CEPA Diteken, Seberapa Besar Peluang Ekspor Mobil Indonesia ke Australia?

Comprehensive Economic Partnership Agreement (CEPA) antara Indonesia dan Australia telah diteken pada awal Maret 2019. Bagaimana peluang ekspor mobil Indonesia ke Negeri Kangguru?
Kahfi
Kahfi - Bisnis.com 11 Maret 2019  |  17:43 WIB
CEPA Diteken, Seberapa Besar Peluang Ekspor Mobil Indonesia ke Australia?
Infografis pasar mobil di Australia dan produksi otomotif Asean. - Bisnis/Husin Parapat

Bisnis.com, JAKARTA -- Meskipun Indonesia-Australia Comprehensive Economic Partnership Agreement (IA-CEPA) sudah resmi diteken, tapi kesepakatan dagang tersebut dinilai belum mampu membuka lebih lebar peluang menggenjot ekspor mobil.

Padahal, sektor otomotif merupakan salah satu industri yang diunggulkan oleh Pemerintah Indonesia untuk misi penguasaan pasar global.

Berdasarkan catatan Bisnis, ada tiga hal utama yang menjadi hasil perjanjian IA-CEPA. Pertama, soal akses pasar barang. Dengan diberlakukannya IA-CEPA, Australia mengeliminasi semua pos tarifnya (6.474 pos tarif) menjadi 0%.

Kedua, peningkatan Sumber Daya Manusia (SDM) melalui program pertukaran tenaga kerja antar perusahaan Indonesia-Australia dalam rangka transfer know how, investasi kerja sama high skilled workers, serta penambahan kuota Work and Holiday Visa (WHV).

Ketiga, Indonesia dan Australia akan membuka akses lebih besar untuk servis dan investasi (services and investment), khususnya di sektor tambang, energi, besi dan baja, jasa keuangan, sekolah kejuruan (vocational education), pariwisata, kesehatan, serta agribisnis.

Menteri Perdagangan RI Enggartiasto Lukita (kanan) berjabat tangan dengan Menteri Perdagangan, Pariwisata, dan Investasi Australia Simon Birmingham (kiri) setelah menandatangani Indonesia-Australia Comprehensive Economic Partnership Agreement (IA-CEPA) di Jakarta, Indonesia, Senin (4/3/2019)./Reuters-Willy Kurniawan

Lagi-lagi, sewaktu menengok kesiapan industri, ambil saja yang berlabel unggulan atau prioritas, Indonesia belum bisa berharap terlalu banyak. Termasuk, sektor otomotif.

Sejak satu dekade belakangan, Australia ditinggal pergi banyak manufaktur otomotif. Pasar Australia serta kondisi keuangan global dianggap tak menguntungkan bagi para produsen mobil membuka lapak produksi di Negeri Kangguru.

Satu per satu pabrikan menyatakan menutup pabrik. Mulai dari Ford, Toyota, hingga merek lokal Holden besutan General Motors (GM), ikut hengkang.

Walaupun tak ada produksi dalam negeri, bukan berarti penduduk Australia enggan membeli mobil baru. Jumlah populasi Australia tak membeludak seperti Indonesia, tapi dalam selera memiliki kendaraan, negeri tersebut mampu menyerap jutaan mobil baru setiap tahun.

Hingga tahun lalu, pasar mobil Australia sedikit di atas Indonesia, yakni sebesar 1,15 juta unit. Australia mengimpor penuh permintaan mobil itu dari luar negeri, terutama dari Thailand, Jepang, China, dan India.

Sejak lima tahun belakangan, volume pasar mobil di sana tidak bergeser jauh. Permintaan pasar tertinggi terjadi pada 2016, sebanyak 1,17 juta unit.

Karakter pasar itu pun hampir serupa dengan Indonesia. Mobil penumpang mendominasi permintaan pasar Australia.

Mobil penumpang jika digabung dengan tipe Sport Utility Vehicle (SUV), setiap tahun bisa mencapai 70% dari total pasar di negeri tersebut. Mobil penumpang kerap kali diisi jenis mobil sedan ataupun crossover, sedangkan SUV serta mobil komersial yang paling banyak diburu tak lain adalah kabin ganda.

Lihat saja daftar merek mobil paling laris, antara lain Mazda 3, Toyota Corolla, Camry, Holden Toyota RAV 4, dan Hyundai i30. Selain itu, mobil-mobil kabin ganda seperti Toyota Hilux, Ford Ranger, serta Isuzu D Max mencatatkan penjualan moncer.

Lebih jauh, wajah pasar otomotif Australia makin menunjukkan bahwa kondisinya nyaris kembar dengan Indonesia. Dari sisi merek, Toyota mendominasi penjualan selama lima tahun belakangan.

Rata-rata, penjualan Toyota di Australia mencapai 200.000 unit per tahun. Dengan hitungan tersebut, merek asal Jepang itu menguasai rata-rata 17,5% pasar otomotif.

Selama lima tahun itu pula, pabrikan Jepang lainnya yaitu Mazda membuntuti Toyota di peringkat kedua penjualan terbanyak. Tentunya, prestasi Mazda itu setelah terlemparnya Holden, yakni merek lokal dari pabrikan GM yang menyuntik mati produksi.

Seorang pengendara sepeda melintas di depan gudang milik General Motors (GM) di Melbourne, Australia, Selasa (2/6/2009)./Reuters-Mick Tsikas

Penjualan Mazda rata-rata mencapai 100.000 unit per tahun. Dengan begitu, Mazda mencaplok pangsa pasar hingga 9%-10% per tahun.

