Menebak Investasi Hyundai di Indonesia

Kinerja global pabrikan asal Korea Selatan, Hyundai Group, tengah memburuk. Namun, pemain otomotif besar itu menjanjikan sejumlah investasi di Indonesia.
Kahfi | 07 Januari 2019 12:26 WIB
Logo Hyundai. - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA -- Pada Desember 2018, Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mengungkapkan Hyundai Motor Corporation (HMC) sanggup menggelontorkan dana sebesar US$880 juta untuk berinvestasi di Indonesia. Nilai itu bukan jumlah kecil untuk mendirikan pabrik mobil.

Sebagai perbandingan, Wuling Motors selaku pendatang anyar hanya menggelontorkan dana senilai US$700 juta. Bermodal dana itu, perusahaan asal China ini mendirikan pabrik di lahan seluas 60 hektare (ha) dan kapasitas produksi mencapai 150.000 unit per tahun.

Oleh karena itu, investasi Hyundai cukup menggambarkan keseriusan mereka di Indonesia. Pabrikan yang menaungi merek KIA dan Hyundai itupun memperkirakan pabrik bisa mencetak 250.000 unit mobil dalam setahun.

Lebih mantap, Hyundai hanya menyisihkan 47% dari total produksi untuk pasar domestik Indonesia dan sisanya dikapalkan ke pasar regional dan Australia. Informasi tersebut disampaikan Direktur Jenderal (Dirjen) Industri, Logam, Mesin, Alat Transportasi, dan Elektronika (ILMATE) Kemenperin Harjanto kepada Reuters, belum lama ini.

Hyundai Motor Group mengembangkan teknologi di tiga bidang robotik./Hyundai

Sebaliknya, Presiden Direktur Hyundai Motor Indonesia (HMI) Mukiat Sutikno justru belum buka suara banyak. Dia mengaku belum mendapatkan arahan langsung dari HMC terkait rencana realisasi investasi ini.

“Karena terus terang ketika mereka [Kemenperin dan HMC] ketemu kami tidak ikut, mungkin waktu itu diskusi tentang angka atau lainnya. Kami belum dapatkan pernyataan resmi dari HMC,” ujarnya kepada Bisnis.com, baru-baru ini.

Hanya saja, Mukiat mengaku minat HMC untuk berinvestasi sangat kuat. Lebih-lebih untuk mencuri kue mobil penumpang di dalam negeri yang dianggap cukup gemuk.

Pada prosesnya, HMC dikabarkan tengah menyusun tuntutan insentif kepada pemerintah.

Di sisi lain, kinerja global Hyundai sebenarnya masih dirundung kelabu. Pertumbuhan penjualan merek Hyundai di negaranya sendiri hanya tumbuh tipis sebesar 4,7% secara year-on-year (yoy) pada 2018, dengan total penjualan sebanyak 721.078 unit.

Berdasarkan data yang sama, yakni Sales Result Hyundai Motors 2018, penjualan di luar Korea Selatan (Korsel) hanya mencapai 3,86 juta unit. Torehan itu naik tipis 1,3% dibandingkan dengan capaian pada tahun sebelumnya yang sebanyak 3,81 juta unit.

Sementara itu, kinerja finansial menunjukkan penurunan. Berdasarkan laporan keuangan perseroan per kuartal III/2018, Hyundai mencatatkan penjualan senilai 71,58 triliun won atau 0,4% lebih rendah dari realisasi periode yang sama tahun sebelumnya yang sebesar 71,87 triliun won.

Sayangnya, ongkos produksi dan operasional juga tak mampu dikendalikan sehingga pendapatan operasional harus terpangkas 49,43% secara yoy menjadi 1,92 triliun won dari sebelumnya 3,79 triliun won.

Alhasil, laba bersih sang raksasa Negeri Ginseng pun terjungkal. Dari 3,25 triliun won pada kuartal III/2017, raihan laba bersih menciut 43,29% menjadi 1,84 triliun won pada kuartal III/2018.

Dengan kinerja yang tak cemerlang dan belum adanya pernyataan resmi dari HMC maupun HMI, pertanyaan tentang kelanjutan rencana investasi di Indonesia pun masih jadi pertanyaan. Apalagi, perusahaan tersebut baru saja menyuntikkan dana US$250 juta, sekitar Rp3,7 triliun, ke Grab.

Selain itu, secara ekonomis, Indonesia masih jauh dari skala bisnis Hyundai. Penjualan mobil mereka di Tanah Air masih terhimpit dari pabrikan Jepang, China, dan Eropa.

Data Gaikindo menunjukkan bahwa penjualan ritel Hyundai hanya 1.349 unit, atau 0,1% dari total pasar, pada periode Januari-November 2018.

Lobi Investasi

Meski demikian, keraguan terhadap Hyundai Group bisa saja ditangkis. Pasalnya, pelobi agar Hyundai Group berinvestasi melibatkan para pejabat tinggi.

Selain dilakukan bersamaan dengan kunjungan Presiden Joko Widodo ke Korsel beberapa bulan lalu, lobi pun dikawal jajaran menteri.

Awal September 2018, Menteri Koordinator (Menko) Bidang Perekonomian Darmin Nasution memanggil Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto dan Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Thomas Lembong. Pembahasan ketiganya secara khusus meliputi kelanjutan rencana investasi Hyundai Group.

Persoalan kemudian, hingga pergantian tahun, belum terdapat sinyal terbaru. Seorang sumber Bisnis.com di BKPM menyatakan sejauh ini beberapa lembaga meneken semacam nota confidential dengan Hyundai.

Maksud dari perjanjian itu adalah agar perkembangan proses investasi tak terekspose terlampau riuh di publik. Hyundai menganggap rencana investasi ini cukup sensitif, khawatir strategi korporat telanjur telanjang, dan mudah diketahui rival.

Hal lain, kerahasiaan informasi juga bertujuan agar proses pembangunan pabrik kelak lancar, tanpa gangguan, terutama menghapus rintangan spekulan tanah.

“Jadi memang ditangani para petinggi,” kata sumber tersebut.

Hyundai Kona./Hyundai

Rencana Bisnis

Kolumnis Bloomberg Anjani Trivedi menilai apapun rencana Hyundai Group pada tahun ini terlampau ambisius. Kolumnis yang mempunyai spesialisasi riset korporasi Asia itu menyinggung target ambisius Hyundai Group, yang antara lain berupa penjualan periode 2019 sebesar 7,6 juta unit.

Padahal, persoalan utama Hyundai tak lain strategi penjualan dan efisiensi ongkos produksi serta penjualan. Apalagi, terkait target masa depan Hyundai yang berencana mengembangkan 44 model mobil listrik, hal itu tak akan menolong perusahaan bertahan di tengah persaingan otomotif global.

Target-target tersebut dianggap hanya untuk menyenangkan investor. Sebab, pada faktanya, Hyundai Group berhadapan dengan persoalan konkret yakni melambungnya ongkos produksi dan penjualan serta strategi pemasaran yang kurang cakap.

Namun, sebagaimana ditulis Anjani, jajaran petinggi Hyundai Group lebih banyak menganalisis faktor eksternal sebagai pemicu kinerja yang pincang. Beberapa alasan yang dikemukakan yaitu efek proteksionisme dari beberapa negara yang menghambat perdagangan serta ketidakstabilan sektor keuangan.

Sikap tersebutlah yang hendaknya disingkirkan. Sebagaimana rencana investasinya di Indonesia, cepat atau lambat, hanya Hyundai yang tahu.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
hyundai, fokus

Editor : Annisa Margrit
KOMENTAR


0 Komentar
Urut berdasarkan

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top