingkat inflasi. 

Sejak mulai beroperasi sekitar 2-3 tahun terakhir, eksistensi pabrik ini benar-benar menciptakan multiplier effect yang cukup besar terhadap perekonomian. Terutama Kabupaten Boyolali.

Dulu, semeter tanah di Desa Demangan hanya dihargai sekitar Rp50.000. Sekarang, harganya melonjak jadi Rp200.000-Rp300.000 per meter.

Dulu, desa ini sepi. Kini mulai ramai. Banyak rumah kos dan beberapa warung makan dibangun. Jalan-jalan diperbaiki. Aktivitas ekonomi kian menggeliat. 

Sejumlah pekerja dalam produksi mobil Esemka di pabrik PT Solo Manufaktur Kreasi, Boyolali, Jawa Tengah, Jumat (6/9/2019)./JIBI/Bisnis-Chamdan Purwoko

Dulu, banyak pemuda desa menganggur. Sekarang, jumlahnya berkurang karena pabrik Esemka memberi pekerjaan bagi sekitar 220 orang. 

Kalau sedang memaksimalkan kapasitas produksi bulanan, jumlah pekerjanya bisa mencapai 300 orang. Sebagian besar adalah pemuda-pemudi setempat lulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). Dan, mungkin saja di antara para pekerja itu adalah teman, ipar, kerabat, atau keluarga kita. 

Dengan nilai tambah domestik dan multiplier effect yang cukup besar, kenapa masih saja banyak orang yang mencibir dan nyinyir? Mengapa karya anak bangsa ini tidak disambut dengan impresif dan rasa bangga? 

Dua pekerja pabrik yang sempat saya temui--tidak bersedia disebut namanya--mengaku tak bisa memahami mengapa mobil Esemka yang mereka rakit banyak dicibir orang. 

"Kalau tidak suka Esemka, ya enggak usah beli. Tapi, jangan nyinyir dong. Itu sama saja ngeremehin kami. Saya sebenarnya sakit hati. Tapi, ya sudahlah," kata salah satu pekerja yang berasal dari Sambi itu. 

 Pekerja merakit mesin dalam produksi mobil Esemka di pabrik PT Solo Manufaktur Kreasi, Boyolali, Jawa Tengah, Jumat (6/9/2019)./JIBI/Bisnis-Chamdan Purwoko

Baginya, Esemka adalah sumber kehidupan baru bagi keluarganya, yang selama ini turun temurun hidup sebagai petani. Dari penghasilannya, dia bisa ikut membantu ayahnya untuk menambah uang sekolah adiknya, terutama ongkos naik angkutan umum.

Dia berharap ke depan, tidak ada lagi orang nyinyir.

"Saya sih enggak berharap orang-orang bangga pada mobil Esemka. Tidak nyinyir saja, saya sudah senang. Cukup saya saja yang bangga sebagai karyawan di sini," ujarnya, sambil memasang baut di mesin yang sedang dirakitnya.

Sikap nyinyir terhadap mobil Esemka memang susah dimengerti penyebabnya. Sebab, secara faktual sesungguhnya tidak ada yang keliru dengan model bisnis Esemka. 

Semua regulasi telah dipenuhi. Model Bima yang kini diproduksi massal juga sudah lulus berbagai standar yang ditetapkan di sektor otomotif.

Dia tidak disubsidi negara. Tidak juga memperoleh fasilitas fiskal khusus dan perlakuan spesial dari pemerintah.

Proses produksi mobil Esemka di pabriknya, PT Solo Manufaktur Kreasi, di Boyolali, Jawa Tengah, Jumat (6/9/2019)./JIBI/Bisnis-Chamdan Purwoko

Program mobil nasional--seperti halnya pengembangan merek Timor (singkatan dari Teknologi Industri Mobil Rakyat) dengan segala fasilitas khusus yang diberikan pemerintah pada tahun 1990an--kini sudah tidak ada lagi. 

Andaipun pemerintah memberikan fasilitas fiskal secara khusus kepada Esemka, di era serba transparan saat ini, tidak mungkin hal itu bisa disembunyikan. APBN sudah begitu transparan. DPR juga begitu ketat mengawasi penggunaan anggaran. 

Sebagai orang yang mempopulerkan Esemka, Jokowi pun hanya membantu lewat doa dan semangat. Tidak lebih. Tidak kurang. 

Kalaupun desain Esemka Bima dipersoalkan karena dianggap menjiplak pikap buatan Chang'an Automobile Co Ltd, China, cara ini pun lazim dilakukan di industri otomotif. Tidak ada yang salah dengan jiplak-menjiplak. Mengganti emblem atau rebadge juga jamak dilakukan pabrikan mobil global. 

Jika Chang'an keberatan desain mobilnya dijiplak, maka perusahaan yang berpusat di Chongqing tersebut sudah pasti akan menuntut secara hukum. Dan, itu bukan urusan siapapun. Itu sepenuhnya urusan manajemen PT SMK. 

Faktanya, mobil Esemka kini sudah diprodiksi massal di dalam negeri. Pekan ini mulai didistribusikan.  

Tentu, jangan berharap seketika terwujud produk mobil hebat dengan pabrik yang megah. Atau bermimpi Esemka mampu menyerap komponen lokal sampai 90 persen, setara dengan Avanza. 

Seperti bayi, segala hal lahir dari kecil. Bayi tidak akan mampu hidup sendiri. Harus dibantu. Minimal dengan menghargai dan mengapresiasi karya anak negeri. 

Sebab, pasar dalam negeri jelas akan jadi tumpuan Esemka. Tak mungkin dia bisa menembus pasar ekspor, jika di pasar domestik justru dicibir. 

Dalam pidato peresmian pabrik PT SMK, Jokowi bilang mobil Esemka, yang merupakan sebuah brand dan prinsipal Indonesia, harus didukung.

"Asalkan kita sebagai sebuah bangsa mau menghargai karya kita sendiri, produk ini pasti akan laku," ucapnya. 

Bahkan, dia berseloroh, "Saya tidak mau memaksa Anda untuk beli. Tapi, saya sudah coba dan ini produk yang bagus. Kebangetan kalau maunya beli merek luar saja."

Pengecekan akhir mobil Esemka yang sudah selesai dirakit di pabriknya, PT Solo Manufaktur Kreasi, di Boyolali, Jawa Tengah, Jumat (6/9/2019)./JIBI/Bisnis-Chamdan Purwoko

Presiden mengakui tidak mudah membangun industri otomotif dan menjaganya terus survive. Oleh karena itu, Jokowi memuji keberanian PT SMK  mewujudkan industri mobil lokal dengan segala risiko bisnis di dalamnya.

"Kita harus acungi jempol keberanian PT SMK," tuturnya. 

Jokowi memastikan akan terus mendukung produk dan merek lokal.

"Ini mobil negeri sendiri. Kita semua harus bangga. Dan, itulah alasan kenapa saya mau meresmikan pabrik Esemka," jelasnya.

Sebab, kata Jokowi, kalau bangsa sendiri saja tidak mau berbangga dan mencintai produk dalam negeri, maka tak layak berharap bangsa lain mau menghargainya.

"Bangga dan mencintai produksi dalam negeri harus dimulai dari diri sendiri," tegasnya. 

Ya, benar kata Presiden Jokowi. Kalo bukan kita yang bangga pada produk lokal, siapa lagi?

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
fokus, Mobil Esemka

Editor : Annisa Margrit
KOMENTAR


0 Komentar
Urut berdasarkan

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Top