Situasi industri seperti itu melemparkan Holden dari radar lima teratas penjualan terbanyak di Australia. Di luar merek Jepang, hanya Hyundai dan Ford yang mampu menembus peringkat sepuluh besar produk paling diminati.

Hyundai mampu menjaring penjualan hingga 100.000 unit per tahun. Pabrikan asal Korea Selatan (Korsel) itu menempel ketat kinerja Mazda.

Adapun Ford selaku pabrikan asal AS, seringkali harus berjuang mati-matian untuk menggapai peringkat lima besar di Australia. Sebab, di bawahnya, ada Mitsubishi yang terus menguntit posisi penjualan Ford yang tercatat rata-rata mencapai 80.000 unit per tahun.

Ekspor Masih Sukar
Selepas CEPA diteken, ekspor mobil dari Indonesia ke Australia dinilai masih sukar. Bukan soal volume dan kemampuan yang merintangi ekspansi mobil besutan Indonesia, melainkan kecocokan strategi prinsipal otomotif.

Sejauh ini, untuk kawasan Asean, raksasa otomotif dunia--termasuk yang berasal dari Jepang--lebih memilih Thailand sebagai pangkalan induk. Di Negeri Gajah Putih, prinsipal membangun basis produksi tipe mobil dengan kasta lebih tinggi, seperti sedan maupun SUV.

Indonesia banyak kebagian untuk produk jenis Multi Purpose Vehicle atau MPV. Walaupun sama-sama berfungsi sebagai mobil penumpang, tapi MPV, sedan, dan SUV mempunyai perbedaan mencolok.

“Di sana tidak menggunakan Avanza atau bahkan Innova, yang ada Camry,” ungkap Ketua Institut Otomotif Indonesia (IOI) Made Dana Tangkas, yang juga menjabat sebagai Direktur PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN), kepada Bisnis, baru-baru ini.

Xpander diproduksi di pabrik Mitsubishi di Greenland International Industrial Center (GIIC) Deltamas, Bekasi. /Bisnis.com

Untuk bersaing mengisi ceruk pasar Australia, negeri ini diminta melobi para prinsipal. Utamanya, kata Made Dana, untuk menggiring produk yang biasa dibesut di Jepang ataupun Thailand.

Ketua I Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) Jongkie D. Sugiarto melontarkan pendapat senada. Menurutnya, lobi kepada prinsipal agar pabrik di Indonesia bisa dijadikan pangkalan produksi ke wilayah Australia serta beberapa negara di Samudera Hindia harus dilakukan pemerintah.

“Atau berikan tawaran insentif untuk produksi mobil yang sesuai pasar global, seperti sedan,” tambah Jongkie.

Kesiapan Indonesia
Di sisi lain, Jongkie mengungkapkan manufaktor otomotif Indonesia mempunyai kesiapan untuk mengelaborasi pasar maupun model mobil dengan cantolan teknologi baru. Misalnya, terkait teknologi bahan bakar, pabrikan di Indonesia telah melengkapi fasilitas produksi untuk memenuhi standardisasi minimal Euro 4.

“Karena ini standar global, jadi sudah tidak masalah. Apalagi, kalau bicara populasi pasar, Indonesia sudah siap,” tegasnya.

Dari peta industri otomotif Asia Tenggara atau Asean, Indonesia masih berpredikat sebagai pasar paling gemuk.

Berdasarkan catatan ASEAN Automotive Federation (AAF), hingga November 2018, Indonesia menguasai 32,9% total pasar Asean yang mencapai 3,23 juta unit. Jumlah itu setara dengan 1,06 juta unit.

Pasar paling besar kedua tentunya Thailand. Hingga November tahun lalu, pasar Thailand mencapai 928.158 unit atau setara dengan 28,7% dari total pasar Asean.

Selebihnya, pasar terbesar di Asean terbagi antara Malaysia dan Filipina. Keduanya mencatatkan penjualan masing-masing sebanyak 550.526 unit dan 325.465 unit.

Di sisi lain, hitungan jumlah unit terjual di masing-masing negara berbeda dengan catatan produksi. Sejauh ini, Thailand merupakan negara Asean yang paling sanggup memproduksi mobil hingga 2 juta unit per tahun.

Petugas memasukkan mobil produksi PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) yang siap diekspor ke dalam kapal di IPC Car Terminal, PT Indonesia Kendaraan Terminal (IKT), Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara, Rabu (8/3/2017)./Bisnis.com

Sampai November 2018, volume produksi Thailand telah mencapai 1,99 juta unit. Adapun Indonesia, pada periode yang sama, baru mampu menghela sebanyak 1,24 juta unit.

Secara matematis, Indonesia hanya menyumbang 30,8% dari total produksi mobil di Asean yang mencapai 4,03 juta unit hingga November tahun lalu. Sementara itu, pada saat yang bersamaan, Thailand telah berkontribusi hingga 49,5%.

Di sisi lain, Indonesia pernah mempunyai riwayat sebagai basis produksi mobil-mobil yang kini merajai pasar global. Paling tidak dari pabrikan Toyota saja, sebelum krisis 1998 melanda, merek seperti Starlet, Camry, Corona, Corolla hingga Land Cruiser pernah digarap oleh pabrik di Indonesia.

CEPA dengan Australia tak lain sekadar momentum untuk mendongkrak angka ekspor. Jangan sampai, sewaktu kesepakatan berlaku, Indonesia tak memiliki peluru yang bisa memenangkan perdangangan bebas bilateral tersebut, salah satunya dari industri otomotif.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
fokus, kerja sama perdagangan, Ekspor Mobil

Editor : Annisa Margrit
KOMENTAR


0 Komentar
Urut berdasarkan

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